Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 93


__ADS_3

Riko berjalan menuju kamar Novi kekasihnya. Secara tidak sengaja Riko berpapasan dengan Lona yang baru saja keluar dari kamar Novi. Riko baru saja ingin menyapa Lona, namun Lona tidak menyadari kalau sedang berpapasan dengan Riko. Dengan wajah cemberut Lona melangkah keluar dari cottage. Riko berpikir terjadi pertengkaran antara Novi dan Lona. Riko segera bergegas menuju kamar Novi.


Tok tok tok...


“Siapa?” Tanya Novi dengan suara agak keras.


“Ayang bebeb Riko.” Sahut Riko.


“Ayang bebeb?” Novi segera berdiri dan membuka pintu kamarnya.


“Kita keliling pulau yuk beb?” Ajak Riko.


“Okee. Aku pakai sunblock sebentar yaa beb?” Balas Novi kembali ke kamarnya memakai sunblock.


Riko dan Novi kemudian menemui teman-temannya yang lain yang sudah berada di taman depan cottage tempat mereka menginap. Mereka sepakat untuk berkeliling pulau bersama.


Fandi dan Riko memakai celana pendek selutut, sedangkan Jery dan Rio memilih memakai celana jogger panjang. Para wanita mengenakan gaun pantai, kecuali Eka yang nyaman dengan kaos oblong dan celana pendeknya.


“Lona mana?” Tanya Rani yang heran tidak melihat tanda-tanda keberadaan Lona.

__ADS_1


“Lona kan sekamar sama kamu Nov?” Eka pun ikut bertanya kepada Novi dengan tatapan penasaran.


“Au aah!!" Balas Novi sambil celingak celinguk.


“Udah, ayo kita jalan sekarang!” Ajak Riko memulai langkahnya.


Dua jam berkeliling, mereka mulai merasa capek dan akhirnya masuk ke sebuah restoran yang ada di pulau tersebut.


Riko dan Novi yang paling tidak sabar. Mereka segera memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.


“Aduuh, gue udah lama gak makan seafood. Karena kesibukkan jadi sering makan yang cepat saji.” Ujar Jery sedang melihat buku menu.


‘Seafood? Makanan kesukaan Jingga.' Batin Fandi. Ia teringat kembali moment dimana ia makan bersama Jingga di restoran seafood favorit Jingga. Mereka saling suap-suapan waktu itu.


“Gue gak ikut makan Rik. Gue mau cari udara segar dulu di pantai.” Fandi meninggalkan Riko dan teman-temannya.


‘Pasti Fandi teringat Jingga lagi.’ Batin Riko. Riko memperhatikan langkah kaki Fandi yang tampak lesu.


*****

__ADS_1


Fandi duduk di tepi pantai. Pantai yang indah, airnya yang jernih dan pasirnya yang putih. Langit biru pun benar-benar memanjakan mata yang memandangnya.


“Andai kamu disini Jingga. Kamu pasti takjub dengan semua keindahan ini. Aku berharap suatu hari nanti bisa membawamu ke pulau ini.” Ucap Fandi menatap ke depan ke arah laut.


Secara tidak sengaja Lona yang cemberut berjalan sendirian melihat Fandi duduk di bibir pantai seorang diri. Lona segera menghampirinya. Lona sepertinya tidak patah semangat untuk mendekati Fandi. Lona yang memakai gaun pantai berwarna kuning terlihat anggun.


“Fandi, kamu sendirian?” Tanya Lona. Fandi terkejut melihat Lona yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


“Lona, kamu kenapa ada disini?” Tanya Fandi heran.


“Aku sedang jalan sendirian mencari udara segar. Terus gak sengaja lihat kamu duduk disini.” Jawab Lona tersenyum menatap Fandi.


“Ooh..” Balas Fandi kembali menatap ke depan.


“Fandi, kamu pasti kangen sekali sama Jingga?” Tanya Lona penasaran.


“Hhhmmm... Aku benar-benar sangat merindukannya.” Fandi menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Lona.


“Aku bisa melihat dari matamu kalau kamu begitu mencintai Jingga, tapi apa kamu yakin Jingga juga punya cinta sebesar yang kamu punya?” Pertanyaan Lona kali ini membuat Fandi tersentak. Dadanya terasa sesak. Entah kenapa ia mulai merasa ragu dengan kata cinta yang pernah di ucapkan Jingga padanya.

__ADS_1


“Aku punya keyakinan yang kuat kalau Jingga juga mencintai aku sebesar ini. Kamu tidak akan paham. Karena kamu tidak mengenal Jingga.” Jawab Fandi datar. Ia seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.


*****


__ADS_2