Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 180


__ADS_3

Seminggu lagi Fandi dan Jingga akan melangsungkan pernikahan. Semua persiapannya sudah rampung. Hanya tinggal menunggu hari H.


Di suatu siang, Jingga sengaja datang ke hotel Star untuk mengajak Fandi makan siang. Tak di sangka Fandi sedang menerima tamu yang tidak di undang.


Tok tok tok..


“Masuk!” Sahut Fandi dari dalam ruangannya.


“Fandi..” Sapa wanita yang tak lain adalah Laura.


“Laura?” Fandi terkejut dengan kedatangan Laura, matanya terbelalak tak percaya.


“Aku boleh duduk?” Tanya Laura melirik kursi yang berada di hadapannya.


“Ii..iyaa.. Silahkan!” Fandi sedikit gugup ketika mempersilahkan Laura.


“Kamu apa kabar? Lama tidak berjumpa?” Tanya Laura basa basi.


“Aku baik. Kamu sendiri?” Fandi mengernyitkan dahinya melihat ke arah perut Laura yang sudah membuncit. Rupanya Laura tengah hamil besar.


“Aku.. Iya, seperti inilah..” Jawab Laura memegangi perutnya.

__ADS_1


“Ooh.. iya, Sam mana?” Tanya Fandi sedikit penasaran.


“Sam? Aku gak tahu. Aku sudah lost contact sama Sam.” Jawab Laura datar.


“Bukankah waktu itu kalian akan menikah?” Tanya Fandi lagi. Kali ini Fandi semakin penasaran.


“Aku dan Sam tidak menikah. Aku hamil dan Sam tidak mau ada pernikahan di antara kami. Setelah itu Sam menghilang.” Jawab Laura berusaha tampak tegar.


“Maaf Laura.. Maksud kamu Sam tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanmu?” Fandi mengernyitkan dahinya mulai merasa kasihan pada Laura. Walau bagaimanapun Laura pernah menjadi istrinya. Meski tidak pernah saling mencintai, namun Fandi cukup perduli pada Laura.


“Iya, begitulah kenyataannya Fandi.” Jawab Laura berusaha untuk tersenyum.


“Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan?” Fandi menatap penuh tanya.


“Apa?” Fandi terkejut mendengar perkataan Laura. Sesaat ia menatap Laura.


“Iya Fandi. Beri aku kesempatan. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Aku tidak akan mengecewakan lagi.” Lanjut Laura meyakinkan Fandi.


“Hhmmm.. Maaf Laura. Itu sangat sulit. Kamu sendiri tahu kalau kita tidak pernah saling menyukai, apalagi mencintai. Bagaimana mungkin kita bisa hidup kembali dalam ikatan pernikahan?” Jelas Fandi.


“Tapi tidak ada salahnya kamu memberi aku kesempatan Fandi. Kali ini aku tidak akan mengecewakan.” Laura masih mencoba meyakinkan Fandi agar mau menerimanya.

__ADS_1


“Tidak Laura. Aku tidak bisa. Sebentar lagi aku akan menikah. Dan itu dengan orang yang sangat aku cintai. Aku tidak mungkin bisa bersama kamu.” Balas Fandi memberi pengertian pada Laura.


“Kamu akan menikah? Kamu bisa batalkan pernikahan itu Fandi.” Ujar Laura tak mau kalah.


“Itu tidak mungkin. Aku akan menikahi wanita yang sangat aku cintai selama ini. Aku tidak mungkin membatalkan pernikahan itu.” Balas Fandi mulai menatap sinis ke arah Laura.


Tidak berapa lama kemudian, Jingga masuk ke dalam ruangan Fandi. Seperti biasa Jingga langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Jingga melihat Laura yang sedang duduk di hadapan Fandi. Jingga memperhatikan Laura dengan seksama. Timbul banyak pertanyaan dalam benaknya.


‘Siapa wanita ini?’ Jingga bertanya-tanya dalam hatinya.


“Jingga.. Kamu sudah datang sayang?” Fandi menghampiri Jingga. Raut wajah Fandi kelihatan gugup.


“Dia siapa Fandi?” Tanya Laura melirik Laura.


“Hhhmmm..” Fandi masih gugup. Tidak ada satu kata-kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia bingung harus mengatakan apa.


“Aku Laura.” Laura berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Jingga dan menyalaminya.


'Laura? Itu artinya wanita ini adalah mantan istri Fandi.' Batin Jingga.


“Ooh.. Haii.. Aku Jingga.” Balas Jingga menyalami Laura.

__ADS_1


*****


__ADS_2