Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 23


__ADS_3

“Hai.. kak Fiki!” Jingga menyapa Fiki dan tersenyum lebar sembari berlalu keluar dari cafe bersama Windy. Fiki seketika terkejut berpapasan dengan Jingga dan matanya terbelalak. Fiki tidak menyangka akan secepat itu ketahuan oleh Jingga.


“Haahahahaa.. Liat tampang si Fiki.” Windy tertawa sambil sesekali menoleh ke belakang melihat Fiki.


“Iyaa cing. Kita harus main cantik.” Ujar Jingga mengedipkan matanya.


Jingga memutuskan untuk tetap tenang menyikapi apa yang sedang ia lihat. Jingga tidak ingin terlihat bodoh sebagai perempuan. Karena dirinya paham betul laki-laki seperti Fiki, tidak pantas untuk di tangisi. Mereka bergegas keluar dari Mall.


“Hahahaaa.. Aku masih teringat sama tampang bodoh si Fiki tadi mpus.” Windy masih tertawa dengan kejadian yang baru saja mereka alami.


“Hahahaaa.. Kamu masih saja bahas itu cing.” Jingga ikutan tertawa mengingat kejadian tadi.


“Gila! Aku pikir kamu bakalan labrak mereka. Terus nangis-nangis kayak di sinetron-sineteron.” Ujar Windy masih tertawa.


“Ooh.. Gak lah cing. Aku? Nangis untuk cowok brengsek kayak Fiki? Oooh No!” Balas Jingga bicara mantap dengan nadanya yang santai.

__ADS_1


“Oke Oke.. Menurut kamu besok dia bakal minta maaf sama kamu dan berkilah?” Tanya Windy serius, seketika mereka langsung berhenti tertawa.


“Aku gak tahu. Kalaupun iya.. Aku tetap dengan prinsipku.” Jingga merangkul sahabatnya.


“TIDAK ADA TEMPAT UNTUK PLAYBOY DALAM HIDUPKU!!!” Mereka serentak mengucapkan kalimat itu dan kemudian tertawa terbahak-bahak.


“Mantap mpus. Kamu gak sedih ternyata? Kamu beneran belum jatuh cinta sama Fiki?” Tanya Windy menatap serius.


“Jujur cing. Jangankan jatuh cinta sama Fiki, suka sama dia pun aku belum. Aku kan sudah bilang dari awal terima dia juga karena gak enak sama Sonya temanku. Lagian pacaran sama Fiki lumayan bisa mengirit semuanya, kan di antar jemput tiap hari plus makan di bayarin terus pas di sekolah. Heheheee...” Jingga menjelaskan secara detail awal mula alasan ia berpacaran sama Fiki sambil cengengesan.


“Makanya aku juga heran mpus. Setahu aku Fiki bukan tipe kamu deh. Selain gayanya over, tampangnya juga playboy banget.” Lanjut Windy menilai Fiki dari sudut pandangnya sendiri.


“Iyaa.. Aku tau. Kamu suka yang manis dan kalem orangnya. Kayak si Robi ketua OSIS itu kan? Wkwkwkwkk...” Windy tertawa cekikikan sesekali menutup mulutnya.


“Sial kamu! Apalagi itu gak banget banget. Malah sok kegantengan.” Jingga lagi-lagi mencibir.

__ADS_1


“Saking gantengnya satu sekolah naksir dia ya?” Windy ikut-ikutan.


“Padahal cuma perasaan dia saja. Wkwkwkwkk...” Jingga mulai lagi dengan ledekannya.


Selama perjalanan mereka tertawa sepuasnya menceritakan para cowok playboy seperti Fiki. Windy tidak menyangka akhirnya sahabatnya itu bisa tertawa lepas lagi setelah berminggu-minggu larut dalam kesedihan di tinggal kedua orang tuanya.


“Mpus, aku senang banget.” Tiba-tiba Windy menghentikan lelucon mereka dan mulai tersenyum menatap Jingga.


“Kenapa? Kamu senang karena kita sama-sama jomblo lagi?” Jingga lagi-lagi masih melucu.


“Aku serius mpus.” Balas Windy memanyunkan bibirnya.


“Oke.. Kamu senang kenapa? Aku sudah serius.” Jingga berhenti tertawa dan menatap serius ke arah Windy.


“Udah berminggu-minggu kamu sedih dan menangis terus. Akhirnya sekarang aku bisa lihat kamu tertawa lepas.” Windy mencubit kedua pipi Jingga dan lanjut tertawa lagi.

__ADS_1


“Auuwww..” Jingga meringis kesakitan sambil memegang kedua pipinya. Jingga tak mau kalah. Dan langsung membalas Windy dengan menggelitikinya. Pak supir yang melihat mereka hanya geleng-geleng kepala tersenyum.


*****


__ADS_2