Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 169


__ADS_3

Flashback (Jingga)


Jingga menyusuri jalanan bersama anaknya Dirga. Tak terasa Dirga sudah mulai tertidur di gendongannya. Jingga tampak putus asa, ia tidak punya tujuan harus kemana lagi. Ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Dirga. Tadinya ia berpikir bisa kembali pada Fandi dan memperbaiki semua kesalahan di masa lalu. Namun takdir memaksanya untuk menelan pil pahit kalau ia dan Fandi memang tidak berjodoh.


‘Aku harus kemana lagi? Dirga maafkan mama.’ Gumam Jingga dalam hatinya sembari memandangi wajah Dirga yang tertidur pulas dalam gendongannya.


Sebuah mobil sedan berhenti tepat di sampingnya. Jingga tampak ketakutan. Seorang pria yang tak lain adalah Ferdinan turun dari mobil itu. Ferdinan mengenakan perban di kepalanya, karena kepalanya memang terluka di pukuli oleh Jingga. Ferdinan dengan bantuan supirnya menarik Jingga memaksanya masuk ke dalam mobil. Jingga tidak bisa berontak, akhirnya ia pasrah.


Dalam perjalanan Jingga hanya diam. Selain takut, Jingga juga masih kepikiran tentang omongan bapak tadi yang memberitahunya kalau Fandi menikah hari itu. Pikirannya sangat kacau.


“Ayo turun!” Suara Ferdinan terdengar membentak.


Tanpa menoleh ke arah Ferdinan, Jingga turun dari mobil. Jingga masih diam dengan raut wajah yang datar tanpa ekpresi.


“Hastari, cepat lu kesini!” Sahut Ferdinan.

__ADS_1


“Ii..iya mas.” Hastari berlari dan terkejut melihat Jingga sudah bersama Ferdinan.


“Lu bawa anaknya masuk ke kamar.” Lanjut Ferdinan menunjuk Dirga yang masih berada dalam gendongan Jingga.


Hastari menatap Jingga dengan tatapan iba. Segera Hastari mengambil Dirga dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Jingga masih terdiam. Ia seperti tak memiliki semangat lagi untuk menanggapi semua yang di ucapkan oleh Ferdinan. Ferdinan memaki-makinya, mengata-ngatainya dengan bahasa yang buruk dan kasar. Jingga tetap diam. Melihat Jingga yang tak merespon, Ferdinan kembali memukuli Jingga. Ia di seret masuk ke dalam rumah dengan rambut di jambak. Jingga tetap diam tak melakukan perlawanan.


“Lu kesambet? Dari tadi bengong kayak orang stres.” Celoteh Ferdinan masih menjambak rambut Jingga.


Ferdinan berkali-kali membenturkan kepala Jingga ke tembok. Jingga seperti pasrah tidak ingin lagi membela dirinya. Terbesit di pikiran Ferdinan ingin menyetubuhi Jingga.


Ferdinan kembali menyeret Jingga masuk ke sebuah kamar. Jingga tetap tak ada perlawanan. Ferdinan mulai membelai tubuhnya. Saat Ferdinan mencoba merebahkan Jingga ke ranjang, barulah Jingga menolak.


“Bapak mau apa?” Tanya Jingga ketakutan.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Kamu berbaring saja!” Bujuk Ferdinan kembali mencoba merebahkan Jingga ke atas ranjang.


“Saya gak mau pak.” Balas Jingga.


“Sekali ini saja ya? Lu pasti senang, gua jamin lu pasti akan puas.” Bujuk Ferdinan lagi. Kali ini Ferdinan mulai menciumi leher Jingga.


“Saya gak mau pak.” Hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Jingga. Tubuhnya seolah tak punya daya lagi untuk menghindar.


“Sssstttt.. Tenang saja! Lu gak akan nyesal.” Ferdinan sudah mulai meraba-raba tubuh Jingga.


“Tolong pak! Saya gak mau.” Jingga berkali-kali meminta Ferdinan untuk melepaskannya. Tubuhnya seperti tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan diri dari Ferdinan.


“Pokoknya kali ini lu harus mau berhubungan sama gua. Lu istri gua, lu harus jadi budak nafsu gua. Ayo sayang! Gua sudah gak sabar lagi menggerayangi tubuh lu yang indah itu.” Ferdinan semakin bernafsu menatap Jingga. Jingga menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Ferdinan terus berusaha menarik tangan Jingga.


“Ayo sayang! Lu pasti menjerit keenakkan. Setelah ini lu akan ketagihan minta lagi sama gua. Ayolah! Jang bod*h!” Lanjut Ferdinan mulai memaksa dengan kekerasan.

__ADS_1


Ferdinan mulai emosi, karena Jingga masih saja terus menolaknya. Ferdinan kemudian menarik rambut Jingga dan kembali membenturkan kepalanya ke tepi ranjang. Jingga merasakan ada sesuatu yang mengalir dari lubang hidungnya. Ternyata ada darah segar yang mengucur dari hidung Jingga. Jingga mulai merasa pusing, tapi ia berusaha untuk tetap sadar. Ia tidak ingin Ferdinan menidurinya kalau ia sampai pingsan.


*****


__ADS_2