
Fandi memutuskan untuk turun hendak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saat mendekati keramaian, Fandi melihat anak laki-laki berumur 5 tahun yang sangat lucu dan tampan. Anak itu sedang menangis memeluk tubuh sang ibu.
Anak itu mendekap wajah ibunya sehingga tertutup oleh tubuhnya. Fandi mendekati anak kecil tersebut mencoba menenangkannya.
Salah seorang yang menyaksikan kejadian itu memberitahu Fandi jika ibu sang anak itu masih bernafas.
“Adek, kita bawa mamanya ke rumah sakit ya?” Bujuk Fandi pada anak kecil tadi.
Anak kecil itu hanya menatap Fandi. Air matanya bercucuran. Terlihat dari matanya betapa ia sangat menyayangi ibunya dan tak ingin kehilangannya.
“Kamu namanya siapa?” Tanya Fandi mengusap rambut si anak.
“Dirga om.” Jawab anak itu sembari menyeka air matanya.
“Kita bawa mama Dirga ke dokter ya biar bangun dan bisa main lagi sama Dirga.” Bujuk Fandi lagi.
Akhirnya Dirga melepaskan wajah ibunya dari dekapannya. Betapa kagetnya Fandi, ternyata wanita yang sedari tadi dalam dekapan anak kecil itu adalah wanita yang sangat ia cintai. Jingga, ternyata Dirga adalah anak Jingga.
__ADS_1
“Jingga.” Fandi mengangkat kepala Jingga. Suaranya tercekat masih tak percaya kalau wanita itu ternyata adalah Jingga wanita yang sampai saat itu masih sangat ia cintai.
Tanpa pikir panjang Fandi mengangkat tubuh Jingga. Fandi menggendong Jingga menuju mobilnya. Tidak lupa Fandi juga membawa Dirga bersamanya.
“Pak, tolong cepat ke rumah sakit terdekat.” Ujar Fandi dengan paniknya.
Fandi mendekap Jingga dalam pelukannya yang erat. Sementara Dirga merebahkan kepalanya ke perut sang ibu.
“Om siapa? Om bukan orang jahat kan?” Tanya Dirga dengan polosnya menatap Fandi. Dirga sempat mendengar Fandi menyebut nama mamanya.
“Tidak apa-apa sayang. Om ini teman mama kamu.” Jawab Fandi kembali mengusap kepala Dirga.
*****
Sesampainya di rumah sakit, Fandi segera meminta perawat untuk segera membawa Jingga ke ruang pemeriksaan. Fandi tampak sangat cemas dengan kondisi Jingga. Meski ia bukan siapa-siapa lagi bagi Jingga, namun perasaan khawatirnya tetap ada. Karena memang kenyataannya ia masih sangat mencintai wanita yang terbaring lemah itu.
Fandi menatap dalam-dalam anak laki-laki bernama Dirga itu yang tak lain adalah anak Jingga. Mata bocah kecil itu tampak sembab karena terlalu lama menangis. Fandi memeluk Dirga. Meski bukan anaknya, Fandi merasa ingin menyayangi anak itu.
__ADS_1
“Dirga sudah makan?” Tanya Fandi tersenyum sembari mengusap kepala Dirga.
“Belum om.” Dirga menggelengkan kepalanya. Mata polosnya seolah mengatakan bahwa dirinya sangat lapar.
“Ayo kita makan dulu!” Fandi memegang tangan Dirga dengan lembut sambil mengajaknya untuk mencari warung makan sekitar rumah sakit.
Fandi berusaha mengajak Dirga untuk mau bercerita padanya. Dirga bercerita kalau ia sangat suka makan ayam crispy. Tanpa berpikir lagi, Fandi mengajak Dirga masuk ke mobilnya untuk mencari makanan kesukaan Dirga itu.
Mereka masuk ke sebuah restoran cepat saji yang terkenal dengan ayam crispy sebagai menu andalannya. Fandi hanya memesan 1 porsi untuk Dirga, karena Fandi merasa masih kenyang.
“Dirga, ini ayamnya. Dirga makan yang banyak ya.” Fandi meletakkan makanan kesukaan Dirga tersebut di atas meja.
Dirga hanya melirik makanannya itu. Ia masih tampak sungkan untuk menyantapnya. Fandi tersenyum menatap bocah kecil itu.
“Ayo dimakan! Tidak apa-apa. Dirga jangan malu.” Fandi membujuk Dirga agar mau menyantap makanan di hadapannya.
“Terima kasih om.” Dirga melirik Fandi sebelum akhirnya menyantap makanannya.
__ADS_1
Fandi memandangi Dirga yang sedang makan dengan lahapnya. Dirga sangat menikmati makanan tersebut seolah-olah sudah sangat lama tidak makan enak lagi seperti itu. Fandi hanya tersenyum melihat anak Jingga itu.
*****