
Setelah pesanan mereka siap, mereka memutuskan untuk kembali kosan bersama. Kebetulan mereka tinggal di lingkungan yang sama juga.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa tiba-tiba sudah disini. Istrimu bagaimana?” Tanya Nita mulai penasaran.
“Sebenarnya aku dan Laura akan segera berpisah kak.” Jawab Fandi seadanya.
“Secepat itu?” Tanya Nita lagi tampak tak percaya.
“Iya kak.” Jawab Fandi lagi.
“Kamu yang sabar Fandi. Mungkin dia bukan jodohmu.” Balas Nita menenangkan Fandi.
“Tidak apa-apa kak. Kakak sendiri bagaimana? Kenapa ngekos? Bukankah seharusnya kakak sudah menikah?” Kali ini Fandi yang mulai bertanya pada Nita. Nita tertunduk diam, seolah tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Fandi.
“Kak Nita?” Fandi heran melihat Nita yang tiba-tiba saja terdiam.
__ADS_1
“Iya Fandi. Maaf. Sebenarnya aku tidak jadi menikah dengan tunanganku dulu.” Nita tampak ragu-ragu menjawab tanya Fandi.
“Maaf kak. Aku tidak bermaksud menyinggung.” Fandi merasa tidak enak hati, karena telah melontarkan pertanyaan yang pada akhirnya membuat Nita mulai sedih.
“Tidak apa-apa Fandi. Aku menikah dengan Rizki. Kamu tahu Rizki kan? Rekan sekantor kita juga.” Ujar Nita tersenyum berat.
“Bang Rizki? Waahh.. Aku tidak menyangka kalau kakak akhirnya menikahi bang Rizki.” Balas Fandi tersenyum.
“Tapi sekarang aku dan Rizki sedang bermasalah. Hampir 2 tahun menikah kami belum juga di karunia anak. Orang tua Rizki malah sering marah dan menyindirku, Rizki juga tidak berusaha untuk membelaku hingga aku merasa tidak kuat lagi. Akhirnya aku pergi dari rumah sampai sekarang. Aku tidak tahu lagi bagaimana nasib pernikahanku ke depannya.” Nita menjelaskan permasalahan rumah tangganya dengan sangat tegar. Tidak ada satu tetes air matanya yang tumpah.
“Sudah sampai kak. Aku masuk dulu.” Fandi masuk ke kamarnya, begitupun dengan Nita yang juga masuk ke kamarnya.
*****
Di dalam kamarnya, Fandi mengambil piring dan menuangkan air putih ke dalam gelas. Fandi membuka bungkusan makanannnya, kemudian menyantapnya dengan begitu lahapnya.
__ADS_1
“Sudah lama sekali aku tidak makan ini. Terakhir beberapa tahun lalu.” Ujar Fandi sembari melahap kembali makanannya.
Fandi menghabiskan makanannya dengan cepat, karena ia memang sudah sangat lapar. Setelah selesai, Fandi membuang bungkusannya ke dalam tong sampah. Kemudian meletakkan kembali peralatan makannya di dapur.
Fandi duduk di lantai dan bersandar pada sisi tempat tidurnya. Ia lalu membuka laptopnya, di dalam laptop masih banyak email yang belum di buka. Ia membuka email tersebut satu persatu. Ternyata semua email yang masuk berhubungan dengan perusahaan pak Irwan.
Fandi kemudian membalas email dari sekretarisnya. Fandi menjelaskan jika ia tak lagi bekerja di perusahaan itu. Tidak lupa Fandi memberitahu sekretarisnya bahwa Laura yang akan mengelola perusahaan tersebut.
Selesai membalas email, Fandi menutup laptopnya dan menaruhnya kembali di atas meja. Fandi mulai membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, karena sudah merasa letih.
“Uuhh.. Capeknya.” Keluh Fandi sambil menggeliatkan tubuhnya.
Tidak perlu menunggu lama akhirnya Fandi terlelap. Wajahnya tampak begitu sangat lelah. Besok Fandi akan kembali melanjutkan hidupnya seperti dulu lagi saat sebelum menikahi Laura. Ia berniat untuk mencari pekerjaan dengan bekal skill yang ia miliki sendiri.
*****
__ADS_1