
Flashback (Jingga)
Beberapa tahun menikah, Jingga tetap tak ingin melayani Ferdinan di ranjang. Jingga lebih rela di pukuli dan di maki-maki daripada harus memuaskan nafsu suaminya itu. Selain ia tidak mencintai Ferdinan, Jingga jijik dengan kebiasaan Ferdinan yang setiap malam berganti pasangan.
“Aku harus segera mengakhiri semua ini. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini. Aku tidak ingin mengambil resiko.” Ucap Jingga perlahan sambil menatap Dirga yang kini sudah berusia 3 tahun.
Selang beberapa menit kemudian, Ferdinan menghampiri Jingga. Tidak seperti biasa, Ferdinan hanya berdiri di depan pintu kamar Jingga.
“Segera siap-siap! Gua mau mengajak lu ke pesta pernikahan relasi gua.” Seru Ferdinan dengan tatapan sinis.
“Kenapa tidak mengajak mba Hastari saja.” Jingga bertanya balik pada Ferdinan. Seketika raut wajah Ferdinan berubah.
“Lu banyak omong ya? Sudah di kasih tempat tinggal dan makan enak, masih saja protes. Lu boleh saja gak mau melayani gua, tapi lu harus tahu diri juga tinggal di rumah ini. Selain kerja kayak pembantu lainnya di rumah ini, lu juga jangan keseringan protes sama gua. Dan khusus untuk malam ini tugas lu menemani gua datang ke acara ini. Gua gak mau malu-maluin dengan mengajak Hastari yang udah keriput dan tua. Sudah jangan banyak omong lagi! Segera bersiap-siap.” Ferdinan berlalu meninggalkan Jingga yang masih terpaku dengan perkataan Ferdinan.
‘Benar-benar bukan manusia.’ Umpat Jingga dalam hatinya.
__ADS_1
Saat sedang berhias, Ferdinan kembali menghampirinya di depan pintu kamarnya.
“Udah selesai belum?” Tanya Ferdinan melirik Jingga.
“Sudah pak.” Jingga bangkit dari duduknya.
Ferdinan tampak takjub melihat Jingga. Ferdinan memperhatikan penampilan Jingga dari atas sampai bawah. Jingga merasa risih dengan tatapan Ferdinan.
“Lu cantik, tapi sayangnya b*doh. Kenapa lu gak melayani gua saja? Gua jamin hidup lu akan bahagia. Lu gak rindu berhubungan int*m? Kalau lu mau melayani gua, gua janji akan membelikan lu rumah yang jauh lebih besar dari rumah ini. Gua bikinin restoran untuk lu dan apapun yang lu mau gua penuhi. Lu gak akan menderita lagi gua pukuli terus. Gimana?” Ujar Ferdinan kembali membujuk Jingga agar mau melayaninya.
“Dasar beg*? Percuma ngomong panjang lebar sama lu.” Ferdinan kembali pergi meninggalkan kamar Jingga.
*****
“Selamat datang Ferdinan, terima kasih sudah datang.” Seru seorang pria menjabat tangan Ferdinan.
__ADS_1
“Selamat juga atas pernikahan anak lu.” Balas Ferdinan ikut mengucapkan selamat.
“Ini siapa? Cantik sekali. Apa ini anak lu yang paling besar?” Tanya pria itu melirik Jingga.
“Ini istri muda gua.” Jawab Ferdinan nampak bangga.
“Waahh.. Hebat lu! Meski udah tua, bisa dapat daur muda juga. Hahahaa..” Celetuk pria itu sembari tertawa. Ferdinan pun ikut tertawa.
“Jangan bilang gua tua segala. Tua-tua seperti ini, tapi stamina gua masih joss. Makanya bisa dapat istri cantik dan muda kayak gini.” Ujar Ferdinan meninggi.
Sementara Ferdinan sedang asyik berbincang-bincang dengan para rekannya, Jingga memilih untuk menjauh dari Ferdinan. Ferdinan yang asyik berbincang tidak menyadari kalau Jingga sudah berdiri cukup jauh darinya.
Jingga memperhatikan di sekelilingnya banyak tamu yang hadir dari kalangan menengah ke atas. Sudah lama Jingga tidak pernah menghadiri pesta. Meskipun ia kurang suka suasana pesta, namun kali itu ia berusaha untuk menikmati suasananya.
*****
__ADS_1