Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 30


__ADS_3

Malam harinya Riko kembali datang ke warung tempat Fandi bekerja. Seperti biasa lagi-lagi Riko membawa martabak manis sebagai cemilan menemani obrolan mereka. Fandi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera menghampiri Riko.


“Mantap lu bawa martabak lagi.“ Puji Fandi seraya mengambil satu potong martabak dari dalam bungkusannya.


“Iya donk bro. Masa’ cuma ke rumah gebetan aja gue bawa martabaknya, ke tempat sohib juga donk. Heheheee..” Balas Riko cengengesan sambil memasukkan potongan martabak ke dalam mulutnya.


“Hahahhaaa.. Lu memang sohib yang paling top.” Puji Fandi lagi membuat hidung Riko mengembang beberapa senti.


“Hahahhaaa... Aahh lu bisa aja.” Balas Riko menyembunyikan rasa bangganya.


“Ngomong-ngomong soal gebetan. Lu udah jadian sama Intan?” Tanya Fandi. Intan adalah adik kelas yang sedang di dekati Riko.


“Gue di tolak lagi bro. Ini udah yang ke 17 kalinya gue di tolak sama cewek. Hiks hikss...” Riko merengek memegangi kepalanya.


“Sabar, nanti juga ada cewek yang mau sama lu.” Ujar Fandi menenangkan Riko.


“Tapi kenapa para gadis gak suka sama cowok yang punya perut seksi seperti gue ini bro?” Tanya Riko sambil menunjukkan perutnya yang buncit.

__ADS_1


“Itulah bodohnya para gadis yang menolak lu. Padahal itulah kelebihan lu.” Fandi mengeluarkan kalimat andalannya menenangkan Riko tiap kali di tolak oleh cewek.


“Gue berharap cewek yang ke 18 gak bakalan nolak gue.” Riko merentangkan tangannya menengadah ke atas.


“Amin.. Nanti pasti ada cewek yang mau terima lu apa adanya.“ Fandi merangkul bahu Riko kembali menenangkan sahabatnya itu.


“Ooh iya bro, kenapa lu gak pacaran aja dulu bro?” Tiba-tiba Riko bertanya dan menatap Fandi penasaran.


“Pacaran?” Fandi balik bertanya, karena terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba di lontarkan Riko.


“Yoii bro, Pacaran.” Balas Riko membenarkan.


“Iya bagus kalau pacaran sama Jingga langsung. Tapi kan masalahnya lu merasa belum layak buat gadis impian lu itu.” Lanjut Riko dengan tampang yang agak serius kali itu.


“Iya emang. Terus maksud lu pacaran bagaimana?” Tanya Fandi lagi mulai sinis menatap Riko.


“Maksud gue lu pacaran aja dulu sama cewek lain selagi lu mempersiapkan diri lu menjadi layak untuk Jingga.” Riko menjelaskan maksudnya secara gamblang. Seketika Fandi menunduk.

__ADS_1


“Gak.” Balas Fandi singkat seraya mengangkat kepalanya menatap Riko.


“Kenapa gak bro?” Tanya Riko dengan wajah bingung.


“Karena bagi gue jatuh cinta itu cukup sekali dan itu ya sama Jingga.” Jawab Fandi mantap membuat Riko melongo.


“Aahh.. itu gak adil namanya bro.” Riko berdiri dari duduknya.


“Gue gak perduli.” Jawab Fandi cuek.


“Gak adil bro. Jingga sekarang bebas pacaran. Gonta ganti pacar setiap saat. Menikmati masa SMAnya seperti anak lainnya. Sementara lu?” Riko menatap Fandi meyakinkan bahwa Fandi juga harus berpacaran.


“Gue gak perduli Rik. Hati gue cuma buat Jingga. Lagian gue gak mungkin mempermainkan cewek lain dengan berpacaran sama mereka sementara hati gue buat Jingga. Itu gila namanya.” Ujar Fandi dengan suara lantang. Ia tidak pernah berpikir akan melakukan hal bodoh seperti itu.


“Terus lu mau jomblo terus sampai lu akhirnya merasa layak untuk dia?” Tanya Riko penasaran.


“Jingga motivasi gue sampai saat ini. Karena dia akhirnya mimpi gue sedikit demi sedikit bisa gue raih. Sedikit lagi Rik.” Jawab Fandi yakin.

__ADS_1


“Semangat bro.” Lagi-lagi Riko tak berkutik mendengar jawaban Fandi.


*****


__ADS_2