Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 94


__ADS_3

“Maaf Fandi. Aku tidak bermaksud meragukan kesetiaan Jingga. Hanya saja aku mengutarakan apa yang ada di dalam pikiranku.” Ujar Lona. Sejujurnya Lona tidak ingin membuat Fandi marah, tapi Lona ingin Fandi mencoba membuka hati untuknya.


“Itu kamu Lona! Jingga tidak seperti itu. Jangan samakan Jinggaku dengan dirimu.” Fandi akhirnya tidak dapat menahan emosinya lagi. Ia meluapkan kekesalannya atas pertanyaan Lona yang selalu menyudutkan Jingga.


“Sekali lagi aku minta maaf Fandi.” Balas Lona menangis. Lona merasa benar-benar telah di tolak mentah-mentah oleh Fandi.


‘Selama ini belum pernah sekali pun ada pria yang berani menolak apalagi membentakku.’ Keluh Lona dalam hati. Lona berlari meninggalkan Fandi.


Fandi seketika tersadar kalau kata-katanya terlalu berlebihan pada Lona. Ia juga merasa bersalah telah membentak Lona. Bahkan membuat Lona sampai menangis.


‘Apa yang aku lakukan? Kenapa aku melampiaskan kekesalanku atas kebodohanku sendiri pada Lona?’ Batin Fandi. Fandi berniat ingin meminta maaf pada Lona. Ia pun mencoba mengejar Lona dan memanggilnya.


“Lona Lona.” Panggil Fandi.


‘Fandi, sepertinya itu suara Fandi memanggilku.’ Gumam Lona dalam hati. Lona menoleh ke belakang dan benar saja Fandi sedang mengejarnya. Lona segera menghentikan langkah kakinya.


“Fandi, ada apa?” Tanya Lona mulai tersenyum dan menghapus air matanya.


“Aku minta maaf.” Jawab Fandi dengan napas tersenggal-senggal karena berlari mengejar Lona.


“Minta maaf?” Tanya Lona tak percaya.

__ADS_1


“Iyaa, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku membentak kamu. Maaf!” Ujar Fandi mulai mengatur nafasnya.


“Tidak Fandi, kamu tidak salah. Aku yang terlalu memaksakan pemikiranku.” Balas Lona tersenyum menatap Fandi.


“Sebagai permintaan maafku. Ayo kita cari makan!” Ajak Fandi membalas senyuman Lona.


“Iya.” Lona tampak sangat senang. Lona merasa Fandi mulai bersikap baik padanya. Selama ini Fandi selalu dingin saat di dekati.


*****


Fandi dan Lona berjalan di tepi pantai sambil berbincang-bincang. Di perjalanan mereka melihat warung yang berjualan jagung bakar. Akhirnya mereka memutuskan untuk singgah ke warung tersebut.


“Iya, aku mau.” Jawab Lona masih tersenyum pada Fandi.


“Bang, aku minta jagung bakarnya 2 ya?” Ucap Fandi pada pedagang jagung bakar.


Lona merasa senang bukan kepalang. Lona tidak menyangka dalam sekejap Fandi yang biasanya bersikap dingin padanya kini mulai ramah. Lona menikmati jagung bakarnya sambil tersenyum menatap Fandi. Sementara Fandi fokus pada jagung bakarnya dan tak menoleh sama sekali pada Lona.


“Fandi, kamu suka jagung bakar?” Tanya Lona penasaran. Karena sedari tadi Lona memperhatikan Fandi yang sangat lahap makannya.


“Iya, aku suka.” Jawab Fandi singkat.

__ADS_1


“Apa makanan kesukaanmu selain makan jagung bakar?” Tanya Lona lagi.


“Aku suka semua makanan Lona. Tidak ada pantangan.” Jawab Fandi seadanya.


“Heheheee... Maksud aku yang paling kamu suka?” Tanya Lona tertawa kecil.


“Aku suka seafood.” Jawab Fandi setelah itu terdiam. Sebenarnya seafood itu adalah makanan kesukaan Jingga.


“Seafood? Kenapa kamu suka seafood?” Tanya Lona makin penasaran.


“Sebenarnya aku suka seafood karena Jingga sangat menyukainya.” Jawab Fandi tenang.


Lona kembali terdiam mendengar nama Jingga. Lona sepertinya tidak suka mendengar nama itu. Namun Lona tidak ingin memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Fandi. Lona takut jika Fandi akan kembali kesal dan marah padanya.


“Ooh.. Kesukaan Jingga? Kamu romantis sekali Fandi. Hahahaaa..” Celetuk Lona sembari tertawa.


Hari sudah mulai senja. Fandi dan Lona menyaksikan indahnya langit pada saat matahari terbenam.


“Jingga, indah sekali. Langit berwarna jingga.” Ucap Fandi pelan sembari menatap langit. Lona terlihat cemberut mendengar ucapan Fandi.


*****

__ADS_1


__ADS_2