
Hari-hari di lalui Fandi seperti biasa. Kuliah, mengajar sebagai assisten dosen, bernyanyi di cafe dan pulang ke kosan. Rutinitasnya sehari-hari tampak monoton. Ia hanya fokus dengan itu saja. Tak ada niat untuk mencari pengganti Jingga, karena Jingga sudah tertancap dalam di lubuk hatinya. Tidak bisa lagi tergantikan dengan yang lain.
Sesekali Fandi keluar bersama Riko. Bersantai sambil minum kopi di cafe tempat mereka biasa nongkrong. Mereka bercengkerama, saling bercerita mengenai kuliah mereka. Setiap kali Riko menyinggung soal Jingga, maka Fandi akan bersemangat membahasnya. Bukan untuk membahas Jingga yang kini telah meninggalkannya. Tapi membahas keinginannya yang gigih untuk sukses agar bisa membawa Jingganya kembali.
“Bro, bagaimana kuliah lu?” Tanya Riko memulai pembicaraan.
“Alhamdulillah lancar Rik. Tahun depan gue mulai magang dan mencari materi untuk skripsi gue.” Jawab Fandi tenang.
“Mantap bro!” Balas Riko.
“Lu sendiri bagaimana kuliah lu Rik?” Kali ini Fandi yang bertanya kepada Riko tentang kuliah sahabatnya itu.
“Gue beres bro. Tahun depan juga rencananya.” Jawab Riko sambil menyeruput kopinya.
__ADS_1
“Tidak terasa sebentar lagi kita akan lulus kuliah Rik. Semakin hari kita semakin sibuk dengan kegiatan masing-masing. Semoga kita masih punya waktu untuk bersantai seperti ini ya Rik?” Ujar Fandi melirik Riko.
“Iya bro. Gue harap sesibuk apapun nanti, kita masih bisa meluangkan waktu meski hanya sekedar minum kopi bersama.” Balas Riko tersenyum.
“Novi apa kabar Rik?” Tiba-tiba Fandi menanyakan Novi.
“Ooh ya bro, gue hampir lupa. Bulan depan gue dan Novi bertunangan bro. Pokoknya lu harus mendampingi gue pas hari H. Okee bro?” Ujar Riko lagi sambil mengedipkan matanya.
“Hahahaaa.. Iya bro. Setelah mengenal Novi, gue merasa memang Novi yang bisa menerima gue apa adanya bro. Hehehee...” Balas Riko tertawa.
“Gue ikut senang Rik. Semoga lu bahagia terus sama Novi.” Fandi merangkul pundak Riko sambil tersenyum.
“Terima kasih bro. Gue juga mendoakan lu segera menyusul bro.” Ujar Riko menyemangati Fandi.
__ADS_1
“Amin..” Fandi mengaminkan doa Riko untuknya.
“Maaf bro. Saran gue sebaiknya lu buka hati lu buat wanita lain dan coba mengikhlaskan Jingga.” Ucap Riko ragu-ragu.
“Gue paham maksud lu baik Rik. Tapi sampai hari ini gue masih belum bisa menghapus Jingga dari hidup gue. Gue gak tahu entah sampai kapan.” Balas Fandi menunduk.
“Gue berharap lu masih bisa bahagia bro meski bukan dengan Jingga.” Lanjut Riko.
Fandi paham betul maksud Riko. Riko hanya ingin Fandi bisa melupakan Jingga dan memulai kehidupannya sendiri. Bertahun-tahun setelah kepergian Jingga, Riko tidak pernah sekalipun melihat Fandi dekat dengan wanita lain. Beberapa kali seorang wanita mencoba mendekati Fandi, namun Fandi selalu menolaknya dengan alasan telah memiliki calon istri.
Sampai hari itu Fandi masih setia dengan kesendiriannya. Tekadnya hanya satu ingin membawa Jingga kembali ke dalam kehidupannya setelah ia sukses nanti. Jingga masih bertakhta di dalam kerajaan hatinya. Tidak tahu entah sampai kapan. Fandi tidak pernah membiarkan sekalipun cintanya redup. Fandi selalu yakin suatu hari nanti Jingga akan kembali lagi kepadanya. Karena bagi Fandi cinta hanya datang satu kali dalam hidupnya.
*****
__ADS_1