
Sepulang sekolah Fandi dan Riko berjalan menuju parkiran. Tiba-tiba dari belakang terdengar seorang perempuan tengah memanggil nama Fandi.
“Fandi.. Fandi..” Teriak seorang perempuan dari kejauhan.
Fandi menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Sonya yang memanggilnya.
“Bro, gue tunggu di motor ya?” Riko melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran.
“Ada apa?” Balas Fandi.
“Kamu mau pulang?” Tanya Sonya kepada Fandi yang terlihat buru-buru.
“Iya, aku mau pulang. Langsung kerja.” Jawab Fandi seadanya.
“Kita ke rumah sakit yuk! Tengokin Jingga.” Sonya berusaha mencari alasan agar dirinya bisa jalan berduaan lagi dengan Fandi.
“Jingga di rumah sakit?” Tiba-tiba Fandi menatap Sonya seolah menunggu penjelasan lebih detail dari Sonya.
“Kamu sepertinya peduli sekali sama Jingga?” Sonya melemparkan pertanyaan yang seketika membuat Fandi gelagapan menjawabnya.
__ADS_1
“Bi..biasa saja kok. Aku memang orangnya seperti ini. Kalau melihat orang lain lagi kena musibah dan kesusahan memang selalu seperti ini.” Fandi mencoba meyakinkan Sonya. Ia tidak mau Sonya curiga dan mengetahui perasaannya yang sebenarnya terhadap Jingga.
“Beneran kamu gak suka sama Jingga?” Tanya Sonya lagi memastikan kecurigaannya itu tidak benar.
“Suka? Kamu ada-ada saja.” Fandi menjawab sambil menggeleng.
“Aku pulang dulu ya.” Fandi kemudian berlalu meninggalkan Sonya yang masih belum puas dengan jawaban Fandi.
‘Mana mungkin Fandi suka sama Jingga? Dia kan sudah tau kalau Jingga itu pacarnya kak Fiki. Pikiranku mengada-ada saja sepertinya.’ Sonya menepuk jidatnya berkali-kali dan tersenyum lebar.
*****
Di area parkir sekolah
“Jingga masuk rumah sakit Rik." Ujar Fandi dengan suara pelan.
“Haahh.. Sakitnya tambah parah bro? Gue pikir cuma pingsan belum makan.” Riko kembali berceloteh, seperti biasa Fandi tidak begitu mendengarkan celotehannya.
“Terus bro?” Lanjut Riko bertanya.
__ADS_1
“Terus apa?” Fandi balik bertanya, karena tidak paham maksud Riko.
“Maksud gue kita terus ke rumah sakit atau bagaimana bagusnya bro?” Jawab Riko bersemangat.
“Gak usah Rik. Kita langsung pulang. Gue harus langsung kerja.” Fandi kemudian duduk di atas motor Riko dan menepuk pundak sahabatnya itu memberi isyarat agar segera menjalankan motornya.
“Kan lu bisa minta izin sama bos lu bro? Gampang kan?” Usul Riko yang sedari tadi belum menghidupkan mesin motornya.
“Buat apa gue kesana Rik?” Fandi sudah mulai lesu menjawab pertanyaan Riko.
“Busyet! Ya liat Jingga lah, masa' liat Fiki?” Jawab Riko asal.
“Iya, karena gue gak mau liat Fiki disitu, makanya gue gak mau kesana. Lagian kehadiran gue pun hanya akan membuat Jingga dan yang lainnya heran. Fiki sudah ada disana menjaga Jingga. Gue cukup disini saja menjaga dia.” Ujar Fandi sembari menunjuk dadanya.
“Huufft..” Riko mendengus kemudian menghidupkan mesin motornya.
Sepanjang perjalanan mereka tidak lagi membahas soal Jingga. Riko mencoba mencairkan suasana dengan lawakannya yang selalu berhasil membuat sahabatnya tertawa.
Prinsip Fandi yang ingin selalu memendam perasaannya kepada Jingga mungkin di anggap pengecut. Tapi menjadikan cinta pertamanya itu sebagai motivasi dalam hidupnya adalah sesuatu yang tidak semua orang berpikir ke arah sana.
__ADS_1
Sejak Fandi memutuskan untuk menjatuhkan hatinya pada Jingga, sejak saat itulah ia sanggup menerima segala resiko sakit hati dari rasa cinta tersebut, hingga batas waktu yang tidak bisa ia sendiri tentukan.
*****