Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 14


__ADS_3

Di hari lain, siang sepulang sekolah Riko sengaja mengajak Fandi makan bakso di tempat langganan mereka. Kebetulan Riko ulang tahun dan katanya mau traktir Fandi.


Mereka masuk ke warung bakso. Kemudian melahap bakso dengan rakusnya, karena memang sudah sangat lapar dan waktunya makan siang. Fandi menghabiskan satu mangkok bakso. Sedangkan Riko terus tambah.


Tiba-tiba masuklah seorang perempuan dan laki-laki berseragam SMA. Mereka duduk di samping tempat duduk Fandi dan Riko. Kehadiran mereka seketika menghancurkan suasana hati Fandi yang tengah berbahagia di hari ulang tahun sahabatnya.


“Kamu minumnya apa beb?” Laki-laki itu bertanya dengan mesranya.


“Aku es jeruk aja.” Jawab Jingga singkat. Ternyata perempuan itu adalah Jingga bersama pacarnya yang tak lain adalah Fiki senior mereka.


Tak terbayang betapa remuknya hati Fandi. Ia yang tadinya sedang tertawa gembira seketika menjadi diam tertunduk. Hatinya mulai berkecamuk. Rasanya ingin marah. Tapi ia sadar betul kalau ia tak punya hak untuk marah, karena ia bukan siapa-siapa Jingga. Ia hanya seorang laki-laki biasa yang begitu mengagumi Jingga.


“Bro.” Riko memegang pundak Fandi dan memberi isyarat untuk beranjak pergi. Meskipun baksonya masih banyak, Riko ikhlas meninggalkan baksonya demi menghargai perasaan Fandi sahabatnya.


“Iya.” Fandi menjawab dengan berat. Ia merasa tercekik tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bagaikan di sambar petir, hatinya seperti hancur lembur menyaksikan dua sejoli itu.


Setelah membayar di kasir, Riko melajukan motornya. Selama perjalanan mereka hanya diam. Riko paham betul perasaan Fandi. Oleh karena itu ia memilih untuk diam dan tidak berkomentar apapun mengenai kejadian yang baru saja mereka saksikan.

__ADS_1


“Terima kasih Rik. Gue langsung masuk!” Fandi turun dari motor Riko menuju warung makan tempat ia bekerja.


“Oh ya bro, malam gue main kesini ya?” Riko sedikit mengeraskan suaranya karena Fandi sudah bergerak menjauh.


“Siip!” Balas Fandi


Hari itu Fandi bekerja tidak banyak bicara. Beberapa kali ia merasa malas ketika mengingat apa yang ia saksika siang itu. Ia tidak menyangka gadis pujaan hatinya telah memiliki kekasih. Dan ternyata kekasihnya itu adalah kakak senior mereka sendiri.


*****


Riko menepati janjinya. Ia datang ke warung makan tempat Fandi bekerja. Ia sengaja membawa martabak manis untuk menghibur sahabatnya itu. Setelah selesai bekerja Fandi duduk di sebelah Riko. Mereka duduk di teras warung.


“Makan martabaknya bro!” Riko menawari Fandi yang masih tampak lesu.


“Tumben lu bawa martabak? Terima kasih. Rik.” Meskipun hatinya berkecamuk, tapi Fandi berusaha untuk tetap tenang di depan Riko.


“Bro, lu aman kan?” Tanya Riko hati-hati.

__ADS_1


“Maksud lu?” Fandi balik bertanya pura-pura tidak mengerti maksud Riko.


“Masalah tadi siang.” Jawab Riko hati-hati.


“Ooh yang itu. Udahlah Rik. Gue baik-baik saja kok.” Jawab Fandi santai. Meskipun di hatinya memang hancur.


“Sabar ya bro.” Riko menguatkan.


“Gue kan bukan siapa-siapanya Jingga. Jadi Jingga berhak untuk dekat dan pacaran sama siapa aja Rik. Lagian mereka kan cuma pacaran?” Ucap Fandi tiba-tiba tersenyum berat.


“Haahh..” Riko melotot. Ia tidak menyangka Fandi berkata sesantai itu.


“Gue belum menyerah Rik. Mereka cuma pacaran. Besok kan kita gak tahu gimana mereka selanjutnya. Gak ada yang tahu apa yang terjadi nanti. Dan siapa tahu Jingga jodoh gue?” Fandi melanjutkan perkataannya seraya tersenyum.


“Semangat bro. Gue tetap dukung lu maju terus." Riko kembali bersemangat melihat sahabatnya itu. Dan tak tanggung-tanggung ia langsung melahap martabak dengan potongan besar karena saking bersemangatnya melihat Fandi.


*****

__ADS_1


__ADS_2