Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 13


__ADS_3

Pagi itu Fandi seperti biasa berangkat dengan Riko sahabatnya.


Setelah memarkirkan motornya Riko melihat Jingga turun dari mobil. Jingga terlihat begitu anggun dengan rambut d ikat ke belakang.


Jingga tersenyum ke semua orang, karena ia memang orang yang ramah. Fandi tidak mau kehilangan moment itu. Ia langsung mengarahkan pandangannya menuju gadis pujaan hatinya Jingga.


‘Sempurna..' Hatinya terus memuji Jingga. Tidak tahu dengan kata-kata apa ia harus mengungkapkan betapa spesialnya seorang Jingga bagi dirinya. Semua lelaki pasti mengidamkan Jingga. Karena memang secara fisik ia terlihat sempurna. Di tambah lagi hatinya yang baik, ramah dan tidak sombong. Memang idaman semua lelaki.


“Untung Jingga itu gadis lu bro, kalau gak gue juga udah nyosor duluan deketin dia. Meskipun gue bakal di tolak mentah-mentah.” Riko tiba-tiba berceloteh memancing Fandi agar tidak pesimis untuk mendekati Jingga.


“Udahlah Rik. Kita ke kelas yuk!” Fandi menarik tas Riko. Kebetulan Fandi dan Riko sekelas. Jadi Fandi tidak perlu canggung kalau nantinya tidak punya teman di kelas itu.


Beberapa menit kemudian bel berbunyi. Semua siswa siswi berbaris di lapangan untuk melaksanakan upacara setiap hari senin pagi. Upacara berlangsung sangat hikmat.


Setelah selesai semua masuk menuju kelas masing-masing. Wali kelas baru membagikan daftar pelajaran. Mereka di kelas hanya perkenalan diri. Dan guru menjelaskan buku apa saja yang harus mereka beli untuk penunjang saat belajar.

__ADS_1


*****


Saat jam Istirahat


“Bro, kapan kita cari buku?” Tanya Riko.


“Nanti sepulang sekolah boleh.” Jawab Fandi singkat.


“Tumben lu langsung bisa?” Riko melongo. Karena biasanya Fandi susah di ajak kalau sepulang sekolah.


“Mantap!” Riko mengacungkan jempolnya.


“Oh yaa bro, lu kapan mau deketin Jingga? Ajak kenalan aja dulu!” Tanya Riko penasaran, karena sudah seminggu sekolah namun tidak ada tanda-tanda sahabatnya itu ingin mengajak kenalan Jingga. Padahal saat itu ia sempat punya peluang besar.


“Gimana ya Rik? Hhmmm.. Gue gak punya nyali.” Fandi berbicara sambil menarik nafasnya dalam-dalam kemudian bicara lagi dan kemudian menarik nafas lagi. Seperti tidak yakin.

__ADS_1


“Lu gak boleh pesimis bro. Harus optimis.” Riko terus saja memberi semangat sahabatnya yang sudah terlanjur tidak percaya diri.


“Gue mau fokus sekolah saja dulu Rik. Masalah Jingga, untuk saat ini gue tau diri, gue sangat tidak layak mendekatinya.” Jawaban Fandi selalu saja merendah. Ia tak mau perasaannya diketahui oleh orang lain maupun Jingga. Ia malu jika satu sekolahan tahu, pasti akan jadi bahan cemoohan orang-orang.


“Aduuh bro.. Sabar ya bro! Gue mengerti bagaimana perasaan lu. Gue sebagai sohib lu pasti akan selalu mendukung lu.” Kata-kata Riko menguatkan Fandi. Riko merangkul bahu sahabatnya itu.


“Gue tahu diri Rik. Tapi gue akan bersekolah dengan sungguh-sungguh disini biar secepatnya bisa sukses.” Balas Fandi.


“Jadi intinya lu mau menjadikan Jingga itu motivasi lu untuk sukses bro?” Riko kembali menanyakan maksud ucapan Fandi secara detail.


“100% betul Rik. Gue akan lebih giat lagi sekolah disini. Ikut berbagai macam lomba dan olimpiade biar gue bisa dapat beasiswa kuliah nantinya.” Fandi menjelaskan lagi lebih detail kepada Riko. Sahabatnya itu mengangguk mengerti sambil tersenyum.


“Dan setelah sukses, akhirnya lu lamar Jingga gitu kan?” Sambung Riko sambil mengedipkan matamya.


“Pintar lu!” Balas Fandi tersenyum.

__ADS_1


*****


__ADS_2