
Dua bulan berlalu Fandi memutuskan untuk pindah ke hotel. Selain ia tidak perlu bolak balik berangkat kerja dari kosannya ke hotel, Fandi juga bisa lebih mudah memantau hotelnya.
Putusan sidang perceraian Fandi dan Laura pun sudah ketuk palu. Fandi dan Laura sudah resmi bercerai. Meski umurnya terbilang sangat muda 25 tahun, namun Fandi telah resmi menyandang status duda.
Setiap hari Fandi hanya fokus mengurusi perkembangan hotelnya. Tidak ada waktu bagi Fandi untuk bersenang-senang. Sesekali ia pergi bersama Riko untuk sekedar melepas penat dari rutinitas pekerjaan.
Suatu hari Fandi keluar kota menghadiri acara grand opening restoran dari relasinya yang berada di luar kota. Fandi berangkat dengan mobil operasional hotel lengkap bersama dengan supir di hotelnya.
Fandi memang sosok yang sangat ramah. Meskipun ia adalah seorang bos pemilik hotel bintang 5, ia tidak pernah membeda-bedakan status orang. Fandi lebih memilih untuk duduk di kursi depan bersama supirnya. Tidak seperti kebanyakan bos lainnya yang lebih memilih duduk di kursi belakang.
“Maaf pak Fandi. Pak Fandi tidak apa-apa duduk di depan?” Tanya pak Rustam sungkan.
“Tidak apa-apa pak. Saya tidak terbiasa duduk sendiri di kursi belakang. Kalau di depan sini kan saya ada teman ngobrolnya.” Jawab Fandi ramah.
“Baik pak.” Pak Rustam kemudian mengemudikan mobilnya keluar dari kawasan hotel.
__ADS_1
Selama perjalanan Fandi tak sungkan mengajak pak Rustam bicara.
“Kalau saya boleh tahu, anak bapak ada berapa orang pak?” Tanya Fandi memulai pembicaraan.
“Sa.saya punya 3 orang anak pak.” Jawab pak Rustam gugup.
“Tidak apa-apa pak. Tidak perlu sungkan. Saya sama seperti bapak, saya juga manusia biasa.” Ujar Fandi memberi pengertian pada pak Rustam agar tak perlu sungkan berbicara dengannya.
“Maaf pak Fandi. Saya tidak enak pak. Kesannya lancang kalau saya berbicara dengan bos sendiri.” Balas pak Rustam dengan nada yang terdengar ragu-ragu.
“Iya pak Fandi.” Jawab pak Rustam sembari tersenyum kaku.
“Berapa orang laki-laki dan perempuannya pak?” Tanya Fandi lagi.
“Anak laki-laki saya dua orang dan perempuan satu pak.” Jawab pak Rustam mulai tenang.
__ADS_1
“Syukurlah pak. Yang paling besar umur berapa pak?” Fandi mulai menikmati pembicaraannya dengan supirnya itu.
“Yang paling besar sudah kelas 1 SMA pak yang laki-laki. Yang nomor dua perempuan masih SMP kelas 2 dan yang bungsu SD kelas 3.” Jawab pak Rustam menjelaskan dengan tenang.
“Saya lihat bapak sangat bahagia ketika menceritakan anak-anak bapak.” Balas Fandi melihat ke arah pak Rustan yang sedang mengemudi.
“Alhamdulillah pak. Anak-anak saya adalah anak-anak yang baik dan membanggakan.” Lanjut pak Rustam tersenyum.
“Alhamdulillah, bapak beruntung.” Fandi ikut tersenyum.
“Saya doakan pak Fandi kelak juga memiliki anak-anak yang baik dan membanggakan pak.” Ujar pak Rustam mendoakan Fandi agar kelak memiliki anak-anak seperti beliau.
“Amin. Terima kasih pak.” Balas Fandi masih tersenyum ramah pada pak Rustam.
Tidak terasa, mereka sudah sampai di tujuan. Fandi turun dari mobil dan memasuki lokasi acara. Disana Fandi di sambut dengan baik. Banyak pengusaha dan konglomerat yang datang. Pak Heru sang pemilik acara memperkenalkan Fandi kepada rekan-rekan bisnisnya yang lain. Fandi dengan mudah berbaur dengan mereka. Karena selain pintar, penampilan Fandi juga tampak mengagumkan sebagai pengusaha muda.
__ADS_1
*****