
Pagi yang mendung. Fandi berjalan menuju ruang kelas seperti biasa bersama Riko sahabatnya. Sebelum menuju kelas Fandi sengaja ke kelas 10C dulu. Ia penasaran sudah lebih satu minggu Jingga belum juga masuk sekolah. Ia takut Jingga sakit atau terjadi sesuatu yang buruk kepada Jingga.
“Fandi, kamu cari siapa?” Tanya Sonya yang tidak sengaja melihat Fandi mondar mandir di depan kelasnya.
Fandi mulai kebingungan harus menjawab apa pada Sonya. Ia tidak mungkin jujur kepada Sonya kalau ia ingin tahu bagaimana keadaan Jingga.
“Aa..aku.. aku mau pinjam kamus kamu boleh?” Fandi terpaksa berbohong. Ia melihat bangku Jingga juga masih kosong.
“Pinjam kamus? Oohh.. Oke. Tunggu sebentar ya, aku ambil dulu!” Sonya bergegas masuk ke dalam kelas lalu membuka tasnya dan mengambil kamus. Ekspresinya sangat senang, karena akhir-akhir ini Fandi tidak lagi sungkan kepadanya.
‘Kenapa Jingga belum juga masuk ke sekolah? Apa dia sakit?' Fandi bertanya-tanya dalam hatinya.
“Ini Fandi kamusnya!” Sonya langsung menyodorkan sebuah kamus kepada Fandi.
“Aku pinjam dulu ya? Aku pinjam ya? Oke! Aku bawa dulu?” Fandi mengucapkan kalimat itu berulang kali dengan pandangan mata yang tidak fokus hingga membuat Sonya tertawa.
“Hahahaa... Iyaa. Santai aja! Lagian aku nanti butuhnya sehabis jam istirahat.” Sonya merespon kalimat Fandi lagi-lagi dengan tertawa.
__ADS_1
Fandi pun berlalu meninggalkan Sonya yang masih terlihat senang. Sonya merasa Fandi salah tingkah padanya.
‘Apa Fandi sudah mulai suka sama aku?’ Pikir Sonya dalam hati.
Selang beberapa waktu kemudian Jingga datang. Sonya yang melihat kedatangan Jingga segera menghampirinya.
“Jingga, kamu sudah masuk? Kamu pucat sekali? Kamu sakit ya?” Tanya Sonya khawatir.
“Aku gak apa-apa kok Sonya.” Jingga tersenyum menjawab kekhawatiran temannya itu
Jingga lalu masuk ke kelas menuju bangkunya. Berbeda dari biasanya, pagi itu Jingga langsung duduk dan mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Wajahnya pucat, matanya masih sembab. Sesekali ia tersenyum berat saat beberapa teman mulai menyapa.
*****
Namun saat sampai di depan kelas Sonya, ia melihat Jingga sedang duduk melamun di bangkunya. Disaat semua teman-temannya sibuk pergi ke kantin, Jingga malah memilih menghabiskan waktunya di dalam kelas sendirian.
Jingga yang menyadari kedatangan Fandi lagi-lagi melempar senyuman pada Fandi meskipun berat. Jingga kemudian mulai berdiri dari bangkunya hendak menghampiri Fandi.
__ADS_1
“Fandi.” Tiba-tiba suara seorang perempuan dari arah lain mengagetkannya.
“Sonya.” Jawab Fandi spontan.
“Hai.. Kamu sudah disini?” Sonya bertanya dengan raut wajah senang penuh senyuman. Sonya tak menyangka lelaki kalem itu mulai sering datang ke kelasnya.
“Ini kamus kamu.” Fandi menyodorkan kamus milik Sonya yang di pinjamnya tadi pagi. Sonya pun lalu mengambil kamus tersebut.
“Bruukkk..” Suara itu menyadarkan Fandi dan Sonya yang sedang bicara, mereka langsung melihat ke sumber suara yang berada di dalam kelas. Betapa terkejut setengah matinya Fandi. Bagaimana tidak, ternyata itu suara tubuh Jingga yang jatuh ke lantai. Fandi spontan mengambil langkah seribu ke arah Jingga yang tergeletak di lantai.
“Jingga.” Ucap Fandi lirih. Sonya mulai heran melihat ada mimik kekhawatiran dari wajah Fandi.
“Fandi kita bawa Jingga ke UKS saja!” Sonya memberi saran. Sonya juga khawatir melihat kondisi Jingga yang sedari tadi begitu pucat.
Tanpa banyak berpikir, Fandi mengangkat tubuh Jingga seorang diri. Ia berjalan dengan cepat menuju UKS. Fiki yang melihatnya pun ikut berlari ke mengikuti mereka.
“Jingga. Biar gue saja!” Fiki mencoba meminta kepada Fandi agar dirinya saja yang mengangkat kekasihnya itu. Namun Fandi tak menghiraukannya. Fandi tetap berjalan dengan sigap menuju UKS.
__ADS_1
“Brengsek!!!” Fiki mengepalkan tangannya.
*****