
Hari itu Fandi wisuda. Fandi berhasil lulus dengan nilai terbaik. Fandi menjadi satu-satunya mahasiswa yang meraih nilai Caumlude di Fakultasnya. Karena prestasinya itu Fandi mendapatkan hadiah tabungan dari Universitasnya. Riko ikut merasa bangga melihat prestasi sahabatnya itu.
Tidak ada satu pun yang menjadi wali Fandi untuk mendampinginya ke atas panggung untuk menerima hadiah dan penghargaan dari kampus.
Fandi berpidato di depan semua orang tentang apa yang menjadi motivasinya hingga berhasil seperti itu. Semua orang sangat terharu mendengar pidato Fandi. Selain orang tua, Fandi juga sempat menyebut nama Jingga yang menjadi motivasinya.
Riko dari bawah panggung bersorak memberi tepuk tangan yang meriah untuk Fandi. Riko merasa bangga memiliki sahabat seperti Fandi.
“Selamat bro! Gue bangga sama lu bro.” Seru Riko sembari memeluk Fandi dengan ceria.
“Thanks Rik, selamat juga buat lu Rik. Akhirnya kita wisuda juga dan memulai awal kehidupan kita yang baru.” Ujar Fandi menepuk-nepuk pundak Riko sahabatnya.
“Ngomong-ngomong beasiswa lu bagaimana bro kalau lu jadi kerja di perusahaan yang lu ceritain kemarin?” Tanya Riko penasaran.
“Gue masih bingung Rik. Sejujurnya gue mau langsung kerja, tapi beasiswa itu juga sangat berarti untuk karier gue ke depannya.” Jawab Fandi sembari menghembuskan nafasnya.
“Lu pikirin lagi matang-matang bro pilihan mana yang akan lu ambil. Apapun keputusan lu, gue pasti akan selalu suport lu bro.” Ujar Riko menyemangati Fandi.
__ADS_1
“Ooh yaa bro. Gue, Novi, Rani, Eka dan cowok-cowok mereka rencana besok liburan ke pulau. Lona juga ikut. Lu ikut gak?” Ajak Riko. Sebetulnya Riko berencana ingin menjodohkan Fandi dengan Lona, meskipun Riko tahu Lona bukan tipe Fandi.
“Okee bro.” Balas Fandi mengiyakan ajakan Riko.
“Gue suka gaya lu bro.” Riko merangkul kembali sahabatnya.
*****
Riko mengajak Fandi untuk makan malam bersama keluarganya di rumah atas permintaan mama dan papanya Riko. Fandi mengenakan kemeja lengan panjang yang dipadukan dengan celana jeans. Fandi benar-benar terlihat dewasa dan mapan.
“Fandi, apa rencana kamu selanjutnya?” Tanya pak Farhan.
“Terus beasiswa kamu bagaimana, sayang loh kalau tidak di ambil?” Kali ini bu Irma yang bertanya.
“Iyaa tante, saya tahu . Tapi saya harus memilih salah satu dan saya rasa bekerja lebih baik untuk saat ini.” Jawab Fandi menjelaskan kepada papa dan mama dari sahabatnya Riko.
“Iya, gak apa-apa bro. Gue suport lu, apapun pilihan yang lu ambil.” Timpal Riko memberi semangat Fandi.
__ADS_1
“Kalau menurut om sih sah-sah saja kalau kamu lebih memilih untuk bekerja. Om mengerti apa yang ada di pikiranmu, tapi beasiswa juga bagus untuk karier kamu ke depannya. Beasiswa tidak datang 2 kali, tapi pekerjaan bisa datang kapan saja.” Ujar pak Farhan memberi pengertian kepada Fandi.
“Saya paham om.” Balas Fandi.
“Tapi itu pendapat om ya. Sebagai laki-laki tentu kamu harus berani berpendapat dan memutuskan sendiri apa yang menurutmu baik.” Lanjut pak Farhan.
“Iyaa Fandi. Saran tante, coba kamu pikirkan lagi matang-matang.” Sambung bu Irma.
“Iya om tante. Saya akan coba pikirkan lagi.” Balas Fandi tersenyum.
“Kalau lu masih ragu, lu shalat istikharah aja bro minta petunjuk sama Allah.” Tiba-tiba Riko memberi saran yang tak biasa. Seketika semua langsung tertegun melihat ke arah Riko.
“Tumben Rik?” Seru pak Farhan meledek.
“Udah tobat Pa. Heheheee..” Balas Riko cengengesan.
Mereka berbincang-bincang hingga malam menunjukkan pukul 9. Fandi kemudian berpamitan pada mama dan papanya Riko kembali pulang ke kosannya.
__ADS_1
*****