
Malam harinya Fandi keluar dari kamarnya. Ia tidak melihat keberadaan Laura. Rumah tampak sepi. Fandi melihat seorang wanita setengah baya sedang menyiapkan makanan di meja makan. Fandi berbicara pada wanita itu dengan bahasa indonesia, karena wanita itu terlihat seperti orang dari negaranya.
“Apa ibu melihat Laura?” Tanya Fandi menghampiri bu Yanti. Bu Yanti adalah asisten rumah tangga di rumah Laura yang lama. Karena sekarang Laura tinggal di rumah yang baru, jadi bu Yanti ikut mereka ke rumah baru.
“Tadi nona Laura pulang ke rumah lama. Katanya mau ambil barang-barangnya yang masih ada disana tuan.” Jawab bu Yanti menunduk.
“Tuan silahkan makan dulu!” Bu Yanti mempersilahkan Fandi untuk duduk dan menyantap makan malam tanpa kehadiran Laura.
“Terima kasih bu.” Jawab Fandi seraya duduk di kursinya.
“Saya ke belakang dulu tuan.” Setelah menghidangkan makanan untuk Fandi, bu Yanti berniat untuk ke belakang melanjutkan pekerjaannya.
“Ibu sudah makan?” Tanya Fandi.
“Belum tuan.” Jawab bu Yanti ragu-ragu.
“Kalau begitu mari makan bersama saya.” Ajak Fandi mempersilahkan bu Yanti untuk duduk di meja makan yang sama dengannya.
__ADS_1
“Maaf tuan, ibu makan di belakang saja.” Jawab bu Yanti sungkan.
“Tidak apa-apa bu. Saya tidak berselera kalau harus makan sendiri.” Balas Fandi membujuk bu Yanti untuk ikut makan bersamanya.
“Terima kasih tuan.” Bu Yanti kemudian duduk dan mulai mengambil makanan dengan ragu-ragu.
“Tidak apa-apa bu. Tidak usah sungkan!” Ujar Fandi tersenyum pada bu Yanti. Bu Yanti hanya mengangguk merasa tidak enak harus makan semeja dengan majikannya.
“Ooh ya bu.. Ibu sudah lama kerja disini?” Tanya Fandi basa basi.
“Sudah tuan. Sudah belasan tahun, sejak nona Laura masih sekolah.” Jawab bu Yanti tersenyum.
“Saya awalnya TKW disini tuan kerja di rumah orang Australia. Lalu tidak sengaja ketemu pak Irwan dan di tawari kerja sama pak Irwan langsung tanpa perantara agen penyalur. Akhirnya saya mau. Pak Irwan yang mengurus perpanjangan visa saya.” Bu Yanti bercerita kepada Fandi bagaimana ia bisa bekerja di keluarga Laura.
“Pak Irwan memang orang yang sangat baik bu.” Balas Fandi melanjutkan makannya.
“Iya tuan. Pak Irwan memang sangat baik. Tapi saya kasihan sama pak Irwan.” Ucap bu Yanti tiba-tiba keceplosan.
__ADS_1
“Kasihan kenapa bu?” Tanya Fandi sedikit penasaran.
“Tidak ada tuan.” Bu Yanti menunduk.
“Tidak apa-apa bu! Sekarang saya adalah bagian dari keluarga ini. Ibu tidak usah sungkan. Saya juga tidak akan marah.” Balas Fandi meyakinkan bu Yanti agar menjawab rasa penasarannya.
"Begini tuan. Pak Irwan itu majikan saya yang sangat baik. Tapi kasihan putri satu-satunya nona Laura tidak pernah mau mendengarkan nasehat beliau. Nona Laura selalu membangkang pada beliau sama seperti mamanya.” Jelas bu Yanti. Bu Yanti merasa tidak enak bercerita kepada Fandi. Bu Yanti takut bila seketika Laura hadir di tengah-tengah pembicaraan mereka.
“Apa ibu tahu apa penyebab pak Irwan bercerai dari mamanya Laura?” Tanya Fandi makin penasaran.
“Nyonya besar sering keluar malam dan pak Irwan mengetahui jika nyonya berselingkuh dengan pria warga negara sini selama pak Irwan berada di Indonesia tuan.” Jawab bu Yanti menunduk.
“Berselingkuh?” Ucap Fandi.
“Maaf tuan. Saya ke belakang dulu. Saya takut nona Laura pulang dan melihat saya ikut makan disini.” Bu Yanti berjalan ke belakang sembari membawa piring bekas makannya.
‘Laura, ternyata sifatnya menurun dari sifat ibunya.’ Batin Fandi. Fandi kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Fandi duduk di ruang keluarga untuk menonton televisi sambil menunggu kepulangan Laura.
*****