Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 25


__ADS_3

Di rumah Fiki dan Sonya


“Kak, kenapa wajahnya memar-memar gitu?” Tanya Sonya saat melihat Fiki masuk ke dalam rumah dengan wajah yang memar.


“Ini gara-gara pacar kamu si Fandi.” Umpat Fiki yang masih kesal dengan Fandi.


“Fandi? Kenapa sama Fandi kak?” Tanya Sonya mulai penasaran.


“Dia mukulin kakak.” Jawab Fiki menunjukkan wajah memarnya pada Sonya.


“Hahahaaa... Mana mungkin kak? Kakak jangan sembarangan?" Balas Sonya sembari tertawa menganggap Fiki hanya membual.


“Aku gak bohong dek. Sepertinya Fandi suka sama Jingga, makanya dia cemburu dan emosi sama kakak.” Jelas Fiki membela dirinya. Fiki mencoba meyakinkan Sonya agar percaya dengan ucapannya yang asal. Fiki juga mulai yakin jika Fandi memang benar menyukai Jingga.


“Gak mungkin kak. Aku gak percaya.” Sonya mengernyitkan dahinya pertanda tidak percaya dengan ucapan Fiki.


“Terserah kamu. Pokoknya mulai besok jangan pernah dekat sama Fandi lagi.” Perintah Fiki memperingati Sonya agar menjauhi Fandi.


“Aku gak mau kak.” Bantah Sonya.

__ADS_1


“Kamu kenapa sekarang mulai membangkang sama kakak?” Fiki duduk di samping Sonya dan mulai mengompres lukanya sendiri.


“Kakak mau tau kenapa? Pertama, aku sama sekali gak percaya Fandi mukulin kakak duluan. Karena setahu aku Fandi itu orang baik dan gak banyak tingkah, gak kayak kakak temperament. Kedua, aku juga gak percaya Fandi suka sama Jingga, karena setahu aku mereka gak berteman. Jangankan berteman, saling berbicara saja mereka gak pernah kak.” Sonya mulai menjelaskan kepada Fiki dari sudut pandangnya selama ini.


“Terserah kamu.” Fiki berlalu meninggalkan Sonya kemudian masuk ke kamar dan membanting pintu kamarnya.


‘Gak mungkin Fandi ada perasaan sama Jingga, selama ini aku lihat dia biasa-biasa saja. Mereka gak pernah bicara berdua! Meskipun awalnya aku mikir Fandi perduli sama Jingga, tapi itu manusiawi kok.’ Batin Sonya. Sonya yakin jika Fiki hanya mengada-ada. Karena dari awal Fiki memang tidak suka melihat kedekatannya dengan Fandi.


*****


Sementara itu di dalam mobil Riko, Fandi masih terus meluapkan kekesalannya. Berkali-kali Fandi mengumpati tingkah Fiki yang sudah mempermainkan gadis pujaannya Jingga.


“Iya bro, gak tau diri. Tampang pas-pasan aja belagu. Belagak jadi playboy segala.” Riko ikut-ikutan mengumpat.


“Bagaimana kalau Jingga sampai tahu kelakuan si Fiki? Aku gak bisa membayangkannya Rik.” Fandi memegangi kepalanya membayangkan betapa kecewanya Jingga bila mengetahui kelakuan Fiki yang sebenarnya.


“Gue yakin kalau Jingga tahu dia pasti udah mutusin tuh si Fiki bro.” Ujar Riko sedari tadi tersenyum memperhatikan raut wajah Fandi yang penuh emosi.


“Gue gak tega melihat Jingga. Saat ini dia masih sangat rapuh Rik. Setelah orang tuanya meninggal ia jatuh sakit dan sekarang si Fiki berulah seperti ini.” Suara Fandi terdengar lirih. Ia sedih membayangkan kondisi Jingga.

__ADS_1


“Menurut gue lebih baik Jingga tahu dari sekarang bro. Jadi dia gak terlalu lama di bohongi sama si Fiki. Lebih cepat lebih baik bro.” Usul Riko agar mereka memberitahukan apa yang mereka lihat tadi kepada Jingga.


“Aku rasa tidak perlu Rik.” Tiba-tiba Fandi melarang Riko. Ia tidak mau jika kejadian tadi akan mempengaruhi suasana hati Jingga yang masih rapuh.


“Gue mengerti bro. Tapi kita tidak bisa membiarkan Jingga lebih lama di bodohi si Fiki bro.” Riko memanyunkan bibirnya.


“Kalaupun kita akan buka suara. Apa Jingga percaya? Kita siapa bro? Dia gak kenal kita. Mustahil dia percaya.” Ucap Fandi. Fandi meragukan Jingga akan mempercayai perkataan mereka nanti.


“Tidak ada salahnya di coba bro.” Saran Riko.


“Lagian ini kesempatan lu untuk maju bro.” Saran Riko lagi.


“Maaf, gue kurang setuju Rik. Dan gue juga gak akan maju selagi belum layak untuk Jingga.” Balas Fandi melirik Riko.


“Jadi kapan lu akan maju dan merasa layak bro?” Tanya Riko.


“Hhhmmm.. Saat gue sudah jadi orang sukses.” Fandi lalu menghembuskan nafasnya dan tersenyum menatap ke atas.


*****

__ADS_1


__ADS_2