Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 184


__ADS_3

Jingga terdiam beberapa saat. Ia berkali-kali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jingga menatap Fandi dalam-dalam. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Jingga mulai bersuara. Laura dengan wajah penuh harap tampak tak sabar menunggu jawaban dari Jingga.


“Laura.. Aku sangat paham keadaan kamu. Aku sangat prihatin dengan apa yang terjadi padamu. Sangat tidak adil bila aku harus bersikap egois.” Ujar Jingga tenang. Fandi tak henti menatap Jingga, seolah ia takut Jingga akan melepaskannya untuk Laura.


“Selama ini aku sudah sangat egois. Aku tidak pernah memikirkan perasaan Fandi, juga tidak pernah memikirkan perasaan Dirga, termasuk perasaanku sendiri. Aku terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain. Aku selalu memikirkan ucapan orang lain. Dan karena itu semua, aku dan Dirga merasa sangat menderita bertahun-tahun. Aku tidak ingin semua itu terulang lagi Laura. Aku tidak ingin merenggut kebahagiaan Dirga bersama Fandi. Aku juga tidak ingin merenggut kebahagiaan Fandi untuk hidup bersama Dirga dan aku. Aku harap kamu mau mengerti. Aku tidak mau lagi egois pada diri sendiri. Kali ini aku akan lebih mengutamakan perasaanku, Dirga dan Fandi daripada perasaan kamu Laura.” Lanjut Jingga tersenyum menatap Laura. Laura seakan tertampar mendengar perkataan Jingga. Setelah memohon pada Jingga pun, ia masih tak berhasil mendapatkan Fandi.


“Kamu jahat Jingga. Kamu egois.” Balas Laura menunjuk wajah Jingga dengan jarinya.


“Laura tolong hargai keputusan kami!” Suara Fandi sedikit meninggi. Fandi seolah tak terima dengan ucapan Laura pada Jingga.


“Aku minta maaf Laura. Tapi memang hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku sangat mencintai Fandi. Aku tidak bisa kehilangan Fandi lagi.” Jingga kembali memberi pengertian pada Laura.

__ADS_1


“Ini tidak adil. Kalian jahat. Kamu jahat Fandi.” Laura berkali-kali membentak Fandi dan Jingga sebelum akhirnya menangis.


“Maaf Laura. Tapi aku yakin lambat laun kamu akan memahaminya. Semua yang terjadi padamu sekarang pasti ada hikmahnya. Pikirkan calon bayimu. Aku yakin kamu mampu melewatinya.” Fandi ikut memberi pengertian pada Laura.


“Kamu tolong jujur Fandi! Apa selama menikah 2 tahun tidak ada sedikit pun rasa cintamu padaku?” Tanya Laura sembari menyeka air matanya. Jingga terkejut mendengar pertanyaan Laura. Seketika Jingga melirik Fandi.


“Laura.. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada Jingga dan tidak bisa lagi mencintai wanita lain.” Jawab Fandi mantap.


“Aku tahu Laura. Tapi bagiku tidak ada wanita lain lagi yang lebih cantik dari Jingga. Aku sudah terlanjur tergila-gila pada wanita ini. Intinya aku tidak bisa mencintai wanita lain. Jingga adalah satu-satunya yang mengisi hati ini.” Balas Fandi sembari menunjuk dada sebelah kirinya.


“Tidak Fandi. Aku tidak bisa menerimanya. Kamu harus jadi milikku.” Laura berteriak keras sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Fandi dan Jingga terdiam untuk beberapa saat. Mereka tidak menyangka perdebatan dengan Laura berakhir seperti itu. Laura seperti tidak terima dengan keputusan mereka.


“Fandi, kenapa dia bersikap seperti itu?” Tanya Jingga menatap heran.


“Laura memang seperti itu. Mungkin karena dia anak tunggal dan terlalu di manja orang tua. Jadi setiap yang dia mau selalu dia dapatkan. Seperti halnya sekarang. Dia berusaha memaksakan kehendaknya sendiri.” Jawab Fandi seraya meraih jemari Jingga.


“Apa dia tidak akan melakukan hal yang nekat? Aku takut dia akan menyakiti dirinya sendiri.” Jingga kelihatan mengkhawatirkan Laura. Karena sebelum pergi Laura bercucuran air mata.


“Tidak akan sayang. Laura bukan orang seperti itu. Dia tidak mungkin melakukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya sendiri. Sekarang kamu tidak perlu memikirkan itu, yang harus kamu pikirkan hanyalah aku dan Dirga.” Fandi mencoba meyakinkan Jingga agar tidak terlalu mengkhawatirkan Laura. Jingga mengangguk pertanda mengerti.


*****

__ADS_1


__ADS_2