
Seperti biasa Jingga di antar jemput oleh Riyan ke sekolah. Siang itu Jingga menunggu Riyan lumayan lama.
Dari kejauhan Fandi dan Riko memperhatikan Jingga. Fandi sengaja belum pulang, karena ingin memastikan Jingga aman.
Riyan akhirnya sampai di depan gerbang sekolah. Namun Riyan melihat Fandi yang sedang memperhatikan Jingga dari kejauhan kembali tersulut emosi lagi. Riyan mendadak turun dari mobil dan bergegas untuk menghampiri Fandi.
Jingga yang kebetulan ada disana sigap berlari ke arah mereka. Belum sempat Fandi bersiap, kepalan tangan Riyan sudah mendarat di dagu Fandi. Kali ini Riyan berhasil memukul Fandi. Jingga berteriak histeris melerai perkelahian mereka. Tanpa sengaja tangan Riyan pun mengenai Jingga. Jingga sangat marah dan berteriak pada Riyan. Riyan baru sadar kalau pukulannya tadi mengenai Jingga.
“Stop!” Teriak Jingga sambil memegangi dahinya.
“Jingga, maafin kakak? Kakak gak sengaja.” Riyan merasa bersalah, karena pukulannya mengenai dahi Jingga.
“Tolong kakak pergi dari sini, please!” Ujar Jingga dengan nada kesalnya.
“Okee.. Ayo kita pulang!” Ajak Riyan berusaha membantu Jingga berdiri, namun Jingga mengibaskan tangannya.
“Aku gak mau pulang sama kakak. Aku sudah bilang berkali-kali. Aku gak suka cowok kasar. Sekarang tolong kakak pergi!” Kali ini Jingga benar-benar sangat marah.
“Tapi kamu harus tetap pulang sama kakak.” Perintah Riyan.
“Aku gak mau. Mulai detik ini aku mau kita PUTUS.” Ucap Jingga setengah berteriak.
Riyan pergi meninggalkan mereka. Riyan tampak sangat malu. Di dalam mobilnya, Riyan kembali emosi dan berkali-kali meninju stir mobilnya.
__ADS_1
“Fandi, aku minta maaf. Ini yang kedua kalinya, dia mukulin kamu.” Jingga menunduk merasa bersalah, karena selalu menjadi penyebab perkelahian Fandi dan Riyan.
“Sudahlah. Aku gak apa-apa kok.” Balas Fandi tersenyum.
“Terus kamu pulangnya bagaimana Jingga?” Tanya Riko sok akrab.
“Aku sih gampang. Aku bisa naik ojek atau taksi.” Jawab Jingga santai.
“Kalau kamu mau, kita bisa antar kamu dulu pulang. Baru setelah itu kami pulang. Bagaimana?” Riko sengaja menawari Jingga. Riko bermaksud memanfaatkan kesempatan itu agar Fandi bisa lebih dekat dengan Jingga yang baru saja putus dari kekasihmya.
“Hhhmmm..” Jingga menarik nafas sambil berpikir.
“Aku rasa Fandi juga gak keberatan.” Sahut Riko melirik Fandi.
“Beneran gak apa?” Tanya Jingga memastikan.
“Iyaa.” Jawab Fandi singkat. Riko hanya tersenyum melihat mereka berdua.
*****
“Fandi, Riko mampir dulu sebentar?” Jingga menawari Fandi dan Riko seraya membuka pintu mobil hendak turun.
“Gak usah. Kamu masuk saja langsung ke rumah.” Balas Fandi sungkan.
__ADS_1
“Ayo Fandi! Sekalian aku bersihin luka kamu, please!” Bujuk Jingga memohon.
“Bro, lu turun aja bentar. Gue tunggu di mobil.” Ujar Riko ikut menyuruh Fandi untuk menuruti permintaan Jingga.
Fandi akhirnya menuruti permintaan Jingga dan Riko. Ia turun dari mobil dan mengikuti Jingga dari belakang. Sesampainya di teras, Jingga menyuruh Fandi untuk duduk dan Jingga langsung masuk ke dalam rumah.
Tak beberapa lama Jingga keluar membawa handuk kecil dan mangkok berisi air es.
“Fandi, maaf. Aku kompres memar kamu.” Ucap Jingga lembut. Tangannya mulai mengompres bibir dan dagu Fandi yang memar akibat di pukuli Riyan. Jingga mengompresnya dengan penuh kelembutan. Fandi merasa sangat senang saat itu.
“Sini handuknya.” Pinta Fandi seraya mengambil handuk bekas mengompresnya dari tangan Jingga.
“Buat apa?” Tanya Jingga. Saat Jingga masih bertanya, tiba-tiba tangan Fandi mulai menyentuh kening Jingga. Jingga merasakan sakit, karena juga sempat kena pukulan dari Riyan.
“Aauuww..” Keluh Jingga.
“Sakit?” Tanya Fandi khawatir.
“Udah gak.” Jawab Jingga. Mata mereka kembali bertemu dan saling tersenyum.
“Aku pulang dulu. Terima kasih.” Fandi lalu berdiri dan bergegas keluar dari gerbang.
*****
__ADS_1