
“Hai Fandi, aku Laura.” Sapa seorang gadis sembari mengulurkan tangannya.
“Hai, silahkan duduk!” Balas Fandi mempersilahkan Laura untuk duduk.
Laura terlihat santai. Sesekali Laura membuat lelucon yang berhasil membuat Fandi tertawa.
Laura memang cantik. Kulitnya yang putih, tinggi semampai, langsing, rambutnya ikal dan panjang, mata cokelat dan hidungnya mancung. Tapi sayang Fandi sudah terlanjur menggilai Jingga. Hingga sosok Laura sama sekali tidak mengusik relung hatinya.
“By the way, kata papa kamu setuju untuk menikahi aku?” Tanya Laura tanpa basa basi.
“Iya.” Jawab Fandi singkat.
“Kalau aku boleh tahu kenapa?” Pertanyaan Laura membuat Fandi yang sedang fokus dengan makanannya terhenti sejenak.
“Karena aku bekerja dengan pak Irwan.” Jawab Fandi seadanya.
“Bukankah kamu dan papa membuat suatu perjanjian?” Tanya Laura menyelidik.
“Maksudmu?” Fandi mengernyitkan dahinya.
“Tidak usah berbohong. Aku sudah sering bertemu dengan pria sepertimu.” Imbuh Laura mencibir Fandi.
“Terserah kamu mau bilang apa.” Balas Fandi santai.
“Kamu tidak akan berhasil. Kalau papa berpikir setelah menikahkan aku dengan pria sepertimu akan membuat aku lebih baik. Itu salah besar! Aku akan selalu begini. Karena inilah jati diriku.” Ujar Laura dengan bangganya. Fandi tersenyum heran dengan sikap Laura.
“Jujur aku sangat heran ada wanita dengan watak sepertimu.” Ucap Fandi tersenyum heran.
“Kenapa memangnya?” Tanya Laura penasaran melihat ekspresi Fandi.
__ADS_1
“Iya. Wanita yang bangga dengan jati dirinya yang terlihat bodoh di mata orang lain.” Jawab Fandi lancang tanpa memikirkan Laura akan merasa terhina.
“Bodoh? Lancang kamu!” Balas Laura dengan nada yang mulai meninggi. Beruntung mereka memesan ruangan VIP di restoran itu. Sehingga pembicaraan mereka tidak di dengar oleh orang lain.
“Bukankah memang benar? Aku sudah mendengar semua tentang kamu dari pak Irwan. Dunia malam, pergaulan bebas, apa yang kamu cari?” Tanya Fandi masih dengan ekspresi heran.
“Kamu tidak akan mengerti.” Jawab Laura ketus.
“Memang aku tidak akan mengerti. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengerti. Dan aku juga tidak berniat mencoba untuk mengerti.” Balas Fandi santai sembari mengangkat alisnya.
“Kamu sudah tahu kan pernikahan itu sakral. Kenapa kamu menikahi aku yang tidak akan bisa menjadi istri seperti istri diluar sana?” Tanya Laura penasaran dengan alasan Fandi.
“Aku tidak ingin mengecewakan pak Irwan. Beliau sudah sangat mempercayaiku.” Jawab Fandi sembari menghembuskan nafasnya perlahan.
“Kamu sangat menghormati papa. Apa itu tulus atau kamu punya tujuan lain?” Tanya Laura menyelidik.
“Huuuft.. Memang semua pria sama.” Laura mendengus.
Setelah berdebat sebentar, mereka kembali menikmati hidangan di meja. Fandi fokus dengan makanannya tanpa menoleh sedikit pun pada Laura. Begitu pun sebaliknya, Laura juga fokus dengan makanannya.
Tidak beberapa lama kemudian mereka keluar meninggalkan restoran.
*****
“Ooh yaa Fandi, kamu tahu club malam yang bagus disini?” Tanya Laura sambil menoleh-noleh ke arah lain.
“Aku tidak tahu.” Balas Fandi singkat.
“Apa? Kamu tidak tahu? Hahahaaaa..” Laura menertawakan Fandi. Laura merasa Fandi sangat kolot dan ketinggalan zaman.
__ADS_1
Fandi tak bergeming dengan suara tawa Laura. Ia bahkan berjalan berlalu meninggalkan Laura yang masih tertawa.
“Fandi.” Panggil Laura. Laura kemudian mengikuti Fandi.
“Ada apa?” Tanya Fandi.
“Kamu hidup di zaman apa siih?” Laura balik bertanya.
“Kenapa memangnya?” Tanya Fandi lagi.
“Dimana club malam saja tidak tahu Hahahaaaa..” Laura kembali tertawa mencemooh Fandi.
“Itu karena aku sangat menghargai waktu. Club malam hanya membuang-buang waktu dan uang.” Jawab Fandi tersenyum sinis.
“Terserah apa katamu. Sekarang kamu mau kemana?” Balas Laura masih mengikuti langkah Fandi.
“Aku mau pulang.” Fandi menghentikan langkah kakinya sesaat melihat Laura.
“Bukankah kamu bilang ingin mengenal diriku dulu? Kenapa sudah mau pulang saja?” Tanya Laura merasa heran, karena mereka baru saja bertemu dan berbicara.
“Aku merasa sudah cukup mengenal kepribadianmu. Jadi untuk apa aku harus berlama-lama?” Jawab Fandi kembali melangkahkan kakinya.
“Okee.. Okee.. Jadi bagaimana pendapatmu?” Tanya Laura lagi.
“Kita bertemu di hari H saja.” Jawab Fandi sembari meninggalkan Laura.
‘Kamu tidak akan berhasil Fandi! Aku tidak seperti wanita lain yang bisa dengan mudah untuk di kendalikan, meskipun sudah menjadi istrimu nanti.’ Ucap Laura dalam hatinya.
*****
__ADS_1