
“Fandi.” Suara seorang perempuan memanggil Fandi. Fandi mengikuti sumber suara dan akhirnya Fandi menemukannya.
“Jingga. Apa yang kamu lakukan disitu?” Tanya Fandi heran melihat Jingga duduk di tepi tebing yang sangat tinggi.
“Kamu masih mengingatku?” Jingga balik bertanya sambil tersenyum.
“Tentu saja aku masih mengingatmu. Aku tidak mungkin melupakanmu Jingga. Aku masih mencintaimu.” Jawab Fandi membalas senyuman Jingga.
“Aku akan melompat kesana Fandi.” Ujar Jingga mulai berdiri dari duduknya.
“Jangan Jingga! Kamu akan jatuh. Tetap disitu, biar aku yang kesana.” Balas Fandi melarang Jingga untuk melompat dari tebing.
“Tidak Fandi. Aku akan melompat untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu.” Jingga mulai menangis.
“Jangan Jingga! Biar aku yang ke tempatmu. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Itu sepenuhnya salahku.” Fandi semakin takut melihat posisi kaki Jingga semakin berada di tepi tebing.
“Fandi.” Panggil Jingga.
“Tetap disitu! Aku pasti akan kesana menjemputmu.” Ujar Fandi meyakinkan Jingga.
“Maafkan aku Fandi.” Jingga tetap melangkahkan kakinya,
Dan..
“Jingga!!!” Teriak Fandi menyaksikan tubuh Jingga jatuh dari tebing.
*****
Fandi tersentak.
“Astagfirullah..” Fandi spontan duduk. Keringatnya bercucuran, nafasnya tersenggal-senggal.
Fandi menyeka keringat di wajahnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Nafasnya tak beraturan.
__ADS_1
Sudah lama Fandi tidak lagi memimpikannya Jingga. Malam ini ia kembali bermimpi buruk.
“Sepertinya rasa rinduku yang besar membuat aku bermimpi seperti ini. Ya Allah tolong jaga Jingga. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya.”
Tidak lama, Fandi kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Tiba-tiba ponselnya berdering. Fandi langsung mengangkatnya.
“Hallo..” Sahut Fandi.
“Hallo Fandi, Gue otw jemput lu ya.” Riko berbicara seperti sedang tergesa-gesa.
'Tumben Riko memanggil namaku?' Fandi bertanya-tanya dalam hati.
“Ada apa Rik? Kita mau kemana memangnya?” Tanya Fandi penasaran.
“Lu mau ketemu Jingga kan?” Jawab Riko.
“Iya, gue siap-siap.” Balas Fandi sembari menutup teleponnya.
Fandi kemudian bergegas mengganti bajunya.
*****
“Riko sudah sampai saja.” Fandi bergegas membukakan pintu untuk Riko.
“Ayo!” Ajak Riko tergesa-gesa.
“Kita mau kemana Rik?” Tanya Fandi semakin penasaran. Fandi melihat raut wajah Riko yang tak biasa.
“Lu harus lihat Jingga hari ini.” Jawab Riko dengan ekspresi datar.
“Lu sudah ketemu Jingga? Kenapa baru ajak gue sekarang?” Tanya Fandi lagi mengernyitkan dahinya meminta penjelasan pada Riko.
“Maaf.” Lagi-lagi Riko menjawab dengan ekspresi wajah yang datar.
__ADS_1
“Rik, kenapa ngebut? Pelan-pelan saja Rik.” Fandi mulai gelisah melihat tingkah aneh Riko yang tak biasa. Riko menyetir dengan mengebut tak seperti biasanya.
“Kita harus cepat. Kalau tidak lu akan menyesal.” Jawab Riko menatap Fandi sekilas.
“Maksud lu Rik?” Fandi mulai penasaran. Ia mencoba memastikan apa maksud dari jawaban Riko.
“Kalau lu gak ketemu Jingga hari ini, lu pasti akan menyesal seumur hidup lu.” Riko kembali menjelaskan dengan ekspresi wajah yang sama.
“Jingga kenapa Rik?” Fandi semakin penasaran.
Akhirnya mobil Riko berhenti. Riko mengajak Fandi untuk turun. Fandi semakin bingung. Riko mengajak Fandi masuk ke sebuah rumah yang sepertinya tak asing bagi Fandi.
'Bukankah ini rumah orang tuaku?' Fandi tampak tak percaya Riko membawanya kesana.
“Kenapa kita kesini Rik? Ini rumah orang tuaku. Jingga mana?” Tanya Fandi dengan nada kebingungan.
“Jingga ada didalam sana.” Riko menunjuk sebuah kamar yang berada paling ujung. Kamar itu dulunya adalah kamar Fandi.
Fandi melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke kamar itu. Fandi melihat ruangan itu tampak berbeda dari kamarnya dulu, ruangan berwarna putih. Fandi mengamati sekelilingnya, di sudut kamar ada seorang wanita yang terbaring di ranjang. Fandi kemudian mendekatinya.
“Jingga.” Betapa kagetnya Fandi ternyata Jingga wanita yang terbaring di ranjang itu.
Jingga memakai gaun persis seperti terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya pucat pasi. Fandi duduk di tepi ranjang. Ia memberanikan diri untuk membelai wajah Jingga, karena memang ia sangat merindukan Jingga.
“Kenapa tubuhmu dingin sekali?” Tanya Fandi sembari membelai lembut pipi Jingga.
“Jingga, bangun! Apa yang terjadi padamu Jingga?” Fandi menarik tubuh Jingga ke dalam pelukannya. Berkali-kali Fandi mencoba membangunkan Jingga, namun Jingga sama sekali tak meresponnya.
“Fandi, Jingga lu sudah meninggal.” Ujar Riko yang sudah berada di belakang Fandi.
“Kenapa dengan Jingga Rik?” Tanya Fandi terisak. Riko diam seribu bahasa.
Fandi sangat terpukul. Ia menangis terisak sambil memeluk tubuh wanita yang sangat di cintainya itu.
__ADS_1
*****