
Di sekolah semua mulai membicarakan Jingga yang saat ini sudah jatuh miskin dan menumpang tinggal di rumah tantenya.
Fiki yang menyebarkan berita itu, karena Fiki merasa sakit hati di tolak mentah-mentah oleh Jingga. Fiki berusaha ingin membuat Jingga malu di sekolahnya.
Fandi yang baru saja mendengar berita itu ikut merasa kesal. Ia di beritahu temannya bahwa Fiki yang menyebarkan berita tersebut.
‘Sial si Fiki. Dia benar-benar keterlaluan. Tapi kenapa dia ingin membuat Jingga malu? Apa mereka sudah putus? Apa akhirnya Jingga tahu kalau Fiki selingkuh?’ Seribu pertanyaan muncul dalam benak Fandi. Ia menerka-nerka alasan Fiki ingin mempermalukan Jingga di sekolah.
Jingga baru saja sampai. Jingga merasa aneh, karena semua melihat ke arahnya dan berbisik seolah-olah ada sesuatu yang salah dari dirinya.
‘Kenapa semua melihat aku seperti itu? Apa ada yang salah dari penampilan aku? Atau.. FIKI?’ Gumam Jingga mulai kesal. Jingga yakin Fiki sudah menceritakan hal yang tidak-tidak kepada semua orang di sekolah.
Jingga menghampiri salah satu siswi yang sama sekali tidak di kenalnya. Jingga mulai bertanya kenapa mereka melihatnya dan berbisik-bisik.
“Maaf, kamu kenapa melihat aku sambil berbisik seperti itu?” Tanya Jingga kepada salah satu siswi perempuan yang sedang berkumpul.
“Kenapa memangnya? Aku punya mata, terserah aku donk.” Jawab si perempuan dengan santai.
“Tapi kamu melihat ke arah aku dan berbisik. Itu gak sopan.” Balas Jingga tidak suka dengan jawaban si perempuan.
__ADS_1
“Dasar gak tahu diri. Sudah miskin masih saja belagu.” Si perempuan mulai berteriak pada Jingga dan teman-temannya bersorak menertawakan Jingga.
“Eeh.. Aku miskin pun gak pernah minta sama kamu. Kamu yang gak tahu diri, masih minta sama orang tua saja sudah sok." Balas Jingga lagi sambil menunjuk-nunjuk ke wajah si perempuan.
“Hahahhaahaaaa...” Semua kompak menertawakan Jingga.
Fandi yang kebetulan berada disana tidak tahan melihat Jingga di hina semua orang. Ia segera menghampiri Jingga dan menariknya menjauh dari kerumunan.
“Lepas. Ngapain sih?” Jingga melepaskan tangannya yang di tarik oleh Fandi.
“Sudah, kamu gak usah meladeni mereka.” Balas Fandi.
“Aku Fandi.. Maaf tadi aku terpaksa menarik tangan kamu dan membawamu kesini.” Jawab Fandi memberitahukan namanya kepada Jingga dan meminta maaf.
“Fandi? Jadi kamu yang namanya Fandi?” Jingga menatap Fandi sambil tersenyum tak percaya kalau sedang berhadapan dengan seseorang yang di bahas oleh Sonya beberapa waktu lalu.
“Iya.” Balas Fandi singkat.
“Kamu pacarnya Sonya kan?” Tanya Jingga penasaran apa hubungan Fandi dengan Sonya.
__ADS_1
“Pacar Sonya? Maaf, aku dan Sonya tidak pacaran.” Jawab Fandi mulai risih. Ia mencoba meyakinkan Jingga kalau ia dan Sonya tidak ada hubungan apa-apa.
“Tapi beberapa hari yang lalu Sonya sempat marah sama aku. Sonya pikir kalau aku dan kamu punya hubungan. Aku malah ketawa-ketawa sendiri mendengarnya, karena kita sebelum ini kan belum pernah kenal.” Jingga tersenyum menatap Fandi yang dari tadi tak berhenti menatapnya saat berbicara.
Fandi hanya tersenyum dan kemudian berlalu meninggalkan Jingga.
‘Ternyata itu yang namanya Fandi. Dan dia bukan pacar Sonya tapi gebetan Sonya. Sederhana dan kalem. Lumayan.' Jingga senyum-senyum sendiri memperhatikan Fandi yang makin jauh.
Sementara itu Fandi langsung menemui Sonya yang sedang berada di kelasnya.
“Sonya, aku mau bicara?” Ajak Fandi.
“Fandi.. Iya, kamu mau bicara apa?” Sonya tersenyum bangga. Sonya tidak menyangka pagi-pagi Fandi sudah mencarinya dan mengajaknya untuk bicara.
“Maaf Sonya. Kamu gadis yang baik, tapi aku gak mau kamu salah sangka. Aku takut pertemanan kita jadi di salah artikan oleh orang lain. Aku disini mau fokus sekolah. Terima kasih karena kamu selalu baik selama ini sama aku.” Setelah berbicara Fandi pergi meninggalkan Sonya yang masih terdiam.
'Apa itu artinya Fandi menolak aku?' Batin Sonya merasa patah hati.
*****
__ADS_1