
Sebelum membawa tas Jingga, Fandi kembali memeriksa ponsel Jingga. Ternyata ponselnya sudah mati, karena baterainya habis. Akhirnya Fandi mengecas ponsel Jingga sembari menunggu Dirga sarapan.
Setelah terisi sedikit, Fandi mencoba menghidupkan ponsel Jingga. Benar saja saat ponselnya mulai hidup beberapa pesan langsung masuk. Fandi membuka pesan masuk secara berurutan yang ternyata semuanya dari Ferdinan.
Pel*cur mur*han lu benar2 sudah berani ya? Jangan bikin kesabaran gua habis.
Fandi terkejut membaca pesan masuk dari Ferdinan. Perkataan Ferdinan benar-benar sangat kasar kepada Jingga.
‘Jingga, apa kamu masih akan bertahan dengan pria seperti ini?’ Gumam Fandi terdiam setelah membaca pesan dari Ferdinan.
__ADS_1
Fandi lalu membuka pesan selanjutnya yang masih dari Ferdinan.
*Apa lu sudah dapat yg lebih kaya dari gua? Dasar anj*ng!! Sudah gue kasih makan masih belagu*.
Isi pesan yang kedua tidak berbeda jauh dari yang pertama, masih kasar seolah Jingga tidak ada harganya sebagai seorang istri. Fandi mulai emosi membacanya. Namun Fandi masih lanjut ingin membaca pesan selanjutnya.
*Belum kapok lu gua hantam ya? Awas lu berhasil gue temuin, habis lu gue bunuh sekalian sama anak har*m itu*.
Lu gak perlu lagi minta cerai sama gua. Gua yg akan menceraikan lu wanita bangs*t! Untung harta gua gak pernah gua kasih ke lu sepersen pun. Gua gak sudi lama2 susah payah ngasih makan lu & anak har*m lu. Wanita mur*han, bisanya cuma bikin anak har*m dengan mantan kekasih lu. Nyesal gua nikahi wanita kayak lu! Pantas saja kekasih lu dulu gak mau nikahi lu, wanita mur*han cuma buat es*k2..
__ADS_1
Fandi makin menjadi-jadi emosinya setelah membaca pesan masuk yang terakhir ini. Ia mengambil ponselnya berniat ingin menghubungi Ferdinan, karena saking emosinya. Seperti tidak rela ada orang yang berani menghina Jingga wanita yang sangat di cintainya.
Fandi menyalin nomor Ferdinan ke ponselnya. Saat sedang memencet nomor di ponselnya, tiba-tiba masuk lagi pesan baru di ponsel Jingga. Fandi kemudian segera membukanya.
Tumben nomor lu aktif lagi? Cepat kasih tahu dimana lu sekarang, biar gua bunuh lu sama anak har*m lu itu. Nyesal gua nikahi lu! Gak becus jadi istri. Mana mau gua ngasih duit sama istri yg gak mau melayani gua. Nikah cuma utk bisa makan, tapi melayani hajat gua lu gak mau. Asal lu tahu, gua bisa bayar pelac*r yg lebih cantik dari lu. Jangan sok cantik! S*mpah seperti lu banyak berserakan di luar sana. Nyesal gua pernah mungut samp*h kayak lu!
Setelah membaca pesan itu, Fandi segera menyalin nomor Ferdinan di ponselnya dan langsung menghubunginya. Fandi sengaja keluar dari kamarnya untuk menjauh dari Dirga. Ia tidak mau Dirga terganggu dengan pembicaraannya nanti dengan Ferdinan.
Beberapa kali Fandi mencoba menghubungi nomor Ferdinan, tapi tidak di angkat-angkat. Fandi tidak menyerah. Ia kembali menghubungi nomor tersebut. Ia sudah terlanjur emosi dengan pesan masuk yang di kirimkan berkali-kali oleh Ferdinan pada Jingga.
__ADS_1
“Aku harus memastikan bahwa Dirga memang adalah anakku. Aku yakin itu. Jika kenyataannya Dirga memang benar adalah anakku, itu artinya Jingga tidak pernah menggugurkan anak kami. Dia rela melahirkan dan membesarkan buah cinta kami.” Fandi mulai yakin setelah membaca isi pesan dari Ferdinan yang mengatakan Dirga adalah anak Jingga dan mantan kekasihnya.
*****