
5 jam berlalu, belum juga ada tanda-tanda kepulangan Laura. Fandi masih duduk di sofa menonton televisi. Sesekali ia melihat jam di ponselnya.
“Kemana wanita itu? Sudah selarut ini belum juga pulang?” Celoteh Fandi.
Fandi membaringkan tubuhnya di sofa dan akhirnya tertidur.
Laura di antar oleh teman-teman bulenya dengan membawa tas berisi pakaiannya dari rumah lama. Laura masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap.
Fandi yang mengetahui kedatangan Laura sengaja duduk dengan tenang di sofa.
“Ehem.. ehemm..” Fandi berdehem ketika Laura mulai mengendap-endap hendak menaiki tangga. Laura tidak tahu jika Fandi sedari tadi memperhatikan gerak geriknya dari ruang keluarga.
“Fan..di..” Balas Laura terbata-bata. Laura terkejut melihat Fandi tengah duduk di ruang keluarga.
“Sudah selarut ini kamu baru pulang?” Tanya Fandi kemudian berdiri menghampiri Laura.
__ADS_1
“Ii..iyaa.. Memangnya kenapa? Bukan urusanmu juga kan?” Kali ini Laura berusaha untuk menjawab pertanyaan Fandi dengan pertanyaannya juga.
“Istri seperti apa yang keluar dari rumah tanpa meminta izin dari suami? Bahkan pulang selarut ini?” Fandi sedikit mengeraskan suaranya.
“Sorry ya Fandi! Dari awal aku sudah pernah bilang, kamu tidak akan berhasil mengendalikanku.” Laura juga ikut mengeraskan suaranya.
“Aku sudah tahu betapa liarnya dirimu. Tapi setidaknya tolong jaga nama baik keluargamu.” Fandi mulai membentak Laura. Laura terkejut Fandi berani membentaknya.
“Fandi.. Kamu memang suamiku sekarang! Tapi kamu tidak punya hak mengatur hidupku. Tidak ada satu pun yang berhak, termasuk orang tuaku sendiri.” Laura tak mau kalah. Laura makin hebat membentak Fandi.
*****
Fandi membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia merasa sangat lelah hari itu karena perjalanan. Di tambah berdebat dengan Laura yang selalu tidak mau kalah.
Di dalam benaknya Fandi merasa menyesal telah mengambil keputusan untuk menikahi Laura. Bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan wanita yang keras seperti Laura. Sangat berbeda jauh dari Jingga yang begitu lemah lembut dan penurut. Tapi itulah kenyataan yang harus ia jalani. Istrinya adalah Laura bukanlah Jingga cinta pertamanya.
__ADS_1
‘Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Jingga dan belajar menerima Laura? Sifat mereka sangat jauh berbeda. Laura bukan tipeku. Aku tidak suka wanita pembangkang.’ Batin Fandi.
Fandi merasa terjebak dengan pilihannya sendiri. Ia berpikir menikah dengan Laura, selain sebagai batu loncatan untuk kariernya, juga bisa membuatnya bisa melupakan Jingga yang kini sudah bahagia dengan kehidupannya. Namun kenyataannya kehadiran Laura malah membuat dirinya semakin sulit membuka lembaran baru.
*****
Di kamarnya Laura menyusun pakaiannya ke dalam almari dan menata kamar barunya itu senyaman mungkin. Laura sama sekali tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Fandi. Baginya Fandi hanyalah sebuah syarat yang di ajukan oleh papanya agar dirinya mendapat warisan.
“Apa aku terlalu keterlaluan sama Fandi? Bagaimana kalau nanti dia mengadukan kepada papa?” Laura bergumam sendiri. Jujur Laura takut bila Fandi akhirnya mengadu pada pak Irwan jika dirinya masih saja keluar malam.
“Tidak! Aku tidak boleh membiarkan Fandi melakukan itu. Aku harus bernegosiasi dengannya.”
Laura meninggalkan kamarnya hendak ke kamar Fandi yang berada di lantai bawah. Laura memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamar Fandi. Tapi sayang Fandi sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap lanjut tidur.
*****
__ADS_1