Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 45


__ADS_3

Ponsel Jingga berdering, Jingga meraih ponselnya. Ternyata ada pesan masuk. Jingga segera membuka pesan tersebut.


Aku di luar.


Jingga bergegas meninggalkan kamarnya pergi keluar. Di luar gerbang sudah ada mobil yang menunggunya. Jingga segera masuk ke dalam mobil tersebut.


“Ada apa kak?” Tanya Jingga heran, karena mereka tidak punya janji untuk bertemu.


“Temenin kakak sebentar.” Ajak Andre yang saat ini menjadi kekasih Jingga.


“Okee.” Jingga menyetujui ajakan Andre. Kemudian Andre menghidupkan mesin mobilnya dan mulai jalan.


Sepanjang perjalanan, Andre menggenggam tangan Jingga. Jingga merasa senang dengan sikap romantis Andre yang tak biasa. Akhirnya mobil mereka berhenti di sebuah club malam. Betapa terkejutnya Jingga!


“Tempat apa ini kak?” Tanya Jingga keheranan.


“Temenin kakak sebentar ya.” Ajak Andre sambil memegang pipi Jingga. Akhirnya Jingga menuruti permintaan Andre untuk turun dan masuk ke club malam tersebut.


Sesampainya di dalam club, Andre memesan minuman.


“Kamu mau pesan minuman yang mana beb?” Tanya Andre sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama musik club.

__ADS_1


“Aku gak minum kak.” Jawab Jingga polos.


“Gak apa-apa sayang. Minum saja!” Paksa Andre. Namun Jingga tetap menolak dan memilih untuk pergi keluar dari club. Andre segera mengejarnya.


“Beb.. Kamu kenapa sih?” Teriak Andre seraya mengejar Jingga.


“Aku sudah bilang aku gak mau minum minuman seperti itu kak.” Jawab Jingga setengah berteriak.


“Okee Okee.. Kalau begitu kamu temani aku saja.” Ujar Andre kembali merangkul Jingga dan menariknya masuk ke dalam club lagi.


Selama di dalam club Jingga memperhatikan tingkah Andre. Jingga tidak menyangka akan berpacaran dengan laki-laki seperti Andre yang sepertinya sudah terbiasa dengan dunia malam. Beberapa kali Jingga melihat Andre merayu gadis-gadis di dalam club.


‘Apa-apaan siih ini?’ Umpat Jingga dalam hati. Jingga terlihat kesal melihat perilaku Andre yang genit bukan main. Andre berkali-kali mencolek dan menyentuh tubuh beberapa gadis yang berpakaian seksi di dalam club.


“Kak, sudah larut malam. Tolong antarkan aku pulang!” Pinta Jingga memohon pada Andre. Jingga tidak pernah keluar selarut itu. Jingga takut om dan tantenya akan marah jika mengetahui ia masih kelayapan di luar.


“Okee.. Ayo kakak antar pulang!” Andre menarik tangan Jingga keluar dari club.


Di perjalanan Andre menepikan mobilnya di jalanan yang sepi.


“Beb..” Bisik Andre di telinga Jingga. Andre mulai mendekati Jingga dan hendak menciumnya. Jingga dengan sigap menghindarinya.

__ADS_1


“Kakak mau apa?” Tanya Jingga ketakutan.


“Kakak mau mencium kamu.” Jawab Andre langsung menyosor lagi. Kali ini tangannya mulai memaksa ingin memeluk Jingga.


“Jangan kak. Aku gak mau.” Tolak Jingga berusaha melepaskan diri dari Andre. Tanpa pikir panjang Jingga menbuka pintu mobil Andre dan berlari keluar.


“Jingga!!“ Teriak Andre dari dalam mobilnya.


*****


Jingga merasa sangat ketakutan dan terus berlari tanpa arah. Yang ada dalam pikirannya hanyalah ingin menyelamatkan diri dari Andre laki-laki brengsek yang mencoba berbuat tidak senonoh padanya. Jingga terus menangis sepanjang jalan. Jingga tampak sangat ketakutan dan trauma mengingat perbuatan Andre.


Saat sedang berjalan, Jingga melihat beberapa gerombolan preman sedang duduk di depan warung. Para preman melihat ke arah Jingga dan hendak menghampiri Jingga. Jingga yang masih ketakutan langsung berbalik arah dan kembali berlari. Secara tak sengaja Jingga menabrak seseorang.


“Ma..maaf..” Ucap Jingga gemetaran.


“Jingga.” Jingga seperti mengenal suara lelaki itu.


“Fandi.” Jingga mengangkat wajahnya dan mendapati sosok Fandi sedang berdiri di depannya.


“Kamu kenapa?” Tanya Fandi penasaran. Jingga tak menjawab, Jingga langsung memeluk Fandi dan menangis untuk yang kedua kalinya dalam pelukan Fandi.

__ADS_1


*****


__ADS_2