Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 40


__ADS_3

Seminggu kemudian Jingga dan kekasihnya yang bernama Riyan masuk ke sebuah supermarket. Riyan mengantar Jingga berbelanja kebutuhan sehari-hari. Kebetulan di supermarket yang sama Fandi dan Riko juga sedangi berbelanja kebutuhan mereka.


Jingga beberapa kali melihat ke arah Fandi. Fandi yang menyadari itu sesekali melirik Jingga dan kemudian memalingkan mukanya. Fandi masih saja merasa sakit hati melihat Jingga bersama sang lelaki. Tanpa di sadari, Riyan sedari tadi memperhatikan tingkah Jingga dan Fandi. Riyan merasa kesal dan mengepalkan tangannya.


Tak beberapa lama kemudian Fandi keluar, karena merasa tidak tahan lagi melihat kemesraan Jingga dan kekasihnya. Ia meninggalkan Riko di dalam supermarket. Riyan yang mengetahui itu bergegas keluar menghampiri Fandi.


“Heii lu.” Sahut Riyan seraya menghampiri Fandi.


“Iya, kenapa?” Tanya Fandi.


“Lu kenapa lihatin cewek gue dari tadi? Lu suka?” Riyan kembali bertanya dengan nada membentak.


Fandi tak mengubris pertanyaan Riyan. Ia lebih memilih meninggalkan Riyan yang masih berbicara. Namun Riyan merasa kesal dengan sikap Fandi mengabaikannya saat bertanya. Tanpa pikir panjang Riyan menarik Fandi dan hendak meninjunya. Fandi dengan sigap langsung menangkiss kepalan tinju Riyan. Berkali-kali Riyan berusaha untuk mendaratkan tinjunya ke wajah Fandi, tapi Fandi selalu berhasil mengelak.


Semua orang histeris melihat perkelahian mereka. Jingga yang tak sengaja melihat dari kaca supermarket bergegas berlari keluar dan meninggalkan barang belanjaannya. Sementara Riko sudah lebih dulu berada di luar.

__ADS_1


“Anj*ng lu!! Jangan banyak bacot.” Umpat Riyan. Semua orang yang menyaksikan bersorak melihat kebodohan Riyan yang berkali-kali ingin memukul Fandi, namun selalu gagal terus.


Fandi dengan tenang berlalu tanpa menghiraukan ocehan Riyan. Jingga datang dan menarik tangan Riyan. Jingga heran kenapa Riyan bisa terlibat perkelahian dengan Fandi. Padahal setahu Jingga, Riyan dan Fandi sama sekali tidak saling kenal.


*****


“Kak ada apa? Kenapa berantem sama Fandi?” Tanya Jingga keheranan.


“Ooh.. Jadi nama si bangs*t itu Fandi.” Jawab Riyan dengan kata-kata kasarnya.


“Belain aja terus. Kamu sama dia ada hubungan apa?” Tanya Riyan dengan nada membentak dan menunjuk-nunjuk Jingga dan Fandi.


“Maksud kakak apa sih?” Tanya Jingga bingung.


“Aahh.. sudahlah. Gak usah belagak beg*. Kalian pernah pacaran atau masih pacaran?” Riyan yakin antara Jingga dan Fandi memang ada sesuatu. Karena Riyan sempat melihat mata mereka saling bertatapan beberapa kali.

__ADS_1


“Kakak jangan sembarangan? Fandi itu teman sekolah aku.” Jingga berusaha membela diri. Jingga tak mau Riyan makin menjadi-jadi marah dan menuduh mereka berdua.


“Terus kenapa kalian berdua tatap-tatapan? Kamu pikir aku buta?” Riyan masih saja emosi dan semakin menjadi-jadi membentak Jingga.


Fandi menyaksikan Jingga di bentak oleh Riyan. Fandi berusaha menahan emosinya. Ia tak mau memperkeruh suasana. Meskipun Jingga adalah gadis yang ia cintai, tapi saat ini ia tak punya hak apa-apa untuk membela Jingga.


“Okee.. Kalian selesaikan masalah kalian. Gue sama Fandi pergi dulu.” Timpal Riko sambil merangkul Fandi menjauh dari Jingga dan kekasihnya.


Fandi dan Riko kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari supermarket meninggalkan Jingga bersama Riyan.


“Please kak, ayo kita pergi! Malu banyak orang yang melihat.” Ajak Jingga sambil menarik tangan Riyan menuju mobilnya.


“Kak, jangan marah lagi? Aku dan Fandi itu teman dari dulu. Gak pernah ada apa-apa antara kami. Percaya deh?” Bujuk Jingga meluluhkan Riyan.


“Maafin aku beb. Aku gak mau ada laki-laki lain yang berani menatap kamu seperti itu.” Jawab Riyan lalu menjalankan mobilnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2