Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 115


__ADS_3

Fandi terbangun dari tidurnya. Ia mendengar ada suara berisik dari luar rumahnya. Fandi lalu bangkit dari tempat tidurnya hendak keluar dari kamar. Ia penasaran dan mencari tahu apa yang terjadi di luar rumahnya.


Betapa kagetnya Fandi mendapati Laura dengan pakaian yang sangat minim berjalan oleng hendak masuk ke dalam rumah.


“Rupanya dia mabuk dan pulang pagi sekarang.” Ujar Fandi mendengus.


Tak berapa lama Laura membuka pintu rumah dengan kunci yang ada padanya. Laura masuk ke dalam rumah dengan kondisi tubuh sedikit oleng. Tanpa Laura sadari Fandi telah berdiri di depannya.


“Auuww..” Laura meringis kesakitan tak sengaja menabrak Fandi. Fandi menatap sinis Laura.


“Eeh.. Fandi suamiku! Kamu kok sudah disini saja?” Lanjut Laura sembari tersenyum kecil melihat Fandi. Nada bicaranya tak beraturan ala-ala orang yang sedang teler.


‘Aku harus sabar menghadapi wanita ini.’ Gumam Fandi dalam hatinya.


“Kamu dari mana? Kenapa baru pulang?” Tanya Fandi mengernyitkan dahinya.


“Heheheee.. Aku semalaman happy sama teman-temanku. Kenapa memangnya? Apa kamu mau ikutan juga? Heheheee..” Jawab Laura mengacau.


“Sayangnya aku sama sekali tidak tertarik.” Balas Fandi.


“Heheheee..” Laura hanya menyeringai.

__ADS_1


“Sebaiknya segera ke kamarmu. Aku akan minta bu Yanti membawakanmu segelas air lemon.” Fandi berlalu dari hadapan Laura.


“Fandi.” Sahut Laura sebelum akhirnya Laura jatuh ke Lantai.


Fandi berbalik, ia melihat tubuh Laura sudah tergelatak di lantai. Fandi pun akhirnya memutuskan untuk mengangkat tubuh istrinya itu ke kamar yang berada di lantai atas.


“Bau minuman.” Umpat Fandi. Ia mencoba menahan nafasnya dan memalingkan wajahnya dari Laura, karena tidak tahan dengan bau alkohol.


Fandi mengangkat tubuh Laura naik ke lantai atas. Ia membaringkan Laura di tempat tidur dan tidak lupa menyelimutinya.


“Aku benar-benar happy sayang.” Laura mengingau.


“Happy kenapa?” Tanya Fandi yang mulai penasaran.


‘Apa semalam dia bersama seorang pria?’ Pikir Fandi mencoba menerka maksud kata-kata Laura.


“Kamu semalaman bersama siapa?” Tanya Fandi menyelidik.


“Aku di apartemen bersama Sam.” Jawab Laura yang masih terpengaruh alkohol.


“Sam? Apa yang kamu lakukan dengan pria itu?” Kali ini nada Fandi sedikit meninggi.

__ADS_1


“I love you Sam. I am very happy tonight with you.” Balas Laura masih dengan senyuman bahagia di wajahnya.


Sejenak Fandi terdiam. Ia harus menelan pahit kenyataan bahwa istrinya telah melewati malam bersama pria lain. Fandi memang tidak mencintai Laura. Tapi sebagai seorang pria dan seorang suami, tentu saja ia merasa tidak di hargai oleh Laura yang sudah sah menjadi istrinya.


Fandi meninggalkan Laura yang sesekali masih saja mengingau. Fandi turun ke lantai bawah dan mencari bu Yanti.


“Bu, tolong bawakan Laura air lemon ke kamarnya!” Pinta Fandi lalu masuk ke kamarnya.


*****


Sesampainya di kamar Fandi


“Bagaimana mungkin seorang wanita yang sudah menikah melewati malam bersama pria lain?” Umpat Fandi yang sedari tadi menahan amarah di depan Laura.


“Aku sadar betul kami menikah tanpa rasa cinta. Tapi seharusnya sebagai seorang istri dia bisa lebih menghargai aku.” Fandi kemudian masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap, karena pagi itu ia akan pergi ke kampus tempat ia mendapatkan beasiswa.


Setelah selesai bersiap-siap, Fandi meraih ponselnya yang berada di meja nakas samping tempat tidurnya. Fandi teringat sahabatnya Riko. Biasanya Fandi selalu bercerita kepada Riko setiap kali ia punya masalah.


“Apa aku cerita sama Riko? Agar perasaanku sedikit lebih tenang.” Fandi kemudian mulai mengetik di layar ponselnya. Namun sesaat kemudian ia menghapusnya kembali.


“Tidak seharusnya aku menceritakan ini pada Riko. Lebih baik tidak usah!” Fandi menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

__ADS_1


*****


__ADS_2