
Selesai mandi, Fandi merebahkan tubuhnya di sebuah kasur lipat yang terbentang di lantai kamar ukuran 3 x 2 meter. Terlihat di dalam kamar yang sempit itu selain kasur lipat, juga ada lemari kecil berisi pakaian-pakaian Fandi, rak kecil, meja dan kursi untuknya belajar.
Setiap hari Fandi melakukan aktifitas rutin seperti ini. Bedanya sebelum mulai bersekolah Fandi bekerja dari pagi sampai malam. Semenjak ia sekolah, pemilik warung makan memperbolehkan Fandi untuk bekerja paruh waktu. Tentu saja dengan upah yang lebih kecil dari yang biasa ia terima.
Fandi tidak pernah mengeluh capek bahkan hampir tidak pernah sama sekali mengeluhkan hidupnya. Ia sepertinya sudah sangat ikhlas menerima takdirnya dan berusaha menjalaninya dengan baik. Yang ada dalam pikiran Fandi hanyalah sekolah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan beasiswa selanjutnya untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi nanti. Agar ia bisa menjadi pengusaha yang sukses seperti yang orang tuanya cita-citakan.
“Ibu, Ayah.. Fandi rindu kalian.” Air mata menetes di pipi Fandi. Ia begitu merindukan kedua orang tuanya. Namun seketika Fandi langsung menghapus air matanya. Ia teringat pesan ayahnya untuk tidak menjadi lelaki yang cengeng, kata ayah Fandi tidak boleh menangis, Fandi tidak boleh lemah karena laki-laki itu harus kuat dan tangguh. Pesan itulah yang ia terapkan dalam kehidupannya kini. Ia tidak pernah putus asa dan berkecil hati dengan nasibnya. Karena ia yakin suatu hari ia akan sukses bila ia bersungguh-sungguh.
Fandi kemudian terlelap. Wajahnya terlihat sangat kecapekan. Fandi sebenarnya laki-laki yang tampan. Hanya saja penampilannya sangat sederhana, tidak seperti teman-temannya yang kaya, itulah yang membuatnya kurang menarik. Andai saja ia memakai tas, sepatu, jam tangan dan ponsel yang mahal mungkin akan lain cerita.
__ADS_1
*****
“Jingga.” Suara Fandi terdengar seperti memanggil nama Jingga. Ternyata kekagumannya pada gadis cantik itu membuatnya sampai mengingau memanggil namanya.
“Astagfirullah.” Fandi seketika duduk dan melihat di sekelilingnya. Ia tersenyum mengingat betapa indahnya mimpinya barusan.
“Andai aku bisa dekat dan mengenalnya.” Fandi masih saja tersenyum.
‘Jingga begitu manis dan sangat spesial. Jika aku mendekatinya, apa mungkin ia akan memandangku?’ Hatinya mulai berkecamuk. Sebentar ia merasa senang karena mengingat gadis pujaan hatinya itu. Sebentar lagi ia merasa malu merasa tidak tahu diri, karena berani memiliki perasaan lebih kepada gadis manis itu. Ia merasa sangat yakin Jingga tidak akan mungkin membalas perasaannya. Tapi ia juga tidak rela jika ada laki-laki lain yang lebih dulu mendekati Jingga.
__ADS_1
“Kenapa aku seperti ini?” Fandi memegangi kepalanya merasa sangat konyol memikirkan hal yang aneh baginya.
“Aku harus apa?” Lagi-lagi ia bergumam sendiri sambil memberantakkan rambutnya.
Malam itu Fandi merasa benar-benar bingung. Di satu sisi ia merasa tidak percaya diri untuk maju mendekati Jingga, karena ia merasa tidak selevel. Di satu sisi lagi ia tidak ingin putus asa memperjuangkan Jingga, gadis yang dalam sekejap telah menjadi cinta pertamanya.
“Apa aku benaran sedang jatuh cinta? Jantung berdebar. Kata orang itu pertanda jatuh cinta.” Fandi kembali tersenyum. Ekspresinya selalu berubah-ubah. Ia benar-benar seperti orang gila. Yang sebentar tersenyum, sebentar cemberut lagi. Jingga benar-benar telah berhasil membuatnya tergila-gila.
*****
__ADS_1