
3 hari di rawat di rumah sakit, kondisi Dirga sudah pulih. Dirga sudah tidak demam lagi. Dirga juga sudah sangat aktif lagi bergerak. Dirga tampak senang melihat kedekatan Jingga dan Fandi. Dirga bahkan terang-terangan menyampaikan keinginannya untuk memiliki papa seperti Fandi.
“Mama sama papa Fandi cocok sekali. Dirga mau punya papa seperti papa Fandi ma!” Dirga memeluk Fandi dari belakang. Fandi tersenyum mendengar keinginan anaknya itu.
“Dirga..” Jingga terlihat malu.
“Dirga benaran mau papa Fandi jadi papa Dirga?” Tanya Fandi menarik Dirga duduk dalam pangkuannya.
“Tentu saja Dirga mau. Papa Fandi baik. Papa Fandi sayang sekali sama Dirga.” Jawab Dirga tersenyum manja.
“Papa Fandi dan mama juga cocok. Papa Fandi ganteng, mama cantik. Jadi cocok.” Lanjut Dirga dengan polosnya.
“Dirganya mau. Bagaimana dengan mamanya? Apa mama Dirga mau sama papa?” Tanya Fandi lagi memancing Dirga.
“Pasti mau. Kan papa Fandi ganteng? Baik juga.” Jawab Dirga lagi mengangguk penuh keyakinan.
“Coba tanya mama dulu!” Balas Fandi. Fandi nampak bahagia melihat Dirga dan Jingga yang mulai ceria lagi.
__ADS_1
“Mama mau ya sama papa Fandi? Papa Fandi baik sekali. Papa Fandi gak pernah jahat dan marahin Dirga. Mau ya ma? Please?” Pinta Dirga dengan wajah penuh harap. Jingga seketika memeluk Dirga. Jingga tak menyangka kalau Dirga benar-benar sudah jatuh hati pada Fandi. Sampai-sampai Dirga ingin mereka bersatu.
“Iya sayang. Apapun yang Dirga minta mama pasti lakukan. Mama sayang sekali sama Dirga. Dan mama juga tahu papa Fandi juga sayang sekali sama Dirga.” Jawab Jingga memegang dagu Dirga dan menatap matanya.
“Horee.. Horee.. Horee..” Dirga melompat kegirangan. Fandi dan Jingga tersenyum bahagia menyaksikan kegembiraan Dirga.
*****
Di hari yang sama, Jingga pun sudah di nyatakan sembuh oleh dokter. Fandi keluar dari ruangan dokter dengan raut wajah yang gembira.
Di dalam kamarnya, Jingga bersama Dirga sedang asyik bercanda tawa. Dirga seolah tidak mengingat lagi kejadian buruk yang di alaminya dulu saat tinggal bersama Ferdinan. Meski begitu, Fandi masih khawatir dengan tumbuh kembang Dirga. Ia tidak mau anaknya mengalami trauma. Fandi dan Jingga sepakat untuk lebih fokus dengan perkembangan Dirga anak mereka.
“Horee.. Mama pulang, mama pulang..” Dirga kembali melompat kegirangan.
“Dokter bilang, kondisi kamu sudah pulih. Kamu cuma perlu hati-hati. Tidak boleh ada benturan lagi dan juga tidak boleh banyak pikiran lagi.” Fandi mulai mengingatkan Jingga untuk lebih hati-hati.
“Syukurlah kalau begitu.” Balas Jingga nampak lega.
__ADS_1
“Fandi, kosan yang dulu apakah masih ada yang kosong?” Tanya Jingga berharap.
“Kenapa?” Fandi heran mendengar pertanyaan Jingga.
“Aku dan Dirga tinggal disitu saja.” Jawab Jingga melirik Dirga.
“Mama kenapa kita tidak tinggal di hotel papa Fandi saja. Dirga senang tinggal disitu.” Timpal Dirga ikut menatap Jingga.
“Lebih baik kita tinggal di tempat mama yang lama saja sayang.” Jingga mencoba memberi pengertian pada Dirga.
“Kenapa Jingga?” Fandi ikut penasaran.
“Statusku masih istri orang. Aku tidak ingin timbul fitnah menjelang perceraian aku dan pak Ferdinan.” Jawab Jingga memberi pengertian pada Fandi.
“Untuk masalah itu, kamu jangan khawatir. Tidak akan ada fitnah. Mulai sekarang untuk tempat tinggal kamu dan Dirga biar aku yang menentukan. Aku harus menjamin keselamatan kamu dan Dirga."
Jingga hanya menanggapi ucapan Fandi dengan senyuman. Sama seperti dulu, Fandi selalu merasa bertanggung jawab pada dirinya.
__ADS_1
*****