Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 171


__ADS_3

Jingga menceritakan kepada Fandi bagaimana dirinya menjalani hidup setelah meninggalkan Fandi. Fandi terdiam mendengar cerita Jingga. Ia tidak menyangka wanita yang sangat ia cintai itu begitu menderitanya selama ini. Fandi menarik Jingga ke dalam pelukannya. Ia mendekap erat Jingga yang masih berusaha menahan tangisnya. Jingga yang tadinya tampak tenang menjadi larut dalam luka yang selama ini selalu terpendam.


“Hikss hikss hikss..” Jingga menangis terisak-isak. Fandi membiarkan Jingga meluapkan segalanya.


“Menangislah.. Menangislah Jingga. Aku tahu begitu berat yang kamu lalui selama ini.” Fandi membelai kepala Jingga yang berada dalam dekapannya.


“Hikss hikss hikss.. Fandi..” Jingga menengadahkan kepalanya menatap Fandi.


“Iya..” Fandi menatap mata sembab yang berada begitu dekat darinya.


“Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku.” Ucap Jingga lirih. Air mata Jingga masih mengalir deras di pipinya. Jingga begitu menyesali apa yang terjadi di masa lalu.


“Bukan kamu yang salah, tapi aku. Andai saja waktu itu aku membolehkanmu ikut, mungkin tidak akan pernah ada kesalahpahaman antara kita.” Balas Fandi meyakinkan Jingga kalau ia yang salah.

__ADS_1


“Tidak Fandi. Seharusnya aku lebih mempercayaimu. Setelah semua yang kita lalui bersama, aku masih saja meragukanmu.” Jingga tetap bersikeras menyalahkan dirinya.


“Sssttt... Jingga..” Fandi tersenyum sejenak. Jingga menatap mata Fandi dalam-dalam.


“Bukan kamu yang salah. Aku juga tidak salah. Yang salah adalah keadaan. Keadaan yang memisahkan kita. Namun sekarang takdir mempertemukan kita kembali. Aku yakin bukan hanya sekedar meluruskan kesalahpahaman dulu. Tapi untuk alasan yang lain. Aku yakin itu.” Lanjut Fandi. Jingga mendengarkan Fandi dengan serius.


“Maksudmu?” Tanya Jingga lagi.


“Aku ingin kita mulai dari awal lagi.” Jawab Fandi dengan penuh keyakinan.


“Iya. Aku mau kita bersatu kembali. Aku ingin mewujudkan semua impian kita dulu.” Lanjut Fandi. Matanya sama sekali tak berkedip menatap Jingga. Jingga merasa malu, ia kemudian menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.


“Kamu mau kan menikah denganku? Demi Dirga anak kita juga.” Fandi memegang dagu Jingga dan menatap matanya. Jingga hanya tersenyum sebelum akhirnya mengangguk menyetujui apa yang di katakan Fandi.

__ADS_1


Jingga kembali merebahkan kepalanya di dada Fandi. Jingga benar-benar merasa sangat nyaman. Untuk sesaat Jingga mulai melupakan kepiluannya.


“Fandi.. Sejujurnya aku takut sekali pada pak Ferdinan. Aku nekat pergi dari rumahnya, karena sudah tidak tahan lagi. Kalau cuma aku yang di maki dan di pukuli, aku masih bisa terima. Tapi dia sudah mulai berani memarahi Dirga bahkan memukuli Dirga.” Ujar Jingga. Fandi nampak geram mendengar cerita Jingga tentang Ferdinan yang berani memukuli Dirga.


“Kamu tenang saja Jingga. Aku tidak akan tinggal diam. Aku janji, Ferdinan akan menyesal karena telah berani memperlakukan kamu dan Dirga dengan buruk.” Balas Fandi meyakinkan Jingga.


"Tapi statusku masih istrinya. Aku takut pak Ferdinan tidak akan mau melepaskanku. Aku tidak mau kembali lagi ke rumah itu Fandi. Aku tidak mau di siksa lagi. Aku nekat pergi pun karena terakhir kali dia mau membunuhku.” Jingga kembali berlinangan air mata mengenang betapa buruknya Ferdinan memperlakukannya.


“Membunuh?” Fandi menghela nafasnya.


“Iya. Ferdinan mencoba mencekikku dan berkali-kali membenturkan kepalaku ke tembok. Aku tidak ingin lagi kembali kesana.” Jingga kembali ketakutan. Kekejaman Ferdinan sangat jelas dalam ingatan Jingga.


“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Menyentuhmu seujung kuku pun tidak akan aku biarkan Jingga.” Fandi membelai rambut Jingga kembali meyakinkan wanita itu agar tidak ada rasa ketakutan lagi.

__ADS_1


“Untuk semua hutang-hutangmu, aku akan melunasi semuanya. Aku tidak ingin Ferdinan begitu leluasa menghina kamu dan Dirga.” Lanjut Fandi.


*****


__ADS_2