Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 22


__ADS_3

“Mpus, kamu kenapa? Seperti sedang memikirkan sesuatu?” Windy yang sedari tadi diam menahan diri untuk bicara, akhirnya memberanikan diri juga untuk bertanya.


“Hhhmmm..” Jingga beberapa kali mencoba menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. Jingga mencoba untuk menenangkan hatinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Windy.


“Mpus, kamu baik-baik saja kan?” Windy kembali bertanya.


“Cing, Aku baik-baik saja.” Jingga tersenyum berat.


“Hanya saja saat ini aku merasa masih canggung. Aku masih butuh sedikit waktu lagi untuk beradaptasi dengan kehidupanku yang sekarang.” Jingga kembali tersenyum berat.


“Kamu yang sabar mpus. Aku tau ini berat. Tapi itulah namanya hidup mpus.” Ucapan Windy membuat Jingga tak kuasa menahan tangisnya. Jingga memeluk Windy sahabatnya. Air matanya kembali jatuh bercucuran.


Jingga berusaha menyeka air matanya. Ingin sekali rasanya berhenti menangis. Tapi apa yang saat ini ia alami tidak semua orang sanggup menerimanya. Belum hilang rasa sedihnya karena kehilangan kedua orang tuanya, sekarang Jingga harus kehilangan rumah beserta mobil peninggalan orang tuanya. Benar-benar cobaan yang berat dan harus ia hadapi seorang diri.


“Besok hari minggu, kita hangout yuk!” Ajak Windy. Sudah beberapa minggu ini mereka tidak pernah keluar. Windy sudah rindu dengan suara tawa sahabatnya itu


“Aku males cing.” Jingga membaringkan tubuhnya ke ranjang.

__ADS_1


“Pokoknya besok kita keluar TITIK!!!” Windy berdiri dari ranjang dan meninggalkan kamar dengan tersenyum.


Jingga ikut tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Jingga tahu persis bagaimana Windy sahabatnya. Windy tidak ingin melihatnya terlalu lama larut dalam kesedihan. Jingga selalu berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Kembali menjalani hidupnya lagi seperti biasa.


*****


Keesokkan harinya


“Mpus, bagus gak?” Tanya Windy yang sedang mencoba sebuah sepatu.


“Aku bayar ke kasir dulu ya mpus.” Windy kemudian menuju kasir.


‘Aku harus segera lulus sekolah agar bisa kerja cari duit. Aku gak mau terus-terusan menyusahkan keluarga Windy.’ Gumam Jingga dalam hatinya. Jingga merasa tidak sabar ingin segera lulus dari sekolah dan mulai mencari pekerjaan. Jingga tidak lagi berniat untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi, karena tidak memiliki biaya.


“Mpus, ayo kita duduk di cafe tempat biasa kita makan ice cream.” Ajak Windy setelah selesai membayar belanjaannya.


“Haammm.. Ayo! Aku udah gak sabar lagi.” Jingga menunjukkan ekspresi menjilati bibirnya saking maunya makan ice cream.

__ADS_1


Mereka masuk ke sebuah cafe di lantai 4. Jingga kemudian duduk, sedangkan Windy meletakkan berang belanjaannya dan pergi ke toilet. Jingga mengecek ponselnya melihat apakah ada pesan masuk atau panggilan untukknya.


‘Udah beberapa hari ponsel ini gak pernah berdering lagi.’ Jingga kembali mengecek ponselnya.


“Nunggu telepon siapa?” Tanya Windy mengagetkan Jingga.


“Ee..enggak ada cing.” Jingga terkejut tiba-tiba Windy sudah berada di sebelahnya lagi.


“Ooh iya.. Bagaimana Fiki? Apa sudah ada kabar?” Windy bertanya seolah tahu kalau Jingga sedang memikirkan Fiki yang tidak ada lagi kabarnya.


“Auu aah gelap!” Jingga memanyunkan bibirnya.


Mereka memesan ice cream lengkap dengan minuman dan cemilannya. Setelah menghabiskannya Windy berjalan ke kasir untuk membayar pesanan mereka. Saat hendak berbalik, Windy melihat Fiki sedang di gandeng seorang perempuan cantik. Setelahmembayar, Windy pun segera kembali ke meja tempat dimana Jingga masih duduk.


“Mpus, ada Fiki?” Windy berbisik sambil melirikkan matanya ke arah Fiki memberi kode kepada Jingga agar segera menoleh.


*****

__ADS_1


__ADS_2