Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 19


__ADS_3

Sementara Jingga sedang di periksa oleh dokter sekolah. Fiki menarik Fandi dan mendorong tubuhnya. Sonya dan Riko yang melihat kejadian itu spontan melerai Fiki yang hendak mendaratkan tinjunya ke wajah Fandi.


“Kakak apa-apaan ini?” Sonya menarik tangan Fiki yang hendak meninju Fandi.


“Adek, kamu diam saja. Kamu gak akan mengerti. Seenaknya saja dia menggendong Jingga.” Fiki mengeluarkan kekesalannya pada Fandi yang telah berani menggendong Jingga.


“Kak, Jingga itu pingsan. Dan Fandi mencoba untuk menolongnya.” Sonya mengingatkan kakaknya agar tidak menyalahkan Fandi.


“Kan bisa panggil kakak?” Lagi-lagi Fiki menjawab.


“Aku yang menyuruh Fandi untuk menggendong Jingga. Jingga itu dari pagi pucat kak, dia juga gak makan saat jam istirahat. Aku gak tega lihat dia lama-lama tergeletak di lantai. Seharusnya kakak yang malu, kakak kemana saja?” Sonya membela Fandi dan menyalahkan Fiki untuk semua yang terjadi saat itu.


“Huuff...” Fiki hanya bisa mendengus tidak bisa membela diri lagi. Karena memang sejak kematian orang tua Jingga, Fiki sudah jarang menghubungi Jingga.


“Bro, lu gak apa-apa kan bro?” Riko merangkul Fandi memastikan kalau Fandi belum sempat di pukul oleh Fiki.


“Gue gak apa-apa Rik.” Balas Fandi.


“Yuk bro! Kita ke kelas.” Riko menarik Fandi meninggalkan tempat itu agar tidak terjadi keributan lagi.

__ADS_1


Fiki merasa sangat marah di permalukan oleh adiknya sendiri di depan Fandi dan Riko. Fiki mengepalkan tangannya erat-erat.


“Bu dokter gimana Jingga?” Sonya menghampiri dokter yang baru saja keluar dari kamar UKS.


“Sepertinya Jingga harus kita bawa ke rumah sakit. Saya khawatir dia sangat lemah. Dan tekanan darahnya rendah sekali.” Dokter menjelaskan keadaan Jingga kepada Sonya dan Fiki.


Jingga memang sudah tidak makan dan tidur dengan teratur lagi sejak kematian orang tuanya.


*****


Jingga membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di sebuah ruangan berwarna putih. Jingga melihat di sekelilingnya tak ada siapapun. Jingga merasakan kepala dan tubuhnya sakit semua. Jingga melihat ada jarum infus yang menancap di punggung tangannya.


“Mpus..” Windy masuk perlahan menutup pintu.


“Cing, kamu disini?” Jingga heran dengan kehadiran Windy. Seingatnya tadi masih berada di sekolah.


“Fiki tadi telepon aku. Dia bilang kamu pingsan di sekolah dan mereka bawa kamu kesini.” Windy menjelaskan kronologi kenapa Jingga berada di rumah sakit itu.


“Hhhmmm..” Jingga menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan kasar.

__ADS_1


“Sekarang Fiki mana?” Tanya Jingga yang tidak melihat keberadaan Fiki di sekitarnya.


“Fiki dan adeknya balik ke sekolah sepertinya mpus.” Jawab Windy yang sedang memainkan ponselnya.


“Sudah lebih seminggu aku gak pernah bertemu dengan Fiki lagi. Entah kenapa ia mulai menjauh?” Tiba-tiba Jingga mengeluhkan Fiki yang akhir-akhir itu mulai menjauh darinya.


“Mungkin saja dia sibuk sama sekolahnya mpus. Kan dia kelas 12? Sudah, sudah.. Masalah itu gak usah terlalu kamu pikirin. Sekarang kamu istirahat saja.” Ujar Windy berusaha menenangkan Jingga agar tak lagi banyak pikiran.


“Terima kasih ya cing.” Jingga mengenggam tangan sahabatnya.


“Uppss.. Enak saja bilang terima kasih.” Balas Windy.


“Haahh.. Terus aku harus apa?” Jingga mengernyitkan dahinya.


“Pokoknya kamu harus banyak makan sekarang dan cepat sembuh, biar kita bisa nongki-nongki lagi.” Windy tertawa melihat raut wajah Jingga yang sangat serius.


“Prett..” Balas Jingga singkat disusul gelak tawanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2