Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 78


__ADS_3

Saat masuk ke dalam kamar Jingga, Fandi melihat kondisi kamar sangat berantakkan.


Fandi melihat figura foto mereka berdua pecah dan kacanya berserakan di lantai. Fandi menghampiri pecahan figura foto tersebut dan duduk di dekatnya. Fandi juga melihat ada banyak tetesan darah kering yang menempel di lantai.


“Jingga, apa yang kamu lakukan sayang?” Fandi menitikkan air matanya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Fandi sangat menyesali kelalaiannya menjaga perasaan Jingga. Fandi merasa hancur, ia sama sekali tidak ingin menyakiti hati kekasihnya itu.


Fandi membersihkan foto mereka dari serpihan kaca. Fandi memeluk foto tersebut dan larut dalam tangisannya. Fandi tidak pernah menangis lagi setelah orang tuanya meninggal. Ini adalah kali kedua ia menangis.


Kemudian Fandi melihat di sudut kamar ada ponsel Jingga yang tergeletak di lantai. Fandi lalu memungutnya. Ternyata ponsel itu telah hancur dan rusak. Lalu Fandi berdiri dan duduk di tepi tempat tidur. Fandi melihat sebuah amplop di atas meja yang terletak di samping tempat tidur Jingga. Ia segera membukanya, ternyata ada sehelai kertas di atas amplop tersebut.


Fandi membuka kertas yang ada di atas amplop. Seketika Fandi kembali menangis terisak membaca isinya. Ternyata isinya adalah surat perpisahan dari Jingga.


Fandi, maafkan aku!


Tidak usah lagi mencariku.


Aku sudah ikhlas.


Aku sudah memaafkan kesalahanmu.

__ADS_1


Aku tahu aku bukan perempuan yang layak untukmu.


Semoga kamu selalu bahagia.


Biarlah semua yang pernah kita lalui bersama hanya menjadi sebuah kenangan untukku.


Terima kasih karena telah membuat aku merasa sempurna beberapa bulan ini.


Terima kasih karena telah membuat aku bahagia.


Terima kasih juga karena telah memberi warna di hidupku.


Fandi menguatkan hatinya untuk membuka amplop yang juga berisi surat dari Jingga. Saat sedang mengambil surat yang ada di dalamnya, Fandi menemukan alat testpack yang menunjukkan 2 garis merah. Fandi bingung, lantas mulai membaca surat dari Jingga.


Selamat ulang tahun Fandiku.


Semoga panjang umur dan sehat selalu.


Aku berharap di hari yang istimewa bagimu ini, kamu bisa pegang komitmen untuk selalu mencintai aku seumur hidup kamu.


Maaf sayang, aku tidak punya kado untukmu.

__ADS_1


Tapi aku mau memberitahu kamu sesuatu yang jauh lebih istimewa dari kado.


Selamat Fandi kamu akan menjadi seorang PAPA.


“Jingga, kamu hamil sayang? Sebentar lagi kita akan punya anak. Kita pasti akan bahagia sayang. Setelah ini kita tidak akan terpisahkan lagi.” Ucap Fandi lirih menghapus air matanya.


Fandi sangat senang membaca isi surat itu. Ia tidak menyangka Jingga sedang mengandung buah cinta mereka. Fandi mulai bersemangat. Ia membersihkan kamar kos Jingga. Lalu bergegas keluar untuk mencari Jingga.


*****


Fandi berjalan kaki menuju warung tempat ia bekerja dan mengambil motornya. Setelah itu ia melajukan motornya kembali ke rumah Windy sepupu Jingga. Ia yakin akan menemukan informasi tentang keberadaan Jingga disana.


Setelah sampai di depan gerbang rumah Windy, Fandi masuk ke dalam dan mengetuk pintu. Ternyata Windy yang membukanya.


“Maaf Windy aku datang lagi. Tapi aku mohon sama kamu, tolong beri tahu aku dimana Jingga. Aku mohon.” Pinta Fandi memohon.


“Fandi, aku benar-benar tidak tahu Jingga dimana. Tapi kamu boleh titip pesan, siapa tahu nanti Jingga datang lagi kesini.” Jelas Windy meyakinkan Fandi kalau ia tidak berbohong.


Akhirnya Fandi percaya dan menitipkan nomor ponselnya pada Windy. Fandi kembali melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan rumah Windy. Namun ia tidak putus asa. Ia yakin Jingga hanya marah sebentar kepadanya. Setelah itu pasti mereka akan berbaikan lagi. Karena Fandi yakin Jingga tidak akan pergi meninggalkannya dalam kondisi sedang mengandung anak mereka.


*****

__ADS_1


__ADS_2