Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 131


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai ke kosan. Fandi turun dari mobil. Riko membantu Fandi menurunkan barang-barangnya.


“Terima kasih ya Rik. Biar gue saja yang angkat ke dalam.” Fandi meletakkan barang-barangnya di depan teras kamarnya.


“Aah.. Lu jangan bilang terima kasih. Lupa kalau gue sobat lu?” Timpal Riko.


“Heheheee.. Sorry Rik.” Balas Fandi cengengesan.


“Sekalian gue bantuin di dalam.” Riko mengangkat kembali barang-barang Fandi.


“Gak usah Rik. Lebih baik lu pulang, anak dan istri lu pasti sudah nungguin. Sudah malam juga. Yang ini biar giliran gue.” Fandi merasa tidak enak, karena terlalu sering merepotkan Riko.


“Okelah kalau begitu bro. Gue pamit ya!” Riko berpamitan dan masuk ke mobilnya.


Setelah mobil Riko jauh melaju, Fandi langsung menuju rumah mba Wati untuk meminta kunci kamarnya. Tidak lama setelah mengetuk pintu rumah, mba Wati pun keluar dari rumahnya.


“Fandi, pindah malam ini juga?” Tanya mba Wati sambil mengaruk tasnya untuk mencari kunci kamar Fandi.


“Iya mba.” Jawab Fandi.


“Untung siang tadi udah mba beresin. Ini kuncinya.” Mba Wati menyodorkan kunci kepada Fandi. Lalu Fandi mengambil kunci tersebut dari tangan mba Wati.

__ADS_1


“Terima kasih mba. Saya langsung masuk.” Ujar Fandi tersenyum ramah sembari berjalan menuju kamar kosnya.


Fandi kemudian membawa tas dan barang-barangnya masuk ke dalam kamar. Fandi mengamati sekeliling kamarnya sudah banyak perubahan. Letak furniturenya sudah tidak lagi sama. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Fandi memindahkan letak tempat tidur, lemari, meja dan furniture lainnya seperti awal ia dan Jingga menatanya dulu.


“Harusnya seperti ini.” Fandi tersenyum lega. Ia merasa sudah terlanjur nyaman dengan suasana kamar seperti dulu.


Fandi menyeka keringatnya. Ia lalu menyusun semua pakaiannya ke dalam lemari. Tidak lupa foto Jingga kembali ia pajang di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.


“Jingga.” Fandi tersenyum menatap foto Jingga sembari mengusapnya.


Fandi masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan badannya yang berkeringat setelah mengatur kembali letak furniture di kamar itu.


Setelah selesai mandi, Fandi mengambil pakaiannya dari dalam lemari lalu segera memakainya. Fandi mulai merasa lapar, ia kemudian berinisiatif untuk keluar mencari makan malam.


*****


“Fandi kan?” Sahut wanita itu dari mejanya.


“Iya.” Jawab Fandi berusaha mengenali siapa wanita itu.


Wanita tadi bangkit dari kursinya lalu mendekat menuju ke meja Fandi. Fandi tersenyum karena ia baru saja ingat siapa wanita itu.

__ADS_1


“Kak Nita.” Fandi tersenyum tak menyangka akan bertemu dengan rekannya dulu waktu magang di kantor pak Irwan.


“Kamu apa kabar Fandi?” Tanya Nita duduk di hadapan Fandi.


“Alhamdulillah aku baik. Kakak sendiri bagaimana kabarnya?” Jawab Fandi kemudian bertanya balik keadaan Nita.


“Aku juga baik. Kamu kenapa bisa ada disini? Bukannya kamu di Australia setelah menikah dengan anak bos. Heheheee..” Celetuk Nita tertawa kecil.


“Aku sekarang tinggal disana kak, di kosan mba Wati.” Fandi menunjuk arah kosannya.


“Masa’ kamu ngekos? Aku juga kos disana.” Nita menatap tak percaya. Seorang menantu konglomerat tinggal di kosan.


“Iya. Aku baru pindah malam ini.” Jelas Fandi.


“Oo.. Jangan bilang kalau kamu orang yang bikin aku harus pindah ke kamar lain?” Nita mengernyitkan dahinya penuh tanya.


'Berarti kak Nita wanita yang menempati kamarku dulu.' Pikir Fandi.


“Maaf maaf. Berarti kakak yang menempati kamarku dulu. Hehehee..” Jawab Fandi tertawa sungkan.


“Iya.” Jawab Nita masih dengan tersenyum.

__ADS_1


*****


__ADS_2