Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 128


__ADS_3

Sesampainya di kosan


Tok tok tok..


Mba Wati keluar dari rumahnya. Mba Wati terkejut melihat kedatangan Fandi. Ternyata mba Wati masih ingat betul dengan Fandi.


“Ini Fandi kan?” Tanya mba Wati tak percaya dengan kedatangan Fandi.


“Iya mba.” Fandi tersenyum mengiyakan tanya mba Wati.


“Apa kabar? Sudah lama tidak kesini. Kabarnya kamu sudah menikah dan tinggal di luar negeri.” Tanya mba Wati penasaran.


“Iya mba. Tapi kedatangan saya kemari untuk kembali tinggal disini.” Jawab Fandi seadanya.


Mba Wati tampak tak percaya. Karena setahu mba Wati, Fandi menikah dengan orang kaya.


“Aah.. Fandi bisa saja becandanya. Heheheee..” Celetuk mba Wati sembari tertawa kecil.


“Saya serius mba. Saya ingin tinggal disini untuk beberapa bulan ke depan. Apa ada kamar yang kosong?” Jelas Fandi dengan raut wajahnya yang serius.


“Oo.. begitu ya? Kalau kamar yang kosong ada. Kebetulan ada satu kamar yang kosong.” Mba Wati menunjuk kamar yang di maksud.

__ADS_1


“Kamar saya yang lama sudah ada yang menempati?” Tanya Fandi penasaran.


“Kamar yang di pojokkan sudah ada penghuninya, wanita. Tapi kalau Fandi mau kamar yang itu, bisa mba atur.” Jawab mba Wati meyakinkan Fandi jika ia bisa menempati kamarnya yang lama.


“Terima kasih mba. Saya sangat berharap bisa di kamar yang lama. Karena saya sudah sangat nyaman dengan kamar itu.” Balas Fandi tampak senang mendengar ucapan mba Wati.


“Sama-sama Fandi. Mba ngerti, kamarnya juga banyak sekali kenangan sewaktu bujangan dulu kan? Heheheee..” Mba Wati tertawa kecil. Fandi hanya membalas dengan senyuman.


“Kalau mba boleh tahu, Fandi kapan mau menempati kamar itu? Biar penghuninya yang sekarang bisa mba suruh pindah ke kamar lainnya.” Tanya mba Wati lagi.


“Insya Allah lusa saya mulai tinggal disini lagi mba.” Jawab Fandi mantap.


“Baiklah. Nanti mba bilangin sama penghuni yang sekarang biar besok bisa mba bersihkan dulu.” Ujar mba Wati.


“Mba hitung dulu ya!” Mba Wati mengambil uang dari tangan Fandi lalu menghitungnya.


“Ini untuk 2 bulan, mba terima ya! Terima kasih.” Mba Wati tersenyum lebar dengan uang di tangannya.


“Baiklah. Saya pamit dulu mba. Lusa saya datang lagi. Assalammualaikum.” Fandi berpamitan pada mba Wati sebelum akhirnya ia meninggalkan rumah mba Wati.


*****

__ADS_1


Sementara itu Riko menunggu di dalam mobil. Riko sedang asyik chat dengan Novi. Meskipun sudah menikah sikap alay Riko dan Novi tetap awet seperti awal mereka berpacaran dulu hingga sekarang.


“Rik.” Sahut Fandi masuk ke dalam mobil.


“Eeh.. Udah selesai bro?” Tanya Riko terkejut melihat Fandi sudah berada di dalam mobil.


“Udah Rik. Lusa baru gue pindahnya.” Jawab Fandi tersenyum senang.


“Lu kenapa kelihatannya senang?” Tanya Riko penasaran.


“Iya pastinya gue senang Rik. Karena kamar yang akan gue huni nanti adalah bekas kamar Jingga dulu.” Jawab Fandi kembali tersenyum.


“Jingga lagi, Jingga lagi.. Kapan lu bisa move on nya bro?” Celoteh Riko menggeleng.


“Aduh Rik. Gue juga gak yakin apa bisa move on dari Jingga. Heheheee..” Fandi cengengesan.


“Dari penerawangan gue sepertinya kecil kemungkinan lu bisa move on dari Jingga.” Timpal Riko dengan gaya sok seriusnya.


“Halaah.. Sejak kapan lu jadi paranormal bisa menerawang?” Tanya Fandi tersenyum sinis melihat tingkah Riko.


“Hahahaaa.. Melihat lu seperti ini, gak sulit untuk gue menebaknya. Hahahaaa..” Celetuk Riko tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


“Hahahaaa.. Bisa aja lu Rik!” Balas Fandi ikut tertawa.


*****


__ADS_2