Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 170


__ADS_3

Flashback (Jingga)


Jingga terbangun di sebuah ruangan yang nampak tak asing baginya. Jingga menyentuh dahinya yang terasa sakit.


“Kak Jingga sudah sadar?” Tanya Willy mendekati Jingga.


“Willy.. Aku kenapa?” Jingga masih menyentuh dahinya yang terasa sakit.


“Kak Jingga tadi pingsan. Aku terpaksa bawa ke kamarku.” Jawab Willy.


“Pingsan? Pak Ferdinan?” Jingga mulai gelagapan. Seingatnya tadi ia sedang di kamar bersama Ferdinan.


“Iya kak. Tadi kak Jingga pingsan. Tapi tenang saja! Daddy belum sempat ngapa-ngapain. Aku datang lebih dulu saat kak Jingga pingsan.” Jelas Willy menerangkan pada Jingga. Jingga tampak lega mendengar penjelasan Willy.


“Lalu pak Ferdinan?” Tanya Jingga penasaran.

__ADS_1


“Seperti biasa aku bertengkar lagi sama daddy.” Jawab Willy.


“Aku minta maaf Willy. Selalu saja karena diriku, kamu dan daddy bertengkar.” Jingga menunduk merasa bersalah.


“Bukan karena kak Jingga. Aku dan daddy memang dari dulu tidak pernah akur. Aku dan mommy dulunya juga sering di pukuli daddy. Karena sekarang aku sudah besar dan mulai muak dengan sikap daddy, makanya aku mulai membangkang padanya.” Willy menerangkan pada Jingga bagaimana Ferdinan dulunya juga sering bersikap kasar kepada Willy dan Hastari.


“Aku mengerti perasaanmu Willy. Aku salut sama kamu dan mommy mu. Kalian masih sanggup bertahan dengan sikap buruk pak Ferdinan.” Balas Jingga tersenyum kagum.


“Lantas kakak sendiri kenapa masih bertahan sejauh ini?” Tanya Willy penasaran. Jingga terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan Willy kepadanya.


“Aku ingin sekali pergi, tapi aku tidak punya tujuan. Aku dan Dirga tidak punya siapa-siapa lagi.” Jawab Jingga mulai lirih.


Jingga tersenyum mendengar perkataan Willy.


“Kalau aku boleh tahu, papa Dirga dimana?” Tanya Willy ragu-ragu.

__ADS_1


Seketika raut wajah Jingga berubah. Jingga kembali teringat Fandi dan semua kesalahannya di masa lalu. Jingga menarik nafasnya yang terasa berat, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Jingga berusaha tenang menghadapi pertanyaan yang sudah biasa di lontarkan orang-orang kepadanya.


“Aku dan Fandi papa Dirga tidak bisa bersatu. Dulu hanya karena sebuah kesalahpahaman aku meninggalkannya. Selama bertahun-tahun kami hidup terpisah tanpa saling berkabar. Sampai kemarin aku masih berpikir di khianati oleh Fandi. Tapi kenyataannya aku yang salah. Aku yang sudah salah paham padanya. Dia tidak pernah mengkhianatiku.” Jelas Jingga berusaha tampak tenang.


“Kenapa kakak tidak kembali padanya dan meminta maaf. Aku rasa kalau dia benar-benar mencintai kakak, dia pasti mau menerima kak Jingga kembali. Apalagi sekarang sudah ada Dirga.” Balas Willy mencoba memberi saran.


“Iya Willy. Tadinya aku juga berpikir seperti itu. Tapi hari ini aku dapat kabar kalau Fandi akan menikah.” Jingga kembali menghembuskan nafasnya mencoba menenangkan hatinya sendiri.


“Menikah? Tapi bukankah kak Jingga dan Dirga lebih berhak? Kenapa kak Jingga tidak mencegah pernikahan itu” Willy melontarkan banyak pertanyaan pada Jingga. Jingga hanya menanggapinya dengan senyuman.


“Tidak Willy. Aku tidak bisa bersikap egois. Aku tidak bisa merusak kesempatan Fandi untuk hidup bahagia.” Jawab Jingga berusaha tampak tenang, walau hatinya sebenarnya sangat pilu.


“Kali ini aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kak Jingga?” Willy mengernyitkan dahinya.


“Aku yang meninggalkannya. Dan aku juga sudah mengkhianatinya dengan menikahi pria lain. Aku sudah tidak berhak lagi mendapat kesempatan bersamanya. Mungkin ini karma untukku.” Jelas Jingga sebelum akhirnya meneteskan air matanya yang sudah tidak sanggup ia tahan.

__ADS_1


Willy hanya terdiam menyaksikan Jingga menangis. Willy tidak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan Jingga.


*****


__ADS_2