Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 88


__ADS_3

“Terima kasih ya Fandi. Sudah traktir makan enak siang ini. Heheheee..” Ujar Nita tersenyum.


“Ooh iya, aku hampir lupa. Thanks ya Fandi untuk traktirannya.” Lanjut Rizki seraya menepuk pundak Fandi.


“Iya, sama-sama. Sekali-kali gak apa-apalah. Hehehee..” Balas Fandi tertawa kecil.


“Aduuh.. Padahal rencananya kalau kamu udah kerja mau minta di traktir lagi. Hehehheee...” Celetuk Rizki tertawa.


“Dasar doyan gratis.” Timpal Nita mencibir Rizki.


Sesampainya di kantor, mereka kembali ke meja masing-masing dan melanjutkan pekerjaannya. Fandi berbenah file-file yang akan di serahkannya kepada manager serta berbenah barang-barang yang akan ia bawa pulang nanti. Karena besok Fandi sudah tidak datang lagi ke kantor hingga ia wisuda.


Setelah menyelesaikan tugasnya di perusahaan tempatnya magang, Fandi kemudian menelepon Riko.


“Hallo bro, ada apa?” Tanya Riko di ujung telepon.


“Lu sibuk gak Rik? Kalau gak sibuk kita ketemu di cafe biasa.” Ujar Fandi mengajak Riko. Fandi berniat mentraktir Riko makan dengan gaji yang baru saja ia terima.


“Okee.. Ini gue lagi di kampus. Lu tunggu gue di cafe aja langsung.” Balas Riko.


“Okee.. Gue otw ya.” Lanjut Fandi menutup teleponnya.

__ADS_1


Sebelum ke parkiran dan menemui Riko, Fandi ke toilet dulu untuk buang air. Fandi iseng ingin melihat berapa jumlah uang yang di berikan perusahaan itu untuknya. Fandi membuka kedua amplop dan menghitung jumlahnya. Ternyata..


“Totalnya lima belas juta rupiah.“ Ucap Fandi pelan melihat uang yang di pegangnya.


“Seumur-umur baru kali ini aku pegang uang sebanyak ini. Bertahun-tahun kerja baru bisa aku mengumpulkan uang sabanyak ini, tapi magang disini kurang dari 5 bulan langsung dapat. Lanjut Fandi.


Fandi menyimpan kembali uangnya di dalam amplop dan mengambil beberapa helai untuk keperluannya mentraktir Riko. Sejak Jingga meninggalkannya, Fandi setiap bulan selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk di tabung.


‘Andai kamu ada disini sayang. Lihat sekarang tabungan kita sudah banyak. Aku akan lebih giat lagi agar bisa membeli rumah untuk kamu Jingga.’ Gumam Fandi dalam hatinya.


*****


“Rik.” Sahut Fandi melambaikan tangannya ke arah Riko.


“Baru saja Rik.” Jawab Fandi singkat.


“By the way ada apa lu ajak ketemuan? Sepertinya lu lagi senang?” Tanya Riko penasaran. Karena dari tadi melihat raut wajah Fandi tampak senang.


“Tidak ada apa-apa Rik. Gue cuma mau traktir lu makan dan minum disini.” Jawab Fandi.


“Aduuhh.. Lu udah gajian ya bro? Heheheee.. Mau dong di traktir?” Celetuk Riko tertawa.

__ADS_1


“Iya Rik, gue habis gajian. Plus dapat bonus dan di tawarin kerja setelah lulus nanti.” Balas Fandi tersenyum.


“Waaww.. Selamat ya bro. Mantap lu! Belum lulus saja sudah di tawarin kerja, jadi gak pusing lagi mikirin cari kerja setelah lulus nanti.” Ujar Riko salut.


“Alhamdulillah Rik. Tapi gue harus lebih giat lagi Rik.” Balas Fandi.


“Semangat bro! Gue selalu suport lu.” Riko menepuk pundak Fandi bangga dengan pencapaian Fandi.


“Banyak gak dapat bonusnya bro?” Tanya Riko sedikit kepo.


“Lumayan lah Rik. Sama gaji magang gue selama kurang dari 5 bulan totalnya lima belas juta.” Jawab Fandi santai.


“Busyet! Banyak amat. Duit semua itu?” Tanya Riko membelalakkan matanya melotot pada Fandi.


“Ya duit semualah Rik. Masa’ rengginang? Hahahaaaa..” Jawab Fandi seraya tertawa melihat tingkah Riko.


“Kalau gue malah apes. Udah gak dapat gaji, gak di tawarin kerja lagi.” Ujar Riko sembari menepuk jidatnya.


“Sabar Rik. Kan dapat Novi? Hahahaaa...” Balas Fandi tertawa.


“Hahahaaaa...” Riko pun ikut tertawa mendengar lelucon Fandi yang masih garing.

__ADS_1


*****


__ADS_2