
Besoknya Fandi sudah bersiap-siap hendak ke cafe dimana tempat ia dan Riko akan bertemu. Fandi keluar dari kamarnya dan di ruang tengah bertemu dengan Laura.
“Kamu mau kemana sudah rapi sekali?” Tanya Laura melirik Fandi.
“Aku mau bertemu dengan sahabatku yang kebetulan juga pengacara yang akan mengurus proses perceraian kita.” Jawab Fandi antusias.
“Oo..” Balas Laura datar.
Fandi kemudian berlalu dari hadapan Laura tanpa bicara lagi. Ia memesan taksi online, karena memang Fandi belum memiliki kendaraan sendiri.
Tidak lama menunggu, akhirnya taksi online yang di pesan oleh Fandi datang. Fandi langsung masuk ke dalam mobil sembari membuka ponselnya hendak meenghubungi Riko.
“Hallo Rik, gue sedang di jalan. Lu udah jalan?” Tanya Fandi pada Riko.
“Udah bro. Gue juga lagi di jalan.” Jawab Riko.
Fandi menutup teleponnya. Fandi tampak sangat senang akhirnya ia bisa kembali lagi ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya selama 2 tahun di Australia. Selain senang bertemu dengan sahabatnya Riko, Fandi juga senang berharap bisa bertemu lagi dengan Jingga cinta pertamanya.
Setelah sampai di lobbi Mall, Fandi segera naik ke lantai 4 dimana cafe tempat ia dan Riko biasa nongkrong minum kopi.
__ADS_1
“Haii bro..” Riko melambaikan tangannya memberi isyarat kepada Fandi.
“Haii Rik..” Fandi segera mendekat lalu berpelukan dengan Riko.
“Waahh.. Lu semakin ganteng aja bro.” Celetuk Riko tersenyum.
“Lu bisa aja Rik. Lu juga semakin subur Rik. Heheheee..” Balas Fandi tertawa kecil.
“Hahahaaa.. Iya bro. Novi benar-benar terobsesi membuat gue semakin subur seperti ini bro.” Lanjut Riko sembari memegangi perutnya yang makin buncit.
“Syukurlah Rik. Bagaimana kabar Novi?” Tanya Fandi penasaran, karena selama 2 tahun Fandi tidak pernah sekalipun pulang ke Indonesia.
“Nama anak lu Rino kan? Sudah umur berapa?” Tanya Fandi lagi.
“Masih bayi bro. Umur 8 bulanan. Alhamdulillah bro. Gue semakin bahagia sejak kelahiran anak kami” Jawab Riko lagi.
“Gue ikut senang mendengarnya Rik.” Fandi ikut tersenyum.
“Gue prihatin sama rumah tangga lu bro. Apa lu gak berniat membatalkan keinginan lu untuk bercerai dengan Laura? Mungkin kalian bisa memperbaiki hubungan kalian.” Kali ini Riko yang bertanya pada Fandi. Riko tampak serius.
__ADS_1
“Tidak ada yang perlu di perbaiki Rik. Karena gue ataupun Laura tidak ada yang salah. Keadaan yang membuat kami tidak bisa bersama lagi.” Jelas Fandi.
“Sebagai sahabat gue selalu mendukung setiap keputusan yang lu ambil. Gue berharap setelah ini lu bisa mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik.” Lanjut Riko menepuk pundak Fandi.
“Lu memang sahabat terbaik gue.” Balas Fandi tersenyum pada sahabatnya itu.
Mereka kemudian memesan minuman. Seperti biasa pesanan mereka tidak pernah berubah, masih sama seperti beberapa tahun yang lalu terakhir mereka nongkrong.
“Ooh ya Rik.. Beberapa hari yang lalu gue mimpi Jingga. Setelah sekian lama.” Ujar Fandi menberitahukan mimpinya pada Riko.
“Lu mimpi apa bro?” Tanya Riko penasaran.
“Gue mimpi buruk. Gue mimpi Jingga melompat dari tebing yang sangat tinggi, dalam mimpi itu Jingga bilang ingin menyusul gue yang berada di bawah tebing.” Jawab Fandi mengingat kembali mimpinya.
“Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Jingga bro.” Balas Riko menenangkan Fandi yang tampak khawatir.
“Amin. Apa lu dapat kabar lagi tentang Jingga?” Tanya Fandi kali ini sangat penasaran. Fandi berharap Riko memiliki informasi sedikit mengenai Jingga sekarang.
“Gue gak pernah mendengar kabar Jingga lagi bro. Di akun sosmed suaminya pun gak pernah lagi upload foto terbaru mereka. Yang terakhir hanya yang waktu itu bro.” Jawab Riko seadanya.
__ADS_1
*****