
Flashback (Jingga)
Keesokkan paginya Jingga sudah bersiap-siap dengan seragam sekolahnya. Hari itu Jingga akan ke sekolah untuk mengambil ijazahnya. Sebelum ke sekolah, Jingga datang ke rumah Windy sepupunya untuk minta di temani mengambil ijazah.
“Windy ada mba?” Tanya Jingga pada mba Ratmi pembantu di rumah Windy.
“Ada non. Silahkan masuk!” Mba Ratmi mempersilahkan Jingga masuk ke dalam rumah.
“Jingga disini saja mba. Tolong panggil Windy ya mba bilang kalau Jingga disini.” Jingga tampak enggan masuk lagi ke dalam rumah itu setelah dirinya di usir oleh mamanya Windy.
Tidak beberapa lama kemudian, Windy keluar dari rumahnya. Windy terkejut dengan kedatangan Jingga. Seketika Windy memeluk Jingga, karena sudah lama tidak bertemu.
“Kamu kok gak pernah kesini lagi mpus?” Tanya Windy memanyunkan bibirnya meminta penjelasan dari Jingga.
“Aku malu cing. Tante Lisa sudah mengusirku gara-gara malam itu.” Jawab Jingga seadanya.
“Aku juga sudah menjelaskan sama mama dan papa, tapi kamu tahu sendiri mereka tidak bisa di bantah.” Jelas Windy dengan wajah putus asanya.
“Ya sudah. Kita gak usah bahas itu lagi. Kamu temanin aku yuk!” Ajak Jingga bersemangat.
__ADS_1
“Kemana?” Tanya Windy mengangkat alisnya.
“Aku mau ambil ijazah di sekolah. Tapi malas pergi sendiri. Jadi kamu yang temani aku ya cing?” Jingga menunjukkan tampang memelasnya agar Windy mau menemaninya.
“Okee okee.. Tapi habis itu kita makan ice cream.” Ujar Windy memberi syarat pada Jingga.
“Beres!” Balas Jingga menyetujui.
Windy bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian. Setengah jam menunggu, akhirnya Windy selesai berganti pakaian dan berdandan.
“Ayo! Kita sama mobil mama saja, kebetulan mama sedang keluar negeri.” Windy menarik tangan Jingga menuju mobilnya.
*****
Sesampainya di sekolah, Jingga segera masuk ke dalam ruang tata usaha untuk melunasi semua biaya pengurusan ijazahnya. Tidak perlu menunggu lama, akhirnya Jingga memperoleh ijazahnya. Jingga datang sangat pagi sehingga belum banyak siswa yang datang untuk mengambil ijazah. Ia pun tidak bertemu dengan satupun teman karibnya.
Setelah mendapatkan ijazahnya, Jingga kembali ke mobil Windy. Windy yang sedari tadi hanya menunggu di dalam mobil tampak heran.
“Kok cepat mpus? Kamu gak temu kangen dulu sama teman-temanmu?” Tanya Windy menatap heran pada Jingga.
__ADS_1
“Tidak cing. Ayo kita makan ice cream!” Ajak Jingga terburu-buru.
Jingga dan Windy berhenti di sebuah cafe ice cream tidak jauh dari sekolah Jingga. Setelah memesan ice cream, mereka berbincang-bincang sambil tertawa. Windy sedari tadi memperhatikan pergelangan tangan Jingga yang banyak luka goresan. Windy mulai penasaran dan mulai menanyakannya pada Jingga.
“Mpus, tangan kamu kenapa banyak luka?” Tanya Windy menatap penuh rasa penasaran.
“Tidak apa-apa cing.” Jawab Jingga. Jingga enggan bercerita pada Windy tentang masalah yang sedang ia hadapi.
“Kamu bertengkar sama Fandi?” Tanya Windy lagi.
“Aku sama Fandi sudah berakhir cing.” Jawab Jingga datar.
“Kenapa bisa begitu? Bukankah kamu bilang kalian saling mencintai dan berniat ingin menikah. Kenapa tiba-tiba sudah berakhir saja?” Windy makin tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan hubungan sahabatnya itu.
“Aku gak tahu cing. Sepertinya kami tidak berjodoh.” Jingga menunduk menatap meja yang ada di depannya. Ia berusaha untuk tenang, meskipun tampak jelas kekalutan di hatinya.
Windy tidak lagi mau menanyakan masalah Jingga dengan Fandi. Windy mencoba menghibur Jingga. Beberapa kali Windy berhasil membuat Jingga tertawa dengan cerita lucunya. Setelah menyantap habis ice cream, mereka kembali ke rumah Windy. Jingga tidak mampir dan juga tidak mengizinkan Windy untuk mengantarnya pulang. Ia memilih untuk pulang ke rumah bu Romlah dengan menaiki angkutan umum.
*****
__ADS_1