Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 122


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Fandi masuk ke kamar pak Irwan dan Laura untuk mengambil beberapa pakaian mereka.


“Maaf tuan kalau saya lancang bertanya.” Ucap bu Yanti ragu-ragu.


“Tidak apa-apa bu. Ada apa?” Tanya Fandi heran.


“Bagaimana keadaan tuan besar?” Bu Yanti tampaknya juga khawatir dengan kondisi pak Irwan.


“Papa sudah melewati masa kritisnya bu. Sekarang ada di ruang perawatan bersama Laura.” Jawab Fandi menjelaskan keadaan pak Irwan pada bu Yanti.


“Syukurlah tuan. Semoga tuan besar segera sembuh.” Ujar bu Yanti mendoakan pak Irwan.


“Amin. Terima kasih bu.” Balas Fandi tersenyum.


“Apa tuan mau makan malam sekarang?” Tanya bu Yanti menghampiri Fandi yang baru saja keluar dari kamar pak Irwan.


“Iya bu. Saya makan sekarang.” Jawab Fandi.


Sementara bu Yanti menyiapkan hidangan makan malam, Fandi masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


Setelah selesai bersih-bersih dan berganti pakaian, Fandi segera keluar menuju ruang makan. Fandi sudah sangat merasa lapar. Selama di rumah sakit Fandi tidak sempat makan sesuatu, karena terlalu khawatir dengan kondisi mertuanya.

__ADS_1


“Ibu sekalian makan bersama saya disini.” Ajak Fandi.


“Terima kasih tuan.” Balas bu Yanti ragu-ragu mengiyakan ajakan Fandi untuk makan di meja yang sama.


Saat tengah menyantap makanan, tiba-tiba Fandi membahas rencana kepindahannya ke Indonesia pada bu Yanti.


“Bu, pekan depan saya akan kembali ke Indonesia.” Ujar Fandi pada bu Yanti.


“Maaf tuan kalau boleh saya tahu berapa lama tuan disana?” Tanya bu Yanti.


“Saya tidak akan kembali lagi kesini bu. Saya akan menetap di Indonesia.” Jawab Fandi tersenyum.


“Maksudnya tuan dan nona Laura pindah ke Indonesia?” Tanya bu Yanti terkejut mendengar jawaban dari Fandi.


“Bukankah sebaiknya nona Laura juga ikut ke Indonesia tuan? Sekali lagi maaf tuan saya terlalu banyak bicara.” Tanya bu Yanti lagi merasa sungkan dengan ucapannya.


“Tidak apa-apa bu. Saya akan menetap di Indonesia dan Laura akan tetap tinggal disini. Karena kami sudah memutuskan untuk berpisah. Laura berhak bahagia dengan pria pilihannya. Dan saya mendukung keputusannya itu.” Jawab Fandi.


“Tuan Fandi laki-laki baik, ibu yakin tuan pantas mendapatkan perempuan yang baik juga. Ibu mendoakan tuan segera mendapat pengganti nona Laura.” Ujar bu Yanti.


“Terima kasih bu.” Balas Fandi tersenyum.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Fandi menuju ruang keluarga untuk duduk sebentar. Fandi merasa sangat lelah dan mengantuk. Ia pun akhirnya tertidur di sofa.


*****


Ponsel Fandi berdering


Fandi terbangun mendengar nada dering ponselnya. Ia pun meraih ponselnya dan di layar tertulis nama ‘Laura’. Fandi segera mengangkat panggilan dari Laura.


“Hallo Laura, maaf aku ketiduran. Ada apa?” Tanya Fandi sambil menguap.


“Fandi.. Hiikss hikss..” Laura menangis terisak-isak. Fandi bingung mendengar Laura yang terus menangis tanpa menjelaskan apa-apa.


“Kamu kenapa Laura? Papa baik-baik saja kan?” Tanya Fandi bingung.


“Hiks hiks hiks.. Papa Fandi, papa. Hiks hiks hiks..” Fandi masih saja terus menangis. Fandi tidak mengerti maksud Laura.


“Papa kenapa Laura?” Tanya Fandi lagi. Kali ini nada suara Fandi agak meninggi.


“Fandi, papaku. Hiks hiks hiks..” Lagi-lagi Laura menjawab rasa penasaran Fandi dengan tangisannya.


“Baik Laura. Aku akan segera kesana sekarang.” Ujar Fandi lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


Fandi bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Tak lama Fandi mengambil kunci mobil berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil. Fandi menuju rumah sakit dengan mengebut.


*****


__ADS_2