Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 55


__ADS_3

Sepulang sekolah Fandi langsung mengantar Jingga ke kosannya. Setelah berpamitan Fandi bergegas ke warung dan berganti pakaian untuk mulai bekerja. Tidak lupa Fandi menyempatkan mengantar makan siang untuk Jingga.


“Kamu jangan telat makan.” Ucap Fandi menyerahkan kantong berisi bungkusan nasi.


“Fandi.” Sahut Jingga mengejar Fandi keluar.


“Ada apa?” Tanya Fandi heran.


“Aku belum tahu nomor ponsel kamu.” Jawab Jingga.


“08236789XXXX” Jawab Fandi sambil menghidupkan mesin motornya.


“Hati-hati.” Seru Jingga saat motor Fandi sudah berlalu.


Jingga masuk ke dalam kamarnya. Kemudian bersandar di tempat tidurnya memegangi ponsel. Di lihatnya nomor ponsel Fandi. Awalnya Jingga menyimpan nomor itu dengan menulis nama Fandi. Sejenak ia berpikir dan menambahkan kata “ku” di belakang nama Fandi.


Fandiku


Selesai memakan makanan yang di bawakan Fandi. Jingga kembali mengambil ponselnya. Ia ingin sekali mengabari Fandi dan menanyakan apakah Fandi juga sudah makan. Ia kemudian mengetik pesan.


Sayang, aku baru selesai makan. Kamu jangan lupa makan :)


Tak lama kemudian ponsel Jingga pun berbunyi. Jingga membuka ponselnya ternyata ada pesan masuk dan di lihatnya dari “Fandiku”. Segera Jingga membuka pesan itu.


Aku juga baru saja makan. Sayang kamu istirahatlah :)

__ADS_1


Jingga tersenyum membaca pesan dari Fandi. Seperti sedang kasmaran, Jingga senyum-senyum sendiri membayangkan Fandi. Ia tidak menyangka sikap manis Fandi akan membuatnya mabuk seperti ini. Sekarang yang ada di pikirannya selalu Fandi.


“Apa aku sudah jatuh cinta sama Fandi?” Tanya Jingga pada dirinya sendiri.


“Fandi.. Fandi.. Fandi..” Berkali-kali ia memanggil nama Fandi.


Jingga mencoba memejamkan matanya untuk tidur siang. Tapi sulit sekali rasanya. Pikirannya melayang memikirkan Fandi. Selalu tentang Fandi. Tak lama kemudian ponsel Jingga berdering. Jingga meraih ponselnya, mengangkat panggilan masuk tanpa melihat siapa penelepon.


“Hallo Jingga.” Suara laki-laki di balik telepon.


“Fandi?” Jawab Jingga tersenyum.


“Kenapa belum tidur? Panggil namaku terus?” Ucap Fandi. Seolah-olah ia tahu jika Jingga sedari tadi menyebut namanya.


“Kamu kok bisa tahu?” Tanya Jingga penasaran.


“Aku pikir kamu benaran tahu. Padahal aku memang tadi lagi panggil-panggil nama kamu. Tahu-tahunya kamu langsung telepon.” Jingga tersenyum mendengar ucapan Fandi. Jingga merasa malu karena terpancing oleh kata-kata Fandi.


“Iya, aku tahu. Aku disini merasakan kalau kamu lagi panggil namaku, makanya aku jadi kepikiran untuk telepon kamu.” Ujar Fandi.


“Ya ya ya.” Balas Jingga.


“Sekarang kamu istirahat siang ya.” Bujuk Fandi pada Jingga.


“Vitaminnya mana?” Pinta Jingga manja.

__ADS_1


“Ini aku kasih Vitamin C.” Balas Fandi.


“Kok Vitamin C?” Tanya Jingga cemberut.


“Vitamin Cium.” Balas Fandi merayu.


“Heheheheee...” Jingga tertawa geli.


“Mmmuuaacchh...” Suara ciuman Fandi terdengar begitu menggoda. Jingga merasa geli membayangkan jika itu ciuman yang nyata.


“Kalau yang sebenarnya kapan?” Tanya Jingga menggoda.


“Kamu yakin mau yang benarannya?” Fandi balik bertanya.


“ Ya mau, kenapa memangnya? Kamu gak mau?” Tanya Jingga lagi.


“Mustahil aku gak mau bibir itu. Bibir kamu itu menggoda sekali.” Jawab Fandi. Jingga merasa merinding mendengar ucapan Fandi.


“Kalau begitu kita ulangi lagi.” Bisik Jingga mulai nakal.


“Ulangi yang mana?” Tanya Fandi menahan tawanya.


“Ciumannya.” Jawab Jingga singkat.


“Aku takut saat mencium kamu, aku jadi sangat tidak terkendali dan pasti akan terjadi lagi.” Ujar Fandi dari ujung telepon.

__ADS_1


“Sudah, gak usah bahas lagi. Aku jadi mulai bergairah. Daa sayang.” Jingga menutup teleponnya. Jingga mulai merasa mengantuk dan akhirnya tertidur.


*****


__ADS_2