Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 114


__ADS_3

“Apa ada yang perlu di bicarakan lagi?” Tanya Fandi tanpa basa basi.


“Haahh?” Laura melongo mendengar pertanyaan Fandi.


“Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, silahkan! Jangan lupa tutup pintunya.” Lanjut Fandi.


“Sudah sangat cukup.” Balas Laura berbalik hendak keluar dari ruangan Fandi dengan wajah jengkelnya.


“Terima kasih.” Sahut Fandi seraya membuka layar laptopnya.


Laura keluar dari ruangan Fandi dengan perasaan marah sekaligus malu. Laura tak menyangka jika Fandi akan berani mengusirnya meskipun secara halus. Laura merasa telah di permalukan oleh Fandi.


‘Sial! Berani sekali dia.’ Gumam Laura dengan jengkelnya.


Laura kemudian keluar dari kantor tersebut menuju mobilnya. Dengan perasaan marah Laura menancap gas mobilnya mengebut menyusuri jalanan lalu menghentikan mobilnya di perjalanan. Laura meraih ponselnya dan mengeluarkannya dari dalam tas. Tidak lama setelah itu Laura berbicara dengan seseorang di teleponnya.


Sementara itu Fandi kembali fokus menyelesaikan pekerjaan tanpa sedikit pun merasa bersalah pada Laura.


Sejak di tinggal Jingga, Fandi seperti sudah mati rasa. Sikapnya sudah sangat dingin terhadap lawan jenis. Ia tidak pernah menghiraukan wanita lain. Ia juga tidak pernah peduli bila sikap dan kata-katanya kadang bisa menyakiti hati seorang wanita.

__ADS_1


*****


Sore harinya Fandi kembali ke rumahnya. Fandi langsung menuju kamar untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai Fandi membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Saat ingin memejamkan matanya, tiba-tiba wajah Jingga kembali hadir.


“Jingga Jingga Jingga..” Fandi menarik rambutnya kuat-kuat sembari menyebut nama Jingga berkali-kali.


Tok tok tok...


“Makan malam sudah siap tuan?” Ujar bu Yanti dari luar kamar Fandi.


“Iya bu, saya segera keluar.” Fandi kemudian bangkit dari tempat tidurnya hendak keluar kamar menuju ruang makan.


Bu Yanti yang sedari tadi sedang mempersiapkan hidangan di meja makan mulai heran melihat Fandi.


“Maaf tuan. Apa ada yang lain lagi yang tuan butuhkan?” Tanya bu Yanti.


“Tidak ada bu. Terima kasih.” Jawab Fandi berusaha tenang.


“Kalau begitu ibu kembali ke belakang.” Balas bu Yanti bergegas.

__ADS_1


“Laura dimana ya bu? Saya tidak melihatnya dari sore.” Tanya Fandi seraya menyantap makan malamnya.


“Non Laura belum pulang tuan.” Jawab bu Yanti ragu-ragu.


“Belum pulang.” Fandi mengangguk mengerti seperti sudah maklum dengan kebiasaan istrinya itu. Bu Yanti pun pergi meninggalkan Fandi yang sedang fokus menikmati makannya.


Tidak seperti biasa, setelah selesai makan Fandi langsung masuk ke kamarnya. Fandi membuka sebuah map yang berisi berkas-berkas yang di perlukan untuk persiapan kuliahnya. Besok Fandi akan datang ke kampus untuk mengurus berkas administrasi beasiswanya.


Malam pun semakin larut. Fandi mulai merasa mengantuk. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 11.00 PM. Ia kembali teringat dengan Laura.


“Apakah wanita itu sudah pulang?” Ujar Fandi penasaran.


Fandi lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke ruang tamu dan menyibak gorden jendela melihat keluar memastikan bila mobil Laura sudah terparkir di halaman rumah.


“Masih belum pulang? Istri macam apa ini?” Umpat Fandi mulai kesal dengan tingkah Laura.


Meski dalam keadaan marah, Fandi tak mau ambil pusing memikirkan Laura yang kini sudah menjadi istrinya itu. Ia kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk tidur.


*****

__ADS_1


__ADS_2