
Hari terakhir MOS
Dari kejauhan Fandi melihat Jingga yang terlihat cantik memakai baju kaos panjang kuning dan celana training hitam.
Fandi merasa makin jatuh hati pada Jingga. Jingga yang merasa sedang di perhatikan Fandi pun melambai-lambaikan tangannya bertanya ada apa. Fandi yang tengah melamun langsung tersadar. Ia malu dan menunduk. Jingga hanya tersenyum melihat tingkah Fandi yang tiba-tiba salah tingkah.
Semua siswa dan siswi baru sudah melaksanakan seluruh kegiatan. Sebelum acara penutup, seluruh siswa di pilih secara acak untuk melompat ke kolam renang. Fandi yang memang sama sekali tidak bisa berenang merasa gugup dan mencoba mundur dari barisan.
Robi kebetulan berada di belakang barisan melihat Fandi mencoba mundur. Robi langsung menariknya ke tepi kolam. Semua siswa terkejut dengan apa yang mereka lihat. Memang sedari tadi para senior bersikap sangat gahar kepada juniornya.
“Ayo lompat! Atau kamu gagal dalam kegiatan MOS tahun ini dan terpaksa mengulang tahun depan!” Ancam Robi menarik baju Fandi. Riko hanya tertunduk, karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong sahabatnya itu.
“Ta..tapi kak.” Fandi mulai terbata-bata. Di satu sisi ia tidak bisa berenang, tapi di sisi lain ia juga tidak mau mengulang MOS tahun depan.
__ADS_1
“CEPAT!!!!” Robi mulai berteriak dan tanpa pikir panjang Fandi melompat. Fandi ketakutan dan meminta tolong. Ia benar-benar tidak bisa berenang.
“Tidak ada yang boleh menolong. Saya mau kalian lihat contoh siswa yang tidak memenuhi standar di sekolah ini.” Robi kembali mengancam siswa yang lain agar tidak menolong Fandi.
Jingga yang melihat kejadian itu merasa tak perduli dengan ancaman Robi. Jingga tetap maju ke tepi kolam dan melompat. Yang ada di fikirannya saat itu hanya ingin menyelematkan seseorang. Padahal biasanya Jingga anak yang cukup patuh. Beberapa kali Jingga sering di kerjai oleh seniornya, tapi tak pernah sekalipun membangkang. Tapi kali ini..
Fandi merasa ada yang menarik tangannya dan membopongnya ke tepi kolam. Riko ikut membantu Jingga mengangkat Fandi keluar dari kolam. Robi merasa kesal melihat kejadian itu dan langsung membubarkan barisan.
“Sial!!!” Umpat Robi mengepalkan tangannya.
Tidak lama Fandi mulai sadar memuntahkan air dan terbatuk-batuk. Saat membuka mata ia kaget setengah mati melihat Jingga telah ada di depan matanya. Fandi spontan tertunduk dan diam seribu bahasa untuk sejenak.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Jingga menatap Fandi. Fandi masih tidak percaya dan melongo. Riko menyikut Fandi. Fandi langsung mengangguk memberi isyarat kalau ia baik-baik saja.
__ADS_1
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Jingga bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.
“Terima kasih.” Ucap Fandi. Jingga menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang sembari tersenyum.
“Iya, sama-sama.” Jingga melangkah meninggalkan Fandi dan Riko.
“Ini nyata atau mimpi Rik?” Tanya Fandi yang masih tidak percaya gadis pujaan hatinya sempat berada sangt dekat di depan matanya dan menanyakan keadaannya.
“Aahh.. ini nyata bro! Lu hampir mati tahu gara-gara si Robi.” Riko berceloteh dengan raut wajah kesal mengingat kejadian yang baru saja di alami Fandi. Namun di beberapa kata terakhir Riko memelankan suaranya. Riko takut jika seseorang yang sedang di bicarakan tiba-tiba muncul.
“Hhmmm..” Fandi menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan.
“Gue janji bro. Gue akan mengajari lu berenang biar lu gak jadi bulan-bulanan si onoh lagi.” Ucap Riko bersemangat sambil membantu sahabatnya untuk berdiri.
__ADS_1
*****