
Flashback (Jingga)
Ferdinan masuk ke ruang IGD dimana Jingga sedang terbaring. Raut wajah Jingga tampak begitu panik. Dokter dan perawat masih menunggu keputusan Jingga apakah ia bersedia untuk di operasi.
“Saya sudah dengar kondisi kandungan kamu dari dokter. Jadi bagaimana?” Ferdinan bicara sembari menatap Jingga yakin Jingga tak punya pilihan lagi.
“Maksud bapak apa?” Tanya Jingga heran.
“Saya akan membayarkan semua biaya operasi dan perawatan di rumah sakit ini. Ooh ya.. Tidak perlu khawatir kamu dan anakmu akan mendapat fasilitas terbaik, VVIP di rumah sakit ini.” Jawab Ferdinan tersenyum sinis.
“Terima kasih pak. Saya rela gaji saya di potong setiap bulannya untuk ini.” Balas Jingga dengan polosnya. Ia belum begitu paham maksud dan tujuan Ferdinan yang sebenarnya.
“No no no.. Kamu jangan senang dulu. Ada persyaratannya!” Ferdinan melanjutkan ucapannya.
“Syarat apa pak?” Tanya Jingga sembari mengelus perutnya yang masih terasa sakit.
__ADS_1
“Kamu harus mau jadi istri kedua saya.” Jawab Ferdinan tanpa basa basi.
Sesaat Jingga terdiam. Yang ada di fikirannya hanya ingin menyelamatkan anaknya. Ia tidak lagi memikirkan dirinya. Tanpa pikir panjang, akhirnya Jingga menyetujui syarat yang di ajukan oleh Ferdinan.
‘Mungkin inilah jalan yang harus aku tempuh. Aku tidak ingin kehilangan anakku.' Batin Jingga sebelum akhirnya mengangguk sebagai pertanda bahwa dirinya setuju dengan syarat yang di ajukan oleh Ferdinan.
*****
Jingga masuk ke ruang operasi tanpa di temani oleh suami atau keluarganya, karena ia hanya sebatang kara. Tidak punya suami ataupun keluarga lainnya. Jingga benar-benar seorang diri. Namun Jingga sama sekali tidak mengkhawatirkan kesendiriannya itu. Ia malah tampak bersukacita, karena sebentar lagi akan bertemu dengan buah hatinya. Dan setelah itu ia tidak akan pernah lagi sendiri.
Jingga melihat para perawat tengah sibuk mempersiapkan berbagai alat untuk proses operasi persalinannya nanti. Ia juga melihat seorang dokter yang cukup terkenal di kota itu.
Dokter akan segera melakukan anestesi regional pada Jingga. Jingga tidak tampak seperti orang yang gugup ataupun ketakutan. Jingga sangat tenang menghadapinya. Setelah Jingga di berikan suntikan epidural pada bagian tulang belakangnya, Jingga merasakan bagian tubuhnya dari dada hingga ujung kakinya mulai mati rasa. Dokter dan perawat mulai sibuk. Jingga tidak bisa melihat apa yang di lakukan para tim medis padanya. Karena ada tirai yang menutupi pandangannya ke arah bagian tubuhnya. Yang ia dengar hanyalah suara pembicaraan orang-orang di ruang itu dan suara peralatan.
Hampir satu jam berlalu, Jingga merasa mulai mengantuk. Ia kemudian memejamkan matanya, namun tiba-tiba suara tangisan bayi terdengar begitu nyaring. Jingga berusaha untuk membuka matanya, tapi terasa sangat berat. Hanya ada suara seorang perempuan yang berbicara di telinga Jingga.
__ADS_1
“Anaknya laki-laki ya bu.” Suara itu terdengar sayup-sayup sebelum akhirnya Jingga benar-benar tertidur.
Dua jam berlalu, Jingga mulai sadar. Jingga membuka matanya yang masih terasa berat secara perlahan. Ia melihat di sekitarnya tampak sepi tidak ada satupun orang di ruangan itu. Jingga memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
“Anakku.” Ujar Jingga memegangi perutnya yang sudah mulai rata.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat masuk ke dalam kamar untuk mengecek kondisi Jingga.
“Suster, anak saya mana?” Tanya Jingga menoleh ke arah perawat yang sedang mengecek cairan infusnya.
“Anak ibu ada di ruangan bayi.” Jawab perawat tersenyum ramah pada Jingga.
“Kapan saya bisa bersama anak saya?” Tanya Jingga lagi. Jingga sudah tidak sabar ingin melihat dan memeluk anaknya.
“Sabar ya bu. Beberapa jam lagi setelah kondisi ibu stabil, kami akan segera membawa bayi ibu kesini.” Jawab perawat memberi pengertian pada Jingga.
__ADS_1
“Ini makanan dan minuman untuk ibu. Satu jam lagi ibu baru boleh minum, tapi hanya boleh beberapa sendok dulu. Jangan langsung banyak ya bu! Kalau bubur ini ibu makan satu jam setelahnya lagi. Makannya juga secara bertahap ya bu! Jangan langsung banyak.” Perawat menjelaskan pada Jingga dengan sangat jelas. Jingga mengangguk mengerti dengan penjelasan sang perawat.
*****