
Sesampainya di pantai, kapal boat yang mereka sewa sudah menunggu mereka. Semua bergegas naik ke atas kapal dan meletakkan barangnya masing-masing. Seperti biasa, Lona selalu mencari-cari celah untuk bisa berdekatan dengan Fandi. Namun Novi tidak membiarkan Fandi dan Lona berduaan. Novi dan Riko selalu hadir di antara mereka berdua.
“Ooh ya Fandi, aku boleh nanya?” Lona bertanya sambil menatap mata Fandi. Namun Fandi malah melengah tak membalas tatapannya.
“Tanya apa?” Balas Fandi singkat.
“Kamu dan Jingga beneran masih pacaran?” Tanya Lona pada Fandi.
“Hhhmmm..” Fandi menghembuskan nafas lalu memejamkan matanya merasakan sejuknya angin di tengah laut.
“Fandi?” Sahut Lona.
“Iyaa, aku sama Jingga memang masih pacaran.” Jawab Fandi sengaja berbohong. Sejujurnya ia tidak mau memberi Lona kesempatan untuk mendekatinya.
“Terus kenapa Riko bilang sama aku kalau kamu itu jomblo? Riko sahabat kamu kan?” Tanya Lona memastikan. Lona sepertinya tidak mudah percaya dengan omongan Fandi.
__ADS_1
“Riko itu sahabat terbaik aku. Riko pasti tidak ingin melihat aku melewatkan masa mudaku dengan berpacaran jarak jauh sama Jingga.” Jawab Fandi santai.
“Ooh.. Tapi yang aku lihat dari matamu sepertinya hubungan kamu dan dia sedang tidak baik-baik saja?” Tanya Lona memancing Fandi untuk bercerita lebih.
“Apa kamu sedang ada masalah dengan pacarmu itu?” Tanya lona lagi.
“Tidak ada hubungan yang tidak menemukan masalah. Sama halnya dengan hubungan aku dan Jingga.” Jawab Fandi.
“Kalau masalahnya berat, kenapa tetap di pertahankan?” Pertanyaaan Lona mulai membuat Fandi gerah. Fandi sekilas melihat ke arah Lona.
“Seberat apapun masalahnya aku pasti akan selalu bertahan. Prinsipku, jatuh cinta hanya satu kali dan itu hanya pada Jingga.” Jawab Fandi sedikit ketus.
“Aku masih menunggu kapan benar-benar layak menjadi pendamping untuknya.” Jawab Fandi tersenyum berat.
“Kamu aneh Fandi. Layak yang seperti apa maksud kamu? Kamu lulusan terbaik dan sudah langsung di terima di perusahaan, kamu ingin lanjut kuliah pun juga sudah ada beasiswa yang menanti. Kamu bahkan bagiku sosok pria yang sangat sempurna.” Ujar Lona mencoba menarik simpatik Fandi dengan pujiannya.
__ADS_1
“Tapi menurutku semua itu belum cukup untuk memberikan Jingga kebahagiaan yang sempurna. Aku ingin menjadi benar-benar layak untuk seorang Jingga.” Balas Fandi.
“Hhmmm.. Jingga sangat beruntung!” Ujar Lona menatap Fandi. Lona mencoba menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari tersenyum berat pada Fandi.
“Bukan Jingga yang beruntung. Tapi aku yang sangat beruntung memilikinya. Dia sosok wanita yang sangat sempurna di mataku, tidak ada cela satu pun dari dirinya dan hatinya. Itu yang membuat aku begitu tergila-gila mencintainya.” Fandi menjelaskan kepada Lona sembari memejamkan matanya membayangkan wajah Jingga. Ia berkali-kali tersenyum mengingat kembali wajah indah yang membuatnya tak bisa berpaling itu.
“Apa kamu gak bisa memberi kesempatan wanita lain Fandi?” Tanya Lona memohon.
“Ruang di hatiku sudah di tempati oleh Jingga dan terkunci rapat untuk yang lain.” Jawab Fandi tanpa menoleh.
“Sebenarnya aku menyukai kamu Fandi. Aku ikut liburan bersama kalian juga karena aku ingin memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan kamu.” Ujar Lona memegang tangan Fandi. Seketika Fandi melihat ke arah Lona dan melepaskan tangannya dari genggaman Lona.
“Maaf Lona. Kamu wanita yang baik. Banyak pria di luar sana yang layak untukmu.” Jawab Fandi menolak dengan halus.
“Aku paham Fandi. Terima kasih atas kejujuranmu.” Balas Lona meninggalkan Fandi dan duduk di tempat yang lain.
__ADS_1
‘Bagiku hanya kamu pria yang layak Fandi.’ Gumam Lona dalam hatinya.
*****