
“Kamu egois Fandi. Kenapa kamu tidak memberiku satu kesempatan untuk lebih dekat denganmu? Kenapa hanya Jingga?” Tanya Sonya dengan nada memelas.
“Dengar Sonya. Aku tidak bermaksud membuat kamu kecewa atau menyakitimu. Aku jatuh cinta kepada Jingga jauh sebelum aku mengenal kamu. Jadi tolong mengertilah?” Jawab Fandi memberi pengertian pada Sonya. Ia mendorong Sonya dengan pelan agar tidak lagi mendekatinya.
“Aku tidak mengerti Fandi. Aku tidak akan pernah mengerti. Karena kamu juga tidak pernah mencoba untuk mengerti perasaanku.” Balas Sonya. Kali ini Sonya kembali mendekati dan mencoba memeluk Fandi.
“Sonya sadarlah. Tolong jangan begini!” Fandi beberapa kali mengelak dari pelukan Sonya. Namun Sonya tetap bersikeras berusaha menempelkan tubuhnya pada Fandi.
“Fandi!” Teriak Jingga. Jingga terbelalak menyaksikan Fandi dan Sonya berpelukan.
“Jingga.” Fandi mendorong tubuh Sonya. Ia terkejut melihat keberadaan Jingga di pintu toilet. Jingga tampak kesal dan meninggalkan Fandi yang masih berada di dalam toilet.
“Jingga, dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu lihat. Tolong berhenti!” Fandi mencoba menjelaskan kesalahpahaman itu kepada Jingga. Beberapa kali ia menghentikan langkah kaki Jingga.
“Kamu mau menjelaskan seperti apa Fandi? Aku gak menyangka kamu akan melakukan hal seperti ini sama aku.” Balas Jingga mendorong tubuh Fandi berkali-kali. Air matanya mengalir deras. Hatinya merasa sakit melihat kejadian yang baru saja disaksikannya.
__ADS_1
“Tolong Jingga percaya padaku! Kamu harus memberi aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini.” Ujar Fandi dengan suara agak keras. Fandi merasa bingung, Jingga tidak mau mendengarkan penjelasan darinya.
“Kamu jahat Fandi. Kamu jahat.” Balas Jingga lagi seraya menghapus air matanya dan berlari keluar dari gerbang sekolah.
Jingga memberhentikan sebuah taksi dan naik. Fandi yang melihat Jingga menaiki taksi terus berlari tanpa melihat ke kiri dan ke kanan.
Dan akhirnya....
“Praakkkkk...” Fandi di tabrak sebuah mobil minibus. Tubuhnya terpental ke jalanan. Darah mengucur dari kepalanya. Mobil minibus yang menabrak Fandi melarikan diri dan meninggalkan tubuh Fandi yang tergeletak di jalanan.
“Fandi..” Novi histeris melihat Fandi berlumuran darah.
“Ini semua gara-gara kamu Sonya.” Eka mendorong Sonya. Rani pu ikut menyalahkan Sonya. Mereka emosi melihat tingkah Sonya yang selalu saja mengganggu hubungan Fandi dan Jingga.
“Maafkan aku Fandi.” Sonya menangis menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Riko menyuruh Novi untuk mengambil mobilnya. Kemudian Riko mengangkat Fandi ke dalam mobilnya. Mereka melajukan mobilnya dengan sangat cepat, karena takut Fandi kehilangan banyak darah. Ibu Risma yang mengawal mereka menuju rumah sakit mencoba menghubungi ibu Romlah untuk memberi tahukan kejadian yang baru saja di alami oleh Fandi.
*****
Di rumah sakit, Fandi langsung di bawa ke ruang IGD. Fandi banyak kehilangan darah. Dokter menyarankan agar Riko mencarikan darah atau pendonor untuk Fandi.
“Pasien banyak kehilangan darah. Untuk itu tolong carikan darah dengan golongan B+.” Ujar dokter yang menangani Fandi.
“Golongan darah saya B+ dok, silahkan ambil darah saya dok!” Balas Riko. Riko sangat takut melihat kondisi sahabatnya. Riko tidak mau terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.
“Kalau begitu ayo ikut saya.” Dokter memberi instruksi agar Riko mengikutinya.
Akhirnya Riko yang mendonorkan darahnya untuk Fandi. Fandi telah melewati masa kritisnya setelah menerima donor darah dari Riko. Namun Fandi masih belum sadarkan diri. Semalaman hanya Riko yang menunggui Fandi di rumah sakit. Setelah membayar administrasi Fandi dan melihat sebentar, bu Romlah pulang ke rumahnya.
*****
__ADS_1