
Flashback (Jingga)
Beberapa kali Ferdinan memaksa untuk berhubungan int*m dengan Jingga, namun Jingga selalu menolak dengan alasan belum siap. Bahkan terkadang Jingga sampai berbohong kalau dirinya sedang tidak enak badan. Meski Jingga tahu yang di lakukannya salah. Tidak seharusnya ia menolak saat di ajak berhubungan oleh suaminya. Tapi hatinya tetap tidak bisa berbohong, ia masih sangat mencintai Fandi dan tidak mungkin bisa bercinta dengan orang lain lagi.
Setelah menikah, Ferdinan juga tidak pernah memperlakukan Jingga dengan baik. Beberapa kali Jingga di maki-maki bahkan sampai di pukuli. Ferdinan juga tidak pernah memberi Jingga uang belanja untuk kebutuhan pribadinya. Jingga hanya di perlakukan seperti pembantu oleh Ferdinan.
Ferdinan juga sering pulang malam dan kadang tidak pulang dalam beberapa hari. Jingga merasa jijik dan tidak sudi di sentuh oleh Ferdinan. Mengingat tabiat Ferdinan yang sering tidur dengan beberapa wanita yang berbeda setiap malamnya.
“Jingga, lu jangan sok cantik! Lu gak mau melayani gua gak apa-apa. Asal lu tahu banyak pel*cur di luar sana yang lebih cantik dari lu. Dan tentunya bisa memuaskan gua. Lu bisa apa? Cuma modal bikin anak har*am saja belagu.” Celetuk Ferdinan menghina Jingga.
Ferdinan memang seringkali menghina Jingga. Hastari dan Willy tak bisa berbuat banyak untuk membela Jingga. Kecuali kalau Ferdinan sudah mulai main tangan, Willy selalu pasang badan.
Jingga hanya bisa menangis masuk ke kamarnya setiap kali dirinya di hina oleh Ferdinan. Saat di kamar, Jingga menggendong Dirga. Jingga menatap dan mengecup bayinya itu berkali-kali.
“Sampai kapan kita akan bertahan disini nak? Mama ingin sekali membawamu pergi dari sini.” Jingga menatap wajah Dirga dalam-dalam. Setiap kali merasa sedih, wajah polos dan ocehan manja Dirga seketika membuat Jingga kembali tersenyum.
__ADS_1
*****
“Dasar pel*cur mur*han! Lu berani sama gua ya?” Ferdinan terus saja meneriaki dan memukuli Jingga.
Hastari hanya bisa diam sembari menggendong Dirga. Hastari tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Jingga, karena Hastari juga takut pada Ferdinan.
“Lu masih gak mau melayani gua? Dasar gak tahu diri. Lu mau makan enak aja di rumah ini ya..” Ferdinan masih saja terus memukul Jingga tanpa henti.
Wajah Jingga sudah lebam-lebam, hidungnya mengeluarkan darah, tangan dan kaki Jingga pun ikut di pukuli. Hastari tidak tega melihatnya, namun ia juga tidak bisa menolong Jingga.
“Daddy, apa-apaan ini?” Wiily berusaha menarik Ferdinan agar berhenti memukuli Jingga.
“Lu jangan ikut campur urusan gua!” Balas Ferdinan tetap bersikukuh memukuli Jingga.
Akhirnya Willy menarik paksa dan membanting Ferdinan ke sudut kamar. Ferdinan terbentur ke dinding kamar. Dengan sigap Willy segera membawa Jingga lari ke dalam kamarnya. Hastari pun mengikuti mereka. Willy kemudian mengunci pintu kamarnya. Ferdinan terus berteriak mengumpati mereka.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang terjadi kak?” Tanya Willy penasaran
Jingga hanya diam, ia memegangi luka lebam di wajahnya. Hastari kemudian menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya pada Willy.
“Seperti biasa Willy, kamu kan tahu gimana daddy? Beberapa hari ini gak pulang. Tiba-tiba pulang marah-marah dan tadinya maksa Jingga melayaninya. Karena Jingga gak mau akhirnya daddy kumat lagi.” Jelas Hastari pada Willy.
“Kak Jingga, daddy memang sangat temperamen kak. Kakak harus hati-hati! Mommy juga sering di pukuli, tapi belakangan aku gak pernah biarin daddy kasar lagi sama mommy. Kakak benar-benar harus hati-hati.” Willy mencoba memperingatkan Jingga agar waspada kepada Ferdinan yang memang memiliki sikap temperamen.
“Iya Willy, terima kasih.” Balas Jingga terus menahan rasa sakitnya.
“Satu lagi kak. Kakak jangan pernah mau melayani daddy! Daddy tidur dengan banyak wanita di luar sana, setiap malam selalu berganti wanita. Hubungan seperti itu beresiko tinggi terkena penyakit.” Lanjut Willy kembali memperingatkan Jingga.
“Kakak mengerti.” Jingga hanya mengangguk sembari mengambil Dirga dari gendongan Hastari.
*****
__ADS_1