Cinta Pertama Yang Terakhir

Cinta Pertama Yang Terakhir
BAB 101


__ADS_3

Sore harinya Fandi menelepon Riko dan mengajak untuk bertemu di cafe favorit mereka. Riko yang sedang sibuk mengurusi persiapan pertunangannya dengan Novi tetap memaksakan diri untuk bertemu dengan Fandi.


“Hei bro! Maaf. Gue agak lama. Tadi gue lagi fitting baju buat pertunangan minggu depan.” Ujar Riko langsung duduk di kursi.


“Maaf Rik. Gue gak tahu lu lagi sibuk mengurus pertunangan sama Novi.” Balas Fandi merasa tidak enak.


“Santai aja bro! Udah kelar kok. Cuma tadi gue antar Novi dulu. Makanya agak lama.” Imbuh Riko menepuk pundak Fandi.


“By the way ada apa bro? Sepertinya ada hal serius yang ingin lu sampaikan ke gue.” Tembak Riko spontan. Dari raut wajah Fandi, Riko langsung bisa menerkanya.


“Iya Rik. Begini. Barusan gue bertemu sama pak Irwan direktur perusahaan tempat gue akan bekerja. Lalu pak Irwan menawarkan gue untuk bekerja tapi juga tetap mengambil beasiswa di Sidney.”Ujar Fandi menjelaskan apa yang membuatnya menjadi dilema.


“Bagus donk bro. Lu bisa kuliah sekaligus kerja di perusahaan itu.” Imbuh Riko tersenyum.


“Belum selesai Rik. Selain itu beliau tidak hanya menyuruh gue bekerja di perusahaannya yang berada di Sidney, tapi juga menyuruh gue untuk mengelolanya. Dan saham setengahnya untuk gue Rik.” Lanjut Fandi menjelaskan lagi pada Riko.

__ADS_1


“Waaww.. Amazing bro! Bos lu ngasih lu saham setengah perusahaannya bro? Gila! Lu bisa jadi kaya mendadak bro. Lantas apa yang membuat lu bingung bro? Bukannya bagus? Saran gue mending lu terima tawaran itu. Sama sekali gak merugikan lu bro, malah menguntungkan. Semua malah bermimpi ketiban rezeki nomplok kayak gini. Heheheee...” Balas Riko bersemangat. Riko terus saja menyarankan Fandi untuk segera mengiyakan tawaran dari pak Irwan.


“Memang sangat menguntungkan bagi gue Rik. Tapi tidak menguntungkan untuk hubungan gue dan Jingga.” Ucap Fandi dengan nada lesu.


“Malah sebaliknya bro, sangat menguntungkan bro. Lu kan jadi tajir melintir, lu bisa bayar orang untuk mencari keberadaan Jingga. Setelah lu tahu Jingga dimana, tinggal lu temuin Jingga terus lu beri dia pengertian. Setelah Jingga memaafkan lu, lu nikahi Jingga. Habis itu lu bawa deh dia ke Australia. Beres kan?” Ujar Riko mencoba memberi jalan keluar pada Fandi untuk hubungannya dan Jingga.


“Tidak semudah itu Rik. Ini sangat rumit.” Imbuh Fandi menatap cangkir kopinya yang tinggal setengah.


“Rumit bagaimana bro? Coba lu jelaskan lagi secara detail, biar otak gue yang sedikit soak ini paham.” Celetuk Riko mengernyitkan dahinya.


“Gue bisa mendapatkan itu semua dengan syarat harus menikahi putri pak Irwan Rik.” Ucap Fandi menelungkupkan kepalanya di atas meja.


“Pasti cantik kan bro?” Tanya Riko penasaran.


“Gue belum ketemu Rik. Melihat fotonya saja belum. Dia tinggal di Sidney.” Jawab Fandi datar.

__ADS_1


“Namanya bro?” Tanya Riko lagi.


“Laura.” Jawab Fandi singkat.


“Dari namanya saja, gue yakin dia pasti sangat cantik dan pasti seorang gadis modern bro.” Imbuh Riko mengangguk-angguk.


“Aah.. Lu sok tahu Rik!” Balas Fandi menjitak kepala Riko.


“Iyaa bro. LAURA. Nama yang indah. Dan pasti orangnya juga indah bro.” Ujar Riko meyakinkan Fandi kalau tebakannya itu tidak akan meleset.


“Belum ada gadis yang lebih cantik dari Jingga bagi gue Rik. Yang hampir sama ada.” Fandi tersenyum melirik Riko.


“Siapa bro? Lona?” Tanya Riko penasaran.


“Novi.” Balas Fandi singkat.

__ADS_1


“Sial lu! Lama-lama lu bisa naksir beneran sama calon bini gue bro. Hahaaa... Istighfar.” Celoteh Riko sembari tertawa.


*****


__ADS_2