
Fandi berjalan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kosnya. Ia mengemas semua barang-barangnya termasuk foto kebersamaannya dan Jingga yang masih terpajang di atas meja.
“Jingga, aku minta maaf! Aku sudah menikah dengan wanita lain. Tapi jangan berpikir aku mengkhianati cinta kita. Aku masih sangat mencintaimu. Setelah semua ini berakhir, aku akan kembali mencarimu.” Ucap Fandi sembari memandang wajah Jingga yang tersenyum di dalam foto.
Setelah selesai berkemas. Fandi langsung menelepon Riko.
“Hallo Rik, Lu dimana?” Tanya Fandi.
“Hallo bro, Gue di rumah saja. Ada apa?” Jawab Riko di ujung teleponnya.
“Besok gue berangkat ke Sidney. Ayo kita ngopi sebentar!” Ajak Fandi.
“Okee bro. Lu dimana?” Tanya Riko antusias.
“Gue di kos lagi berkemas.” Jawab Fandi.
“Gue otw kosan lu. Tunggu disitu!” Balas Riko lalu menutup teleponnya.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian Riko sampai di kosan Fandi. Fandi telah menunggu kedatangan Riko di teras depan kamarnya.
“Bro!” Sahut Riko menepuk pundak Fandi.
“Rik.” Balas Fandi tersenyum.
“Sini gue bantuin! Barang-barang lu bawa ke mobil aja. Nanti gue yang antar ke hotel?” Ujar Riko hendak mengangkat barang-barang Fandi ke mobilnya.
“Thanks Rik. Sampai sekarang lu masih sohib gue yang paling top.” Seru Fandi memuji Riko sahabatnya.
“Gue gak nyangka bro besok kita gak akan bisa ngopi seperti ini.” Ujar Riko sembari menyeruput kopinya.
“Iya Rik. Gue juga gak menyangka akan pergi dan meninggalkan semua ini termasuk kenangan Jingga disini.” Balas Fandi datar.
“Gue senang lu mau mencoba untuk move on dan menjalani hidup seperti pria normal lainnya.” Riko tersenyum bahagia menatap Fandi. Riko tampak sangat bahagia karena Fandi akhirnya mau menikah juga meskipun pada akhirnya bukan dengan Jingga.
“Insya Allah Rik. Meskipun Jingga masih ada disini.” Fandi memegang dadanya yang terasa sesak setiap kali ia mengingat Jingga.
__ADS_1
“Bro, coba lu lihat ini!” Riko menyodorkan ponselnya pada Fandi. Betapa terkejutnya Fandi melihat foto yang baru saja di perlihatkan Riko.
“Jingga?” Suara Fandi tercekat. Ia tak percaya foto yang ia lihat itu adalah Jingga bersama suami dan anak-anaknya.
“Iya bro, itu Jingga lu! Gue juga kaget pas lihat postingan itu. Pria yang bersamanya itu adalah suaminya, namanya adalah Ferdinan. Ferdinan adalah seorang pengusaha sukses. Pas gue lihat foto itu, gue langsung melihat profil Ferdinan. Ternyata memang benar Jingga adalah istrinya.” Ujar Riko menjelaskan secara detail pada Fandi.
“Pria itu suami Jingga?” Suara Fandi terdengar parau.
“Iya bro, memang dia sudah berumur dan sama sekali tidak cocok dengan Jingga. Tapi tidak ada yang tidak mungkin karena uang bro. Jingga istri kedua dari Ferdinan.” Lanjut Riko menjelaskan.
“Hhhmmm...” Fandi menghela nafasnya dalam-dalam dan mencoba menghembuskannya perlahan. Fandi masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja di sampaikan oleh Riko sahabatnya.
“Lu lihat disitu ada 2 anak laki-laki. Yang besar itu adalah anak Ferdinan dengan istrinya yang pertama dan yang satu lagi adalah anak mereka.” Tunjuk Riko pada ponselnya yang masih di pegang oleh Fandi.
“Maaf bro. Gue sengaja beritahu ini sekarang, biar lu bisa membuka mata lu bro. Jingga memang cinta pertama lu dan biarlah dia hanya menjadi kenangan cinta pertama lu. Jangan sia-siakan hidup lu bro! Lu juga berhak bahagia. Maaf bro. Menurut gue Jingga gak layak mendapatkan cinta tulus dari lu, buktinya bagi Jingga uang adalah segala-galanya.” Lanjut Riko menepuk pundak Fandi.
*****
__ADS_1